Obesitas terjadi akibat penumpukan lemak dalam tubuh ketika lemak yang seharusnya terbakar justru mengendap di jaringan. Dalam obrolan kesehatan Pro 2, dr. Meta Mukhsinina Purnama menjelaskan bahwa kondisi ini dapat dikenali melalui pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT).
Menurutnya, hasil pengukuran IMT dapat menunjukkan kategori berat badan seseorang, mulai dari normal, overweight, hingga obesitas tingkat 1, 2, dan 3. Namun, obesitas yang dipengaruhi faktor genetik disebut cenderung lebih sulit diturunkan.
dr. Meta menuturkan, salah satu penyebab obesitas berasal dari pola tidur yang tidak teratur. Kebiasaan begadang dapat memengaruhi hormon sehingga memicu keinginan makan berlebih, termasuk konsumsi makanan atau minuman manis serta junk food.
Selain itu, gaya hidup sedentari juga berperan dalam meningkatkan risiko obesitas. Kurangnya aktivitas fisik membuat tubuh tidak membakar kalori secara optimal dan dapat menimbulkan rasa malas. Untuk pencegahan, dr. Meta menyarankan olahraga setidaknya satu hingga dua kali dalam sepekan.
Ia juga mengingatkan bahwa konsumsi junk food dan minuman manis secara berlebihan tidak hanya memicu overweight, tetapi juga berisiko menimbulkan diabetes. Saat diabetes terjadi, nafsu makan dapat meningkat akibat gangguan regulasi darah. Berat badan mungkin tidak berubah secara signifikan, tetapi kadar gula darah yang tinggi berpotensi merusak organ tubuh lainnya.
Saat ini, dr. Meta menyebut penyakit seperti diabetes semakin sering ditemukan pada remaja, terutama pada mereka yang memiliki kadar gula darah berlebihan. Kondisi tersebut dipicu pola makan, pola minum, serta pola aktivitas. Bahkan, remaja dengan berat badan normal tetap memiliki risiko mengalami diabetes.
Pencegahan obesitas, lanjutnya, dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat. Upaya menurunkan berat badan memerlukan komitmen pada pola makan yang sehat, diet yang benar, serta olahraga yang cukup. dr. Meta berpesan agar masyarakat menjaga gaya hidup sejak dini karena mencegah dinilai lebih baik daripada mengobati.

