Obesitas Lebih Terkait Pola Makan daripada Kurang Olahraga, Studi Lintas Populasi Menunjukkan

Obesitas Lebih Terkait Pola Makan daripada Kurang Olahraga, Studi Lintas Populasi Menunjukkan

Tingkat kelebihan berat badan dan obesitas terus meningkat dalam tiga dekade terakhir hingga disebut sebagai epidemi global. Pada 2021, lebih dari 2,1 miliar orang dewasa dan 493 juta anak muda berusia 5–24 tahun terdampak.

Laporan penelitian di The Lancet (Maret 2025) memperkirakan, pada 2050 lebih dari separuh orang dewasa dan hampir sepertiga anak-anak serta remaja akan mengalami obesitas. Proyeksi itu mencakup lebih dari 3,8 miliar orang dewasa dan 746 juta anak dan remaja.

Obesitas dikaitkan dengan peningkatan risiko masalah kesehatan serius, termasuk diabetes, beberapa jenis kanker, dan penyakit jantung. Penulis utama laporan tersebut, Profesor Emmanuela Gakidou dari Institute for Health Metrics and Evaluation, University of Washington, menyebut lonjakan obesitas sebagai “tragedi mendalam dan kegagalan sosial monumental”.

Tren di Indonesia

Di Indonesia, tren serupa juga terlihat. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas telah mencapai 37,8 persen. Sementara itu, survei nutrisi 2024 memperkirakan 68 juta orang dewasa mengalami obesitas, dan 20 persen anak usia 5–12 tahun mengalami kelebihan berat badan.

Perdebatan: pola makan atau kurang gerak?

Selama ini, terdapat perdebatan mengenai penyebab utama obesitas: apakah lebih dipicu pola makan atau kurangnya olahraga. Secara sederhana, kalori yang masuk lewat makanan semestinya dikeluarkan sebagai energi, baik melalui aktivitas fisik maupun aktivitas basal—proses tubuh yang juga membutuhkan energi seperti bernapas dan mencerna makanan.

Namun, dalam konteks obesitas, belum selalu jelas apakah masalah utamanya adalah konsumsi kalori yang terlalu tinggi, atau aktivitas yang tidak cukup untuk mengeluarkan kalori dalam jumlah wajar.

Studi baru: aktivitas tidak menjelaskan lonjakan obesitas

Sebuah studi yang terbit di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada Senin (14/7/2025) menelaah kontribusi pola makan dan olahraga terhadap obesitas. Amanda McGrosky dari Department of Evolutionary Anthropology, Duke University, bersama timnya menganalisis data 4.213 orang dewasa usia 18–60 tahun dari 34 populasi di enam benua.

Sampel penelitian mencakup kelompok dengan ragam gaya hidup, mulai dari pemburu-pengumpul, penggembala, petani, hingga masyarakat industri, dengan variasi pola makan dan tingkat aktivitas.

Peneliti mengukur beberapa komponen pengeluaran energi dan indikator obesitas, yakni:

  • Total energy expenditure (TEE) atau pengeluaran energi total
  • Activity energy expenditure (AEE) atau energi yang dikeluarkan lewat aktivitas (dihitung dari TEE dikurangi BEE)
  • Basal energy expenditure (BEE) atau energi basal
  • Dua ukuran obesitas: persentase lemak tubuh dan indeks massa tubuh (IMT)

Hasil kemudian dikelompokkan berdasarkan tingkat pembangunan ekonomi menggunakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) PBB, mengingat perbedaan gaya hidup dan pola makan pada berbagai tingkat pembangunan.

Temuan awal menunjukkan TEE, AEE, dan BEE lebih tinggi pada populasi yang lebih maju, bersamaan dengan massa tubuh, IMT, dan lemak tubuh yang juga lebih tinggi. Artinya, obesitas lebih umum di negara yang lebih maju secara ekonomi, meski pengeluaran energinya juga lebih besar.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat, peneliti menyesuaikan data dengan faktor ukuran tubuh (misalnya tinggi badan), serta variasi terkait usia dan jenis kelamin. Setelah penyesuaian itu, TEE dan BEE justru sedikit menurun sekitar 6–11 persen seiring perkembangan ekonomi. Sementara itu, AEE secara keseluruhan tetap lebih tinggi pada populasi yang lebih maju.

Dengan temuan tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa kurangnya olahraga bukan penjelasan utama tingginya IMT atau persentase lemak tubuh pada populasi yang lebih maju.

Makanan ultra-olahan menguat sebagai faktor pendorong

Penelitian ini juga menemukan bahwa pengeluaran energi total hanya berkorelasi lemah dengan obesitas, dan diperkirakan hanya menjelaskan sekitar 10 persen peningkatan insiden obesitas di negara yang lebih maju secara ekonomi.

Sebaliknya, peneliti menyoroti konsumsi makanan ultra-olahan (ultra-processed foods/UPF) yang lebih tinggi—misalnya daging olahan, makanan siap saji, dan kue camilan—sebagai faktor yang lebih kuat. Tim mencatat bahwa “persentase UPF dalam pola makan berkorelasi positif dengan persentase lemak tubuh”.

McGrosky menuliskan bahwa hiperpalatabilitas, kepadatan energi, komposisi nutrisi, dan tampilan UPF dapat mengganggu sinyal rasa kenyang dan mendorong konsumsi berlebihan. Pengolahan juga disebut dapat meningkatkan persentase kalori yang diserap tubuh, dibandingkan dikeluarkan.

Olahraga tetap penting, tetapi tidak menutupi pola makan buruk

Meski olahraga dinilai bukan penyebab utama obesitas, peneliti tetap menganjurkan aktivitas fisik teratur karena berperan dalam pencegahan penyakit dan menjaga kesehatan mental.

Namun, temuan studi ini menegaskan bahwa manfaat olahraga tidak otomatis menggantikan risiko dari pola konsumsi yang buruk. Penelitian Lorena S Pacheco dari Harvard TH Chan School of Public Health yang terbit di The American Journal of Clinical Nutrition (Februari 2024) menunjukkan, olahraga tidak menutupi risiko penyakit kardiovaskular akibat konsumsi minuman manis.

Dalam penelitian tersebut, Pacheco dan tim menganalisis dua kelompok berjumlah sekitar 100.000 orang dewasa yang diikuti selama sekitar 30 tahun. Mereka yang mengonsumsi minuman manis lebih dari dua kali seminggu memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit kardiovaskular, terlepas dari tingkat aktivitas fisik. Artinya, sekalipun aktivitas fisik 150 menit per minggu—durasi yang direkomendasikan—dapat membantu melindungi dari penyakit kardiovaskular, hal itu dinilai tidak cukup untuk melawan dampak buruk minuman manis.

Arah penanganan

Studi terkait obesitas dari Gakidou dan tim turut menekankan perlunya pengurangan kalori dari makanan ultra-olahan untuk membantu mengatasi krisis obesitas. Mereka juga menyoroti pentingnya riset lanjutan untuk memahami mengapa UPF tampak memengaruhi tubuh dengan cara yang khas.

Secara umum, obesitas tidak terjadi dalam semalam, melainkan berkembang dari pola makan tidak sehat—terutama yang didominasi makanan ultra-olahan. Bagi konsumen, perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana seperti membaca label dan membatasi konsumsi junk food, sembari mendorong kebijakan yang lebih melindungi kesehatan masyarakat.