Michelin Guide pada 1 Oktober 2026 resmi mengumumkan perluasan surveinya ke Phu Quoc. Dengan langkah ini, Phu Quoc menjadi destinasi keempat di Vietnam yang masuk cakupan penilaian Michelin, setelah Hanoi, Ho Chi Minh City, dan Da Nang.
Daftar Michelin Guide Vietnam 2027 diperkirakan diumumkan pada pertengahan 2027, bertepatan dengan persiapan Phu Quoc menjadi tuan rumah konferensi APEC 2027. Momentum tersebut dinilai membuka peluang baru bagi pulau yang selama ini dikenal lewat pantai, pulau-pulau kecil, dan jaringan resor, untuk mengangkat pengalaman bersantap sebagai alasan utama kunjungan wisatawan, bukan sekadar aktivitas pendamping saat liburan.
Phu Quoc disebut telah memiliki fondasi untuk mengembangkan wisata kuliner. Sejumlah hidangan dan produk lokal seperti kepiting Ham Ninh, salad ikan herring, landak laut, barakuda bakar, saus ikan, dan lada lekat dengan kehidupan pulau serta budaya desa nelayan.
Dalam pedoman Michelin, identitas unik Phu Quoc dibentuk oleh keterkaitannya dengan laut, saus ikan, lada, dan budaya desa nelayan. Kerangka ini sekaligus membuka peluang bagi bahan-bahan yang akrab bagi warga setempat untuk dilihat dari perspektif berbeda ketika diolah dan disajikan dalam konteks restoran profesional.
Saat ini, lanskap kuliner Phu Quoc digambarkan terbagi menjadi dua lapisan. Di satu sisi ada warung makan keluarga serta restoran tradisional di Duong Dong dan Ham Ninh dengan gaya masakan yang familiar dan tidak terlalu rumit. Di sisi lain, terdapat restoran-resoran di resor bintang lima, yang memadukan bahan lokal dengan teknik serta gaya memasak koki berpengalaman internasional.
Perpaduan tersebut memunculkan pendekatan baru. Home Pizza, misalnya, menggabungkan salad ikan herring, bebek H’Mong, atau durian ke dalam varian pizza. Di segmen kelas atas, bahan seperti salad ikan herring, cumi dengan telur ikan, atau ikan mackerel kering dapat disiapkan dengan teknik modern sambil tetap mempertahankan cerita di balik bahan-bahan lokalnya.
Jika mendapat pengakuan Michelin, perubahan ini diperkirakan dapat berlangsung lebih cepat. Hidangan lokal, ketika masuk ke rencana perjalanan wisatawan internasional, tidak lagi hanya menjadi “spesialisasi yang wajib dicoba”, melainkan bagian dari narasi sebuah destinasi.
Sejumlah nama yang disebut dalam perlombaan menuju Michelin 2027 juga menunjukkan bahwa peta kuliner Phu Quoc tidak hanya diisi restoran mewah. Di kategori restoran resor, Pink Pearl by Olivier E. di JW Marriott Phu Quoc Emerald Bay menyajikan masakan Prancis-Mediterania di rumah mewah bergaya Gatsby rancangan Bill Bensley, di bawah bimbingan koki berbintang Michelin, Olivier Elzer.
Di La Festa Phu Quoc - Curio Collection by Hilton, Seta berfokus pada masakan Kanton kontemporer dengan dim sum buatan tangan dan hidangan panggang, sementara Mare mengusung gaya Italia-Mediterania. Corallo di Premier Village Phu Quoc menggabungkan hidangan laut lokal dengan bahan impor. COCO Beach House di New World Phu Quoc menyajikan hidangan laut panggang ala Vietnam, sedangkan Herring Bar di Premier Residences Phu Quoc Emerald Bay menghadirkan salad ikan herring dan hidangan laut dalam suasana mewah.
Di sisi lain, tempat makan yang lebih sederhana seperti Bun Quay Kien Xay, Thanh Hung, atau Bun Ken Ut Luom dinilai mencerminkan identitas lokal. Bun Quay dikenal lewat mi segar, perkedel udang, perkedel ikan, serta saus celup buatan sendiri. Sementara Bun Ken memadukan ikan laut, santan, dan sayuran segar—pengalaman yang disebut sulit ditemukan di tempat lain.
Michelin juga membuka peluang bagi restoran dengan harga terjangkau untuk masuk ke dalam kategori Bib Gourmand atau Michelin Selected, selama memenuhi pedoman yang ditetapkan. Karena itu, daftar 2027 berpotensi membentuk peta kuliner berlapis di Phu Quoc, dari tempat makan lokal hingga restoran resor. Gambaran tersebut disebut dapat berkembang seiring beroperasinya Ruby Beach Boulevard dan hadirnya resor-resor baru seperti Rixos Phu Quoc.
Namun, masuknya Phu Quoc dalam survei Michelin juga membawa tantangan standardisasi. Penilaian anonim Michelin mengacu pada lima kriteria: kualitas bahan, teknik memasak, keselarasan rasa, kepribadian koki, dan konsistensi. Standar ini menuntut kesiapan tinggi dari sistem restoran di Phu Quoc, terutama bagi usaha keluarga atau skala kecil.
Tantangannya bukan mengubah semua tempat makan menjadi restoran kelas atas, melainkan meningkatkan kualitas bahan, metode pengolahan, kebersihan, pelayanan, dan konsistensi tanpa menghilangkan gaya makan dan memasak yang menjadi identitas pulau. Jika standardisasi diterapkan secara mekanis, hidangan lokal berisiko menjadi seragam di berbagai tempat. Sebaliknya, dengan menjaga bahan inti, cerita, dan cita rasa, Michelin dapat menjadi pendorong untuk meningkatkan nilai yang sudah ada dan menyampaikannya kepada pengunjung dengan bahasa yang lebih profesional.
Waktu peluncuran daftar Michelin untuk pertama kalinya di Phu Quoc juga dinilai memberi peluang khusus karena berdekatan dengan agenda APEC 2027. Momen ini memungkinkan Phu Quoc menampilkan dua sisi kuliner sekaligus: hidangan yang terkait dengan desa nelayan dan model restoran modern yang mampu melayani tamu internasional.
Pada akhirnya, nilai terbesar Michelin bagi Phu Quoc disebut bukan semata pada jumlah bintang yang mungkin diraih. Jika ekosistem kuliner dapat meningkat secara merata—dari tempat makan kasual hingga restoran kelas atas—Pulau Mutiara berpeluang mengubah makanan laut, saus ikan, lada, dan budaya maritimnya menjadi keunggulan kompetitif. Dengan begitu, wisatawan tidak hanya datang untuk bersantai dan menikmati resor, tetapi juga untuk menemukan serta menikmati cita rasa khas Phu Quoc.