Di tengah maraknya fenomena fear of missing out (FOMO), muncul konsep tandingan yang disebut joy of missing out (JOMO). Jika FOMO menggambarkan kecemasan saat merasa tertinggal kabar atau tren terbaru, JOMO menawarkan sudut pandang berbeda: ketenangan ketika seseorang tidak selalu terhubung dengan dunia digital.
Pakar komunikasi dan pengembangan masyarakat dari IPB University, Dr Annisa Utami Seminar, menjelaskan JOMO sebagai narasi alternatif dari FOMO yang mendorong individu memiliki kendali atas dirinya. Menurutnya, JOMO adalah kondisi ketika seseorang tidak merasa cemas saat melewatkan sesuatu, melainkan merasa memiliki otonomi untuk menentukan apa yang ingin dilihat atau tidak.
Annisa juga menyebut FOMO dan JOMO dapat muncul secara bersamaan dalam diri seseorang. FOMO umumnya ditandai dengan kecemasan, perasaan tertinggal, serta dorongan untuk terus membandingkan diri dengan orang lain melalui media sosial. Sementara itu, JOMO menghadirkan emosi yang lebih positif, seperti rasa tenang dan perasaan merdeka.
Ia menekankan bahwa JOMO bukan sekadar sikap santai, melainkan bentuk kesadaran bahwa seseorang tidak harus selalu terhubung dengan arus informasi digital yang bergerak sangat cepat.

