Nama Pattaya mendadak ramai dicari di Google.
Bukan karena isu politik atau bencana, melainkan karena potongan tayangan perjalanan selebriti yang berburu kuliner khas Thailand.
Dalam cuplikan itu, mereka berjalan-jalan di Pattaya.
Mereka bertemu penjual kudapan khas Thailand, lalu mencicipi makanan yang disebut mirip martabak.
Kesederhanaan adegan itulah yang justru memantik percakapan.
Orang bertanya, “Makanan apa itu?”
Yang lain menimpali, “Mirip martabak, tapi versi Thailand.”
Dalam hitungan jam, rasa penasaran berubah menjadi tren.
-000-
Isu yang Membuatnya Meledak: Rasa Penasaran Kolektif
Isu utamanya bukan sekadar jalan-jalan selebriti.
Isu utamanya adalah pertemuan antara budaya populer dan rasa lapar publik, yang selalu mudah menyala ketika ada objek yang bisa dibayangkan lewat lidah.
Kuliner punya keistimewaan: ia konkret.
Orang bisa membayangkan tekstur, aroma, dan bunyi renyahnya, meski hanya lewat layar.
Ketika tayangan menyebut “mirip martabak”, publik Indonesia langsung memiliki jangkar.
Martabak adalah memori kolektif.
Ia ada di sudut kota, di pinggir jalan, di malam yang panjang.
Perbandingan itu membuat kudapan Thailand terasa dekat, bukan asing.
Di titik inilah tren bekerja.
Pattaya menjadi kata kunci, sementara makanan “mirip martabak” menjadi pemantik emosi.
-000-
Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Menjadi Tren
Pertama, efek selebriti dan televisi.
Tayangan perjalanan memberi ilusi kedekatan, seolah penonton ikut berjalan, ikut memilih, lalu ikut menggigit.
Kedua, daya tarik perbandingan lintas budaya.
Ketika sesuatu disebut mirip martabak, publik terdorong menguji: apakah benar mirip, atau hanya mirip di permukaan?
Perdebatan kecil semacam itu membuat orang mencari, membagikan, dan mengulang.
Ketiga, kuliner adalah pintu masuk paling aman untuk membicarakan negara lain.
Di tengah berita yang sering keras, makanan menawarkan ruang netral, ruang yang membuat orang ingin tahu tanpa merasa terancam.
-000-
Dari Pattaya ke Indonesia: Mengapa Kita Selalu Terpikat
Tren ini tampak ringan, tetapi ia menyingkap pola yang lebih dalam.
Indonesia adalah bangsa yang menjadikan makanan sebagai bahasa sosial.
Kita menyapa dengan “sudah makan?”
Kita berdamai lewat meja, dan merayakan lewat piring.
Maka saat layar menampilkan kudapan Thailand, yang terjadi bukan sekadar konsumsi tontonan.
Yang terjadi adalah negosiasi identitas rasa.
Publik menimbang, apakah kudapan itu “kita” atau “mereka”.
Namun penilaian itu jarang berujung pada penolakan.
Seringnya berujung pada keinginan mencoba, lalu membandingkan.
-000-
Analisis Kontemplatif: Makanan sebagai Ingatan dan Hasrat
Ada alasan mengapa makanan cepat menjadi tren.
Makanan bekerja di wilayah yang sulit dicapai oleh argumen: ingatan.
Satu kata “martabak” bisa memanggil masa kecil, malam di teras, atau obrolan yang tak selesai.
Ketika kudapan Thailand didekatkan pada martabak, publik tidak hanya membayangkan rasa.
Publik membayangkan diri mereka sendiri.
Itu sebabnya tren kuliner sering terasa personal.
Orang tidak sekadar ingin tahu bentuknya.
Orang ingin memastikan, apakah pengalaman itu bisa menjadi pengalaman mereka juga.
-000-
Kaitan dengan Isu Besar Indonesia: Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Diplomasi Budaya
Di balik pencarian Google, ada isu besar yang relevan bagi Indonesia.
Pertama, pariwisata.
Ketika sebuah kota asing viral karena kuliner, itu menunjukkan betapa kuatnya makanan sebagai magnet perjalanan.
Indonesia punya modal serupa.
Dari rendang, pempek, sampai papeda, kita punya cerita yang bisa menggerakkan orang untuk datang.
Kedua, ekonomi kreatif.
Kudapan yang terlihat sederhana bisa menjadi produk bernilai tinggi jika dikemas sebagai pengalaman.
Di sinilah pelaku UMKM kuliner Indonesia bisa belajar: bukan hanya menjual rasa, tetapi menjual narasi.
Ketiga, diplomasi budaya.
Tayangan selebriti yang mencicipi makanan negara lain adalah bentuk diplomasi sehari-hari.
Ia membangun kedekatan tanpa pidato resmi.
-000-
Riset yang Relevan: Mengapa Media dan Makanan Mudah Menular
Untuk memahami tren ini, kita perlu kacamata yang lebih konseptual.
Dalam studi komunikasi, ada konsep agenda-setting.
Media tidak selalu memberi tahu kita apa yang harus dipikirkan, tetapi sering menentukan apa yang kita anggap penting untuk dibicarakan.
Ketika tayangan menyorot Pattaya dan kudapan khas, perhatian publik diarahkan ke sana.
Ada pula konsep social proof dalam psikologi sosial.
Ketika figur publik mencoba sesuatu, orang lain terdorong menilai itu layak dicoba.
Meski hanya lewat layar, tindakan mencicipi menjadi semacam rekomendasi implisit.
Selain itu, riset tentang pariwisata kuliner menekankan bahwa makanan adalah bagian dari pengalaman destinasi.
Orang bepergian bukan hanya untuk melihat tempat, tetapi untuk merasakan lokalitas.
Itu menjelaskan mengapa satu kudapan bisa mengangkat nama kota.
-000-
Referensi Luar Negeri yang Serupa: Ketika Tayangan Mengubah Peta Rasa
Fenomena semacam ini bukan hal baru di dunia.
Di berbagai negara, tayangan perjalanan dan kuliner kerap memicu lonjakan minat pada destinasi tertentu.
Ketika sebuah makanan lokal muncul di layar, publik global sering bereaksi sama: mencari, membandingkan, lalu mencoba.
Contohnya, banyak kota yang dikenal luas karena street food setelah sering tampil dalam program perjalanan internasional.
Polanya mirip dengan Pattaya.
Yang viral bukan hanya tempatnya, tetapi ritual membeli di kaki lima, berbincang singkat, lalu mencicipi.
Ritual itu terasa autentik.
Dan autentisitas adalah mata uang baru dalam pariwisata modern.
-000-
Yang Sering Terlewat: Risiko Salah Paham dalam Perbandingan “Mirip Martabak”
Namun ada sisi lain yang patut direnungkan.
Perbandingan “mirip martabak” memudahkan pemahaman, tetapi juga berisiko menyederhanakan.
Makanan punya konteks sejarah, bahan, dan cara makan.
Ketika semuanya diperas menjadi “mirip”, kita bisa kehilangan keunikan aslinya.
Di sisi lain, perbandingan juga bisa menjadi jembatan awal.
Ia membantu orang masuk sebelum memahami lebih jauh.
Tantangannya adalah menjaga rasa hormat pada perbedaan.
Mengakui kemiripan tanpa meniadakan identitas.
-000-
Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia dari Tren Ini
Pertama, kekuatan cerita lebih cepat menyebar daripada daftar menu.
Penjual kudapan dalam tayangan itu bukan sekadar pedagang.
Ia adalah karakter yang membuat makanan terasa hidup.
Indonesia bisa mengangkat pelaku kuliner sebagai pusat cerita.
Bukan hanya merek, tetapi manusia di balik wajan.
Kedua, pengalaman kaki lima punya daya tarik global.
Sering kali yang dicari wisatawan bukan restoran mewah, melainkan momen sederhana yang terasa jujur.
Ketiga, media perjalanan dapat menjadi etalase budaya.
Tetapi etalase harus diisi dengan narasi yang akurat dan tidak mengada-ada.
-000-
Rekomendasi Menanggapi Isu Ini dengan Dewasa
Pertama, nikmati tren sebagai pintu pengetahuan.
Jika penasaran, cari informasi yang memadai tentang kuliner Thailand, tanpa buru-buru menghakimi dari potongan tayangan.
Kedua, gunakan momen ini untuk memperkuat literasi media.
Ingat bahwa tayangan televisi adalah kurasi.
Ada bagian yang ditonjolkan, ada yang disisihkan.
Ketiga, jadikan tren ini cermin untuk pariwisata Indonesia.
Jika satu kudapan bisa mengangkat Pattaya, maka kuliner Nusantara juga bisa mengangkat kota-kota kita.
Namun caranya bukan dengan meniru, melainkan dengan merawat keaslian.
-000-
Penutup: Di Antara Layar, Lidah, dan Rasa Ingin Tahu
Tren Pattaya lahir dari adegan sederhana: selebriti berjalan, bertemu penjual, lalu mencicipi kudapan yang disebut mirip martabak.
Tetapi resonansinya jauh lebih luas.
Ia menunjukkan bagaimana budaya populer membentuk rasa ingin tahu, dan bagaimana makanan menjadi bahasa yang melintasi batas.
Di tengah dunia yang mudah terbelah oleh opini, kuliner menawarkan jalan lain.
Jalan yang dimulai dari pertanyaan paling manusiawi: rasanya seperti apa?
Jika ada cara menanggapi tren ini, itu adalah dengan tetap ingin tahu, tetap hormat, dan tetap kritis.
Karena pada akhirnya, perjalanan paling penting bukan hanya ke Pattaya atau ke kota mana pun.
Perjalanan paling penting adalah memperluas cara kita memahami orang lain, tanpa kehilangan pijakan pada diri sendiri.
“Rasa ingin tahu adalah awal dari pengertian, dan pengertian adalah awal dari kedekatan.”

