Makanan khas daerah dinilai menjadi salah satu cara paling sederhana untuk mengenal karakter sebuah tempat, mulai dari bahan, rasa, hingga cerita di baliknya. Gambaran ini turut tercermin dalam tren kuliner Asia Pasifik menuju 2027, sebagaimana dibahas dalam laporan The Rise of Place: Future of Food Asia Pacific 2027 dari Marriott International.
Laporan tersebut menyebut lokalisasi menjadi inti lanskap kuliner di kawasan Asia Pasifik. Para penikmat kuliner disebut semakin mencari konsep yang berakar pada budaya lokal, memiliki narasi yang kuat, serta dirancang sesuai karakter pasar setempat.
Seiring meningkatnya minat terhadap makanan lokal, keaslian hidangan khas bahkan disebut mengungguli pertimbangan value for money dalam memilih tempat makan. Value for money dimaknai sebagai kesepadanan antara manfaat yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan.
Secara regional, hidangan khas lokal menjadi kategori dengan peningkatan permintaan tamu terbesar, yakni 46 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan masakan Asia regional sebesar 14 persen dan masakan Barat sebesar 12 persen.
Selain itu, autentisitas menu juga menjadi faktor yang memengaruhi keputusan tamu. Sebanyak 69 persen properti menyebut atribut menu sebagai hal yang paling memengaruhi pilihan tamu. Laporan tersebut juga mencatat bahwa empat dari setiap lima properti di seluruh Asia menghadirkan bahan-bahan lokal baru sepanjang tahun terakhir, mulai dari sayuran Kyoto dan garam laut Kampot, hingga cabai lokal dan aneka rempah khas daerah.
Di Indonesia, laporan itu mencatat peningkatan permintaan terhadap hidangan khas lokal mencapai 67 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata regional 46 persen. Marriott International menilai, seiring kekayaan keanekaragaman hayati dan warisan kuliner, lanskap bersantap kontemporer di Indonesia bergerak ke arah baru yang dinilai progresif, terutama dengan meningkatnya minat terhadap santapan vegetarian dan vegan.
Salah satu contoh yang disoroti adalah Locavore NXT di Bali, yang menggunakan sayuran, kacang-kacangan, dan buah sebagai bagian utama dalam pengalaman fine dining premium dengan fokus pada bahan nabati.
Laporan itu juga mencatat, 85 persen responden menyebut autentisitas lokal sebagai atribut menu yang paling memengaruhi pilihan tamu di Indonesia. Menjelang 2027, laporan tersebut menilai dunia kuliner Indonesia mengarah pada penawaran yang lebih personal, ketika keinginan tamu dipahami secara lebih halus, bahan baku dipandu nilai budaya, dan keramahan khas lokal ditonjolkan dalam pengalaman bersantap.
Adapun laporan The Rise of Place: Future of Food Asia Pacific 2027 membahas tren kuliner di kawasan Asia Pasifik di luar China (APEC) untuk 2027 berdasarkan wawancara dengan sejumlah foodie influencer serta riset di jaringan hotel Marriott di kawasan tersebut. Data survei berasal dari tim F&B Marriott International di 284 properti pada 20 pasar Asia Pasifik, dan diselesaikan pada Juli 2026.