BERITA TERKINI
Kuliner Lokal Warnai Perayaan di Paroki Karot-Ruteng, Umat Hidupi Spirit “Lima Roti dan Dua Ikan”

Kuliner Lokal Warnai Perayaan di Paroki Karot-Ruteng, Umat Hidupi Spirit “Lima Roti dan Dua Ikan”

Manggarai—Perayaan 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus Asisi di Paroki St. Fransiskus Asisi Karot, Ruteng, berlanjut setelah Misa yang digelar di Lapangan Pong Toro, Minggu, 4 Oktober 2026. Umat tidak langsung pulang, melainkan berkumpul di sekitar lokasi untuk mengikuti pameran dan santap bersama kuliner lokal yang dibawa oleh setiap Komunitas Basis Gerejani (KBG).

Deretan meja di Lapangan Pong Toro dipenuhi aneka pangan sederhana, mulai dari ubi rebus, pisang, sayur lomak, beragam sayuran hasil kebun, hingga nasi kolo. Sajian tersebut disiapkan sesuai kemampuan masing-masing komunitas, sekaligus menjadi wujud kreativitas umat dalam memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan mereka.

Pameran kuliner lokal itu menjadi bagian dari rangkaian perayaan yang mengusung spirit “Lima Roti dan Dua Ikan”. Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi Karot, Pater Bovan Lelo, OFM, mengatakan perayaan sengaja dikemas sederhana menyesuaikan situasi dan kemampuan umat.

“Perayaan ini kita buat sederhana sesuai situasi. Umat tidak dituntut untuk menghadirkan sesuatu yang mewah. Setiap KBG membawa apa yang mereka miliki dan mampu siapkan, kemudian dibagikan bersama,” kata Pater Bovan.

Menurutnya, kesederhanaan justru menjadi kekuatan perayaan karena setiap umat memiliki ruang untuk mengambil bagian. “Tujuannya satu, supaya kita semua semakin bersaudara dan dapat merasakan kebersamaan satu dengan yang lain,” ujarnya.

Suasana kebersamaan terlihat setelah Misa. Lapangan Pong Toro berubah menjadi ruang perjumpaan, saat umat berjalan dari satu meja ke meja lain untuk melihat sajian, mencicipi makanan, dan berbincang dalam suasana akrab. Tidak ada sekat antara mereka yang membawa makanan dan yang menikmatinya.

Bagi Pater Bovan, suasana itu mencerminkan makna “Lima Roti dan Dua Ikan”. “Lima roti dan dua ikan itu bukan soal seberapa banyak yang kita punya. Yang penting adalah kemauan untuk berbagi apa yang kita miliki. Ketika yang sedikit itu kita bawa bersama dan kita bagikan, maka menjadi berkat bagi banyak orang,” katanya.

Ia menambahkan, semangat berbagi tersebut sejalan dengan teladan Santo Fransiskus Asisi yang hidup sederhana, membangun persaudaraan, dan memberi perhatian kepada mereka yang kecil serta tersingkir. “Fransiskus mengajarkan kita untuk hidup sederhana, menjadi saudara bagi semua dan berbagi dengan apa yang kita punya. Karena itu, apa yang kita lakukan hari ini juga menjadi bagian dari cara kita menghidupi semangat Fransiskus,” ujar Pater Bovan.

Semangat itu semakin terasa ketika umat duduk dan menikmati makanan bersama. Sedikit dari satu KBG dan sedikit dari KBG lain, ketika dikumpulkan, menghadirkan sukacita bersama tanpa tuntutan menyajikan makanan mahal atau mewah.

Ketua KBG St. Donatus Wilayah Betania, Virgilius Edy, menyebut seluruh hidangan merupakan hasil ide dan kreativitas masing-masing komunitas. “Semua hidangan ini murni lahir dari ide dan kreativitas masing-masing KBG,” ujarnya.

Melalui pameran kuliner tersebut, tema “Lima Roti dan Dua Ikan” tidak hanya menjadi slogan perayaan, tetapi diterjemahkan dalam praktik berbagi yang sederhana. Dari hasil kebun, makanan tradisional, hingga meja tempat umat berkumpul, semuanya menjadi bagian dari perayaan syukur sekaligus pengingat bahwa persaudaraan dapat tumbuh dari hal-hal kecil—dari sepiring makanan dan kemauan untuk berbagi.