Isu yang Membuatnya Tren
Pernyataan Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, tentang perlunya regulasi afirmatif bagi kuliner lokal mendadak ramai dibicarakan.
Isunya sederhana, tetapi menyentuh pengalaman banyak orang.
Di banyak pusat perbelanjaan besar, restoran khas Indonesia sering terasa “hanya satu dua”.
Sementara merek mancanegara tampak lebih dominan dan merata.
Erwan menyebut biaya sewa tinggi sebagai salah satu sebab pelaku lokal sulit bersaing dari sisi harga.
Pernyataan itu disampaikan saat pembukaan Info Franchise and Business Concept (IFBC) 2026 di Kota Bandung.
Dalam momen yang sama, Ketua Asosiasi Franchise Indonesia, Anang Sukandar, menekankan besarnya potensi kuliner daerah sebagai kekuatan ekspor.
Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri, menambahkan konteks besar.
Rasio kewirausahaan Indonesia disebut sekitar 3,29 persen dari total angkatan kerja.
Angka itu dinilai perlu naik hingga 10 persen sampai 12 persen agar Indonesia mampu menjadi negara maju.
Di titik ini, kuliner di mal bukan lagi urusan selera.
Ia berubah menjadi percakapan tentang akses, daya saing, dan arah pembangunan ekonomi.
-000-
Mengapa Isu Ini Meledak: Tiga Alasan
Pertama, isu ini dekat dengan keseharian publik urban.
Mal adalah ruang sosial, tempat keluarga makan, tempat anak muda berkumpul, dan tempat wisata singkat di akhir pekan.
Ketika pilihan kuliner terasa seragam, orang merasa kehilangan sesuatu yang akrab.
Yang hilang bukan hanya menu, tetapi juga rasa memiliki.
Kedua, isu ini menyentuh ketimpangan akses dalam ekonomi modern.
Erwan menyoroti biaya sewa tinggi, sebuah gerbang yang menentukan siapa boleh hadir di “etalase” paling strategis.
Publik menangkapnya sebagai masalah struktur, bukan semata kualitas produk.
Ketiga, isu ini bertemu dengan narasi besar kewirausahaan nasional.
Ketika pemerintah mendorong peningkatan rasio wirausaha, publik otomatis bertanya.
Jika wirausaha didorong, apakah ruang jualnya juga dibuka lebih adil?
Kombinasi kedekatan emosional, rasa ketidakadilan, dan agenda nasional membuatnya cepat menjadi tren.
-000-
Apa yang Sebenarnya Dipersoalkan
Erwan tidak sedang menolak restoran mancanegara.
Ia menyoroti minimnya kehadiran restoran khas Indonesia di pusat perbelanjaan besar.
Ia juga tidak menyederhanakan masalah menjadi soal “selera pasar”.
Ia menyebut satu faktor yang konkret, yakni biaya sewa yang tinggi.
Dari situ muncul gagasan kebijakan khusus dari pengelola pusat perbelanjaan.
Tujuannya agar pelaku usaha lokal memperoleh akses sewa lebih terjangkau.
Di sisi lain, Anang Sukandar menempatkan kuliner sebagai aset ekonomi.
Menurutnya, kekayaan makanan khas daerah dan produk olahan lokal berpotensi menjadi kekuatan ekspor nasional.
Ia menekankan dorongan pada produk hasil dan nilai tambahnya.
Ia juga menilai franchise dan kemitraan sebagai strategi memperluas pasar.
Erwan menambahkan dimensi ekosistem.
Baginya, IFBC Expo 2026 adalah ruang mempertemukan pelaku usaha, calon mitra, UMKM, dan masyarakat.
Ia menyebut dampaknya melampaui bisnis.
Ada penciptaan kerja, perluasan akses ekonomi, dan pembentukan kelas menengah produktif di Jawa Barat.
-000-
Analisis: Mal sebagai Panggung, Sewa sebagai Seleksi
Pusat perbelanjaan modern bukan sekadar kumpulan toko.
Ia adalah panggung reputasi.
Masuk ke mal besar berarti mendapat arus pengunjung, legitimasi merek, dan peluang tumbuh lebih cepat.
Namun panggung itu memiliki tiket masuk.
Dalam berita ini, tiket itu bernama biaya sewa.
Ketika sewa tinggi, seleksi pasar tidak lagi murni soal rasa.
Seleksi berubah menjadi siapa yang punya modal, jaringan, dan kemampuan menanggung risiko.
Dalam konteks itu, “kompetisi” menjadi kata yang rumit.
Kompetisi bisa tampak adil di permukaan, tetapi timpang di pintu masuk.
Gagasan regulasi afirmatif berangkat dari pertanyaan moral dan ekonomi.
Apakah akses ke ruang komersial strategis perlu diberi perlakuan khusus bagi pelaku lokal?
Atau dibiarkan sepenuhnya ditentukan oleh kemampuan membayar?
Erwan memilih menyuarakan opsi pertama.
-000-
Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia
Isu kuliner lokal di mal bertaut dengan agenda industrialisasi berbasis nilai tambah.
Anang menyinggung “produk hasil dan nilai tambahnya”.
Kalimat itu penting karena kuliner tidak berhenti di dapur.
Ia menyentuh rantai pasok, pengolahan, kemasan, logistik, hingga standardisasi.
Ia juga bertaut dengan isu penciptaan kerja.
Erwan menyebut ekosistem kemitraan bukan hanya soal bisnis, tetapi juga lapangan kerja.
Di negara dengan bonus demografi, lapangan kerja bukan sekadar statistik.
Ia adalah penentu martabat hidup keluarga.
Isu ini juga terkait dengan penguatan kelas menengah produktif.
Erwan menyebut kelas menengah produktif sebagai tujuan.
Di banyak negara, kelas menengah tumbuh ketika usaha kecil dan menengah naik kelas.
Jika UMKM terjebak di pinggiran, kelas menengah rapuh dan mudah goyah.
Terakhir, isu ini menyentuh identitas kebudayaan.
Kuliner adalah bahasa yang dimengerti semua orang, bahkan ketika kita berbeda pandangan.
Ketika kuliner lokal minim di ruang publik modern, sebagian orang membaca itu sebagai jarak budaya.
-000-
Riset yang Relevan untuk Membaca Isu Ini
Riset dan laporan kebijakan sering menempatkan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi.
Dalam banyak kajian, tantangan UMKM berulang pada akses pasar, pembiayaan, dan kapasitas manajerial.
Isu yang disorot Erwan terutama bersinggungan dengan akses pasar.
Dalam literatur ekonomi perkotaan, lokasi adalah sumber daya.
Lokasi menentukan visibilitas, trafik, dan peluang pembelian impulsif.
Karena itu, biaya sewa sering berfungsi seperti mekanisme penyaringan.
Konsep lain yang relevan adalah “barrier to entry” atau hambatan masuk.
Ketika hambatan masuk tinggi, pelaku baru sulit muncul meski produknya baik.
Di titik ini, kebijakan afirmatif kerap dipahami sebagai cara menurunkan hambatan.
Bukan untuk menghapus kompetisi, melainkan membuat kompetisi mungkin terjadi.
Selain itu, Dyah Roro Esti mengaitkan isu ini dengan rasio kewirausahaan.
Dalam diskursus pembangunan, rasio wirausaha sering dipakai sebagai indikator dinamika ekonomi.
Namun indikator itu tidak berdiri sendiri.
Ekosistemnya mencakup ruang usaha, kemitraan, dan jalur ekspansi.
IFBC diposisikan sebagai ruang yang mempertemukan pelaku dan mitra.
Dalam riset kewirausahaan, jejaring dan mentoring sering disebut mempercepat pembelajaran bisnis.
Franchise dan kemitraan, seperti disinggung Anang, juga terkait standardisasi.
Standardisasi membantu menjaga kualitas ketika bisnis tumbuh.
Namun standardisasi juga menuntut disiplin operasional dan investasi sistem.
Karena itu, dukungan ekosistem menjadi krusial agar pelaku lokal bisa naik kelas.
-000-
Referensi Kasus Serupa di Luar Negeri
Di sejumlah negara, perdebatan serupa muncul ketika merek besar mendominasi ruang ritel modern.
Isunya berkisar pada bagaimana kota menjaga ruang bagi bisnis lokal.
Beberapa kota di Amerika Serikat pernah memperdebatkan pembatasan “formula retail”.
Istilah itu merujuk pada toko berjejaring dengan format seragam.
Tujuannya bukan menutup usaha besar, tetapi melindungi keragaman ekonomi lokal.
Di Inggris, diskusi publik tentang nasib “high street” juga sering menyinggung toko independen.
Ketika sewa naik dan jaringan besar kuat, toko kecil terdesak.
Di Jepang, banyak pusat perbelanjaan dan stasiun mengkurasi tenant lokal sebagai daya tarik.
Kurasi itu sering dipakai untuk menjaga identitas tempat sekaligus menarik wisatawan.
Contoh-contoh ini menunjukkan satu pelajaran.
Ruang ritel modern sering menjadi arena kebijakan, bukan sekadar arena jual beli.
Namun tiap negara memilih instrumen berbeda, sesuai konteks hukum dan pasar.
-000-
Menimbang Regulasi Afirmatif: Peluang dan Kehati-hatian
Regulasi afirmatif terdengar menjanjikan, tetapi perlu dirancang cermat.
Jika tujuannya akses sewa lebih terjangkau, mekanismenya harus jelas.
Harus ada definisi pelaku lokal yang transparan.
Harus ada kriteria kualitas dan keamanan pangan yang tegas.
Tanpa itu, kebijakan bisa disalahpahami sebagai keistimewaan tanpa akuntabilitas.
Di sisi lain, pengelola mal memiliki kalkulasi bisnis.
Mereka mengejar okupansi, arus pengunjung, dan kepastian pembayaran.
Karena itu, kebijakan yang baik perlu memadukan insentif dan kepastian.
Misalnya, skema sewa bertahap, masa inkubasi, atau dukungan promosi bersama.
Namun detail teknis semacam itu tidak disebut dalam berita.
Yang ada adalah arah besar, yakni perlunya kebijakan khusus.
Ruang diskusinya terbuka lebar.
-000-
Rekomendasi Respons: Apa yang Bisa Dilakukan Berbagai Pihak
Pertama, pemerintah daerah dapat memfasilitasi dialog tripartit.
Pelaku kuliner lokal, pengelola pusat perbelanjaan, dan asosiasi bisnis perlu duduk bersama.
Tujuannya menyepakati model akses yang realistis dan terukur.
Kedua, pengelola pusat perbelanjaan dapat mempertimbangkan kurasi tenant lokal.
Kurasi bukan amal.
Kurasi bisa menjadi strategi diferensiasi mal, sekaligus memperkaya pengalaman pengunjung.
Ketiga, pelaku usaha lokal perlu menyiapkan diri untuk standar mal.
Mal menuntut konsistensi rasa, kebersihan, layanan, dan jam operasional.
Dalam konteks ini, franchise dan kemitraan yang disebut Anang bisa menjadi jalur pembelajaran.
Keempat, penyelenggaraan pameran seperti IFBC perlu diperkuat sebagai jembatan.
Erwan menyebutnya ruang strategis mempertemukan pelaku, calon mitra, UMKM, dan masyarakat.
Jembatan itu penting agar wacana tidak berhenti di panggung seremoni.
Kelima, publik sebagai konsumen memegang peran yang sering dilupakan.
Permintaan yang konsisten memberi sinyal pasar.
Namun dukungan publik perlu disertai ekspektasi kualitas, agar kuliner lokal tumbuh berkelanjutan.
-000-
Penutup: Ketika Rasa Bertemu Arah Zaman
Perdebatan tentang kuliner lokal di mal modern sesungguhnya adalah perdebatan tentang masa depan.
Masa depan tentang siapa yang punya akses ke ruang ekonomi paling terlihat.
Juga masa depan tentang bagaimana Indonesia menaikkan rasio kewirausahaan, seperti disebut Dyah Roro Esti.
Jika wirausaha ingin tumbuh, ekosistemnya harus memberi jalan.
Jika kuliner lokal ingin menjadi kekuatan ekspor, nilainya harus dibangun dari rumah sendiri.
Di tengah globalisasi, keberanian merawat yang lokal bukan sikap menutup diri.
Ia adalah cara berdiri tegak, sambil tetap terbuka.
Seperti pesan yang relevan untuk momen ini, “Kemajuan yang paling kokoh adalah kemajuan yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang.”

