Plosorejo, 13 Juli 2026 — Tim KKN GIAT 16 Universitas Negeri Semarang (UNNES) menggelar program Budidaya Tanaman Obat Keluarga Nusantara (BASKARA) di Balai Desa Plosorejo, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, Senin (13/7/2026). Kegiatan yang difasilitasi Pusat Pengembangan Kuliah Kerja Nyata LPPM UNNES ini dilaksanakan bersama Pemerintah Desa Plosorejo dan Tim Penggerak PKK Desa Plosorejo.
Program BASKARA disebut sebagai bagian dari pengabdian masyarakat yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), serta SDG 15 (Menjaga Ekosistem Daratan). Fokus kegiatan diarahkan pada pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai solusi kesehatan berbasis potensi lokal.
Kegiatan diikuti sekitar 30 peserta yang terdiri dari ibu-ibu PKK dan kader desa. Sejumlah pihak turut hadir, termasuk Bidan Desa Plosorejo Sulistinah, S.Tr.Keb., Bdn., Ketua TP PKK Desa Plosorejo, serta beberapa perangkat desa. Penyampaian materi dilakukan di sela rangkaian Pertemuan Rutin PKK Desa Plosorejo, sebelum penutupan kegiatan.
Menurut tim pelaksana, program disusun berdasarkan hasil observasi mahasiswa selama KKN di Desa Plosorejo. Pada musim kemarau, masyarakat kerap menghadapi peningkatan populasi nyamuk yang mengganggu aktivitas sehari-hari, bersamaan dengan meningkatnya kasus DBD di desa tersebut. Di sisi lain, tanaman serai tumbuh melimpah di pekarangan warga, namun sebagian besar masih dimanfaatkan sebagai bumbu dapur. Dari kondisi itu, tim menginisiasi BASKARA untuk mengoptimalkan pemanfaatan serai sebagai tanaman obat keluarga sekaligus bahan alami pengusir nyamuk.
Sebelum pelaksanaan, tim melakukan koordinasi dan konsultasi dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Latifah Rachmawati, S.Gizi., M.Gz. Materi kemudian disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan potensi lokal Desa Plosorejo.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan edukasi mengenai konsep BASKARA dan manfaat tanaman serai (Cymbopogon citratus). Peserta mendapat penjelasan tentang kandungan minyak atsiri pada serai, seperti sitronelal, sitronelol, dan geraniol, yang menghasilkan aroma khas dan dinilai dapat mengganggu kemampuan nyamuk mengenali keberadaan manusia. Serai juga diperkenalkan sebagai alternatif pengusir nyamuk yang lebih ramah lingkungan.
Selain penyuluhan, tim memperkenalkan pemanfaatan serai dalam bentuk lilin aromaterapi. Peserta dijelaskan mengenai alat dan bahan, tahapan pembuatan, hingga cara penggunaan lilin aromaterapi di rumah. Untuk membantu pemahaman, tim membagikan leaflet edukasi berisi manfaat serai dan panduan pembuatan lilin aromaterapi. Setiap peserta juga menerima contoh lilin aromaterapi berbahan serai yang telah dibuat oleh mahasiswa.
Sebagai implementasi sekaligus upaya keberlanjutan, tim KKN bersama warga melakukan penanaman bibit serai di lingkungan Desa Plosorejo. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan ketersediaan serai di pekarangan warga agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, baik sebagai tanaman obat keluarga maupun bahan baku pembuatan lilin aromaterapi.
Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti penyuluhan dengan antusias dan mengajukan pertanyaan seputar manfaat serai, kandungan sitronelal, serta cara membuat lilin aromaterapi. Tim KKN GIAT 16 UNNES berharap program ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan potensi tanaman lokal sebagai solusi kesehatan yang mudah diterapkan di lingkungan keluarga.
Melalui program tersebut, tim juga mendorong warga tidak hanya membudidayakan serai di pekarangan rumah, tetapi turut mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai guna. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.