Di balik seporsi Rujak Ie Mameh, tersimpan kisah perjuangan dan upaya memperkenalkan identitas Aceh melalui usaha kuliner. Putriani, S.Sos, pemilik Rujak Ie Mameh, memilih rujak bukan semata sebagai produk dagangan, melainkan sebagai cara mengenalkan cita rasa dan nama khas Aceh kepada lebih banyak orang.
Cerita itu disampaikan Putriani saat hadir dalam program UMKM Corner RRI Meulaboh bertema “Rujak Ie Mameh: Camilan Segar yang Bikin Nagih”. Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan ketertarikannya menjalankan usaha rujak yang turut terinspirasi dari kisah perjuangan Sayyidah Fatimah Az-Zahra. Menurutnya, semangat bekerja dan tidak mudah menyerah menjadi nilai yang ingin diterapkan dalam membangun usaha.
Putriani juga menjelaskan alasan memilih nama “Ie Mameh” untuk produknya. Istilah dalam bahasa Aceh itu berarti air manis, sekaligus dipilih agar mudah diingat dan membawa nuansa lokal. Melalui penamaan tersebut, ia berharap istilah Aceh dapat lebih dikenal masyarakat luas lewat produk kuliner yang dekat dengan keseharian.
Rujak Ie Mameh disajikan dengan potongan buah segar yang dipadukan dengan racikan kuah atau saus rujak bercita rasa khas. Perpaduan rasa manis, pedas, segar, dan gurih membuat camilan ini disebut cocok dinikmati dalam berbagai suasana, terutama saat cuaca panas atau ketika ingin makanan ringan yang menyegarkan.
Bagi Putriani, membangun usaha tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia menekankan pentingnya keberanian untuk memulai, kemauan terus belajar, menjaga kualitas produk, serta memahami selera pelanggan. Dari usaha yang dirintis secara sederhana itu, ia berharap Rujak Ie Mameh dapat terus berkembang dan menjadi salah satu produk lokal yang membawa nama Aceh.
Kehadiran Rujak Ie Mameh dalam program UMKM Corner turut menjadi ruang untuk memperkenalkan lebih dekat usaha kuliner lokal kepada masyarakat. Putriani menilai, selain rasa, cerita di balik sebuah produk juga menjadi bagian penting yang membentuk karakter dan identitasnya.
Ia berharap Rujak Ie Mameh tidak hanya dikenal sebagai camilan segar, tetapi juga sebagai produk yang membawa semangat lokal sekaligus memperkenalkan nama dan cita rasa Aceh. Dari seporsi rujak, Putriani menaruh harapan agar semakin banyak orang mengenal kuliner Aceh dan tertarik mencicipi serta mendukung produk UMKM daerah.