Ada jenis kabar yang terasa ringan, namun diam-diam bekerja dalam. Gastrodiplomasi Indonesia di Swiss menjadi tren karena menyentuh rasa, identitas, dan harapan.
Di tengah arus berita yang sering keras, kisah tentang kopi aren, dadar gulung, dan tempe menawarkan jeda. Ia mengajak publik melihat diplomasi dari meja makan.
Isu ini ramai dibicarakan karena bertepatan dengan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss. Angka itu memberi bingkai sejarah yang mudah diingat.
Namun yang membuatnya viral bukan semata perayaan. Yang memantik perhatian adalah detail manusiawi, tentang diaspora yang bertahan, beradaptasi, lalu memperkenalkan Indonesia melalui rasa.
Di Swiss, tim jurnalis KG Media bertemu para pemilik kafe dan restoran. Mereka bukan diplomat resmi, tetapi menjalankan kerja diplomasi dalam bentuk paling sehari-hari.
Di Zurich, Ombak Coffee menjadi salah satu titik cerita. Kafe milik pasangan Martin dan Alista Ponti dikenal dengan menu Aren Latte.
Alista, yang tinggal di Swiss selama delapan tahun, bercerita tentang awal menjual aren. Mereka perlu menjelaskan apa itu aren sembari mempromosikan kopi Indonesia.
Respons warga lokal, menurut Alista, positif. Mereka menerima, menyukai rasanya, dan perlahan menjadikan menu itu bagian dari pengalaman kota.
Ombak Coffee kini memiliki dua cabang, termasuk yang terbaru di Aarau. Ekspansi kecil ini menyiratkan sesuatu yang besar: rasa bisa menyeberang batas.
-000-
Masih di Zurich, Dapura Mia menghadirkan kisah lain. Pemiliknya, Mia Schreiber, menyambut tim KG Media bersama tim KBRI Bern.
Salah satu menu andalan di sana adalah dadar gulung. Harganya 18 CHF per porsi, kira-kira setara Rp 400.000-an.
Angka itu mudah memantik debat warganet. Namun Mia menjelaskan pola pikir konsumen Swiss yang menyukai detail dan penjelasan.
Orang Swiss bertanya sumber warna hijau, juga isiannya. Setelah jelas, mereka tidak keberatan membayar, bahkan kantor-kantor sering memesan.
Dapura Mia juga sudah memiliki dua cabang. Sejumlah pegawainya adalah WNI yang masuk Swiss dengan status pekerja profesional.
Di sini, makanan tidak hanya soal nostalgia. Ia menjadi kerja, rantai pasok, dan ruang pertemuan antara profesionalisme diaspora dan selera lokal.
-000-
Perjalanan berlanjut pada 22 Juni 2026. Tim KG Media mengunjungi Rumarasa dan mencicipi nasi campur rendang di Zurich.
Restoran itu dikelola Marissa Akbar dan suaminya, Reto Bosshard. Di sana pula tim bertemu Rehan Diaz, diaspora asal Bandung.
Rehan adalah pelatih bulutangkis Timnas Junior Swiss. Pertemuan itu memperlihatkan diaspora tidak tunggal, melainkan jejaring peran yang saling menguatkan.
Kuliner menjadi simpul. Ia mempertemukan orang Indonesia, pasangan lintas negara, dan warga Swiss yang penasaran pada rasa yang belum mereka kenal.
-000-
Pada 23 Juni 2026, rombongan Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya dan Ketua Kadin Swiss Francis Wanandi mencicipi nasi campur Bali.
Lokasinya di Bali Umami, Basel. Restoran Indonesia ini disebut spesialis produksi tempe.
Yang menarik, pemilik sekaligus koki dan pelayan adalah Craig Schwyzer Inhaber, pria asli Swiss. Ia mendirikan restoran untuk mengobati rindu anaknya pada Indonesia.
Karena ibunya asli Indonesia, sang anak menyukai tempe. Craig lalu bersikeras mempelajari produksi tempe sampai berhasil.
Craig mengatakan banyak tamu yang datang sudah pernah ke Indonesia atau Bali. Mereka datang untuk nostalgia, seolah rasa menjadi mesin waktu.
Di titik ini, gastrodiplomasi tampak bukan slogan. Ia bergerak lewat keluarga, kenangan perjalanan, dan keputusan seseorang untuk belajar fermentasi.
-000-
Minister Counsellor KBRI Bern, Purnowidodo, menyebut para pemilik restoran ini laksana diplomat. Mereka memperkenalkan Indonesia melalui kuliner dan rasa.
KBRI Bern pun membekali para “diplomat kuliner” dengan buku-buku pariwisata Indonesia. Tujuannya sederhana: memperluas cerita di balik menu.
Para pelaku kuliner itu juga masih sering pulang atau berkontak dengan keluarga di Indonesia. Pengetahuan mereka tentang Indonesia tetap terbarui.
Di tengah hubungan bilateral yang memasuki usia 75 tahun, kuliner dinilai menjadi jembatan untuk mendekatkan Indonesia kepada calon wisatawan.
Penguatan kuliner di Swiss tidak hanya promosi budaya. Ia menyentuh aspek ekonomi, dari pariwisata, pasokan bahan baku, hingga peluang perdagangan.
Koordinator Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Bern, Dahlia Kusuma Dewi, menyebut gastrodiplomasi sebagai program penting secara nasional.
Ia mengingat program “Spice Up The World” dan menegaskan gastrodiplomasi tetap relevan. Swiss dinilai potensial karena masyarakatnya menyukai sesuatu yang unik.
Dahlia mengatakan, orang Swiss mencari hal yang tidak bisa mereka temui di negaranya. Ia berharap apa yang mereka cari justru tersedia di Swiss melalui kuliner Indonesia.
Namun ada pekerjaan rumah. Dahlia mencontohkan Thailand lebih kuat memperkenalkan kulinernya di Swiss, dengan restoran yang lebih banyak dan lebih dikenal.
-000-
Mengapa Isu Ini Menjadi Tren di Indonesia
Pertama, berita ini menawarkan narasi yang jarang: diplomasi yang tidak berjarak. Publik melihat Indonesia hadir bukan lewat pidato, melainkan lewat rasa.
Detail seperti Aren Latte dan dadar gulung membuat cerita terasa konkret. Orang mudah membayangkan, lalu ikut merasa memiliki.
Kedua, ada elemen kejutan yang memicu percakapan. Harga dadar gulung 18 CHF mengundang tanya, sekaligus membuka diskusi tentang nilai, kualitas, dan konteks pasar.
Perbincangan semacam ini cepat menyebar karena memadukan emosi dan logika. Ada rasa bangga, ada rasa heran, ada juga dorongan membandingkan.
Ketiga, kisah diaspora selalu menyentuh urat identitas. Cerita tentang orang Indonesia yang bertahan di Swiss, atau warga Swiss yang belajar tempe, memantik rasa dekat.
Di era media sosial, cerita yang manusiawi lebih mudah menjadi tren. Ia memberi wajah pada istilah besar seperti diplomasi dan promosi pariwisata.
-000-
Gastrodiplomasi sebagai Cermin Isu Besar Indonesia
Isu ini terkait langsung dengan agenda besar Indonesia: pariwisata, ekonomi kreatif, dan citra bangsa. Makanan menjadi pintu masuk yang paling demokratis.
Jika wisata adalah arus orang, kuliner adalah arus makna. Orang bisa jatuh cinta pada rasa, lalu ingin melihat asalnya.
Berita ini juga menyentuh isu ekspor dan rantai pasok. Ketika kopi Indonesia hadir di kafe Swiss, ada cerita petani, kualitas, dan konsistensi pasokan.
Tempe di Basel mengingatkan bahwa produk pangan bukan sekadar komoditas. Ia adalah pengetahuan, keterampilan, dan standar yang harus dijaga lintas negara.
Di sisi lain, gastrodiplomasi menyinggung isu tenaga kerja diaspora. Disebutkan ada WNI bekerja sebagai profesional di restoran, menunjukkan mobilitas yang semakin kompleks.
Indonesia kerap membahas hilirisasi, nilai tambah, dan daya saing. Dalam skala mikro, restoran diaspora adalah bentuk hilirisasi budaya.
Ia mengubah bahan, resep, dan cerita menjadi pengalaman yang bernilai ekonomi. Namun sekaligus menuntut konsistensi kualitas agar kepercayaan publik tidak rapuh.
-000-
Kerangka Konseptual dan Riset yang Relevan
Dalam kajian hubungan internasional, gastrodiplomasi sering dipahami sebagai bagian dari diplomasi publik. Ia memakai budaya populer untuk membangun kedekatan.
Konsep “soft power” menjelaskan mengapa cara ini efektif. Daya tarik budaya dapat memengaruhi persepsi tanpa paksaan, melalui kesan dan pengalaman.
Riset tentang perilaku konsumen juga relevan. Mia menggambarkan konsumen Swiss yang menuntut penjelasan detail sebelum menerima harga.
Dalam banyak studi pemasaran, transparansi dan storytelling meningkatkan nilai yang dirasakan. Penjelasan tentang bahan dan proses membuat harga lebih dapat diterima.
Dahlia menekankan keunikan sebagai kunci. Ini sejalan dengan gagasan diferensiasi, bahwa produk yang berbeda jelas lebih mudah bertahan di pasar yang matang.
Kuliner juga bekerja sebagai memori sosial. Craig menyebut tamu datang untuk nostalgia setelah pernah ke Indonesia, menunjukkan hubungan antara pengalaman wisata dan konsumsi ulang.
Di sini tampak siklus: wisata melahirkan nostalgia, nostalgia mendorong konsumsi kuliner, lalu kuliner memicu keinginan kembali berwisata.
-000-
Rujukan Kasus Serupa di Luar Negeri
Dahlia menyebut Thailand lebih kuat di Swiss. Ini mengingatkan pada banyak contoh negara yang membangun pengaruh lewat restoran di luar negeri.
Di sejumlah negara, kuliner menjadi identitas global yang mudah dikenali. Restoran yang banyak dan konsisten membuat sebuah masakan berubah menjadi “bahasa dunia”.
Pengalaman itu menunjukkan satu pelajaran: penguatan kuliner tidak hanya soal rasa. Ia memerlukan ekosistem, dari diaspora, pasokan, hingga narasi yang seragam.
Dalam konteks Swiss, perbandingan itu menegaskan tantangan Indonesia. Jumlah diaspora bisa berbeda, tetapi kualitas strategi dapat menutup sebagian jarak.
-000-
Rekomendasi: Menanggapi Tren dengan Kepala Dingin
Pertama, publik perlu membaca isu harga dengan konteks. Harga di Swiss dipengaruhi biaya hidup, sewa, tenaga kerja, dan standar layanan yang berbeda.
Perdebatan sebaiknya tidak berhenti pada angka. Pertanyaannya adalah apakah pengalaman, kualitas, dan cerita yang disajikan sepadan bagi konsumen setempat.
Kedua, dukungan terhadap gastrodiplomasi perlu diarahkan pada penguatan kapasitas. KBRI sudah membekali buku pariwisata, langkah yang bisa diperdalam.
Misalnya, memperkuat narasi bahan, asal-usul, dan ragam daerah. Ketika konsumen Swiss suka detail, pengetahuan menjadi bagian dari pelayanan.
Ketiga, pelaku usaha diaspora perlu ruang jejaring. Pertumbuhan cabang di beberapa tempat menunjukkan potensi, tetapi keberlanjutan menuntut kolaborasi dan standar.
Keempat, Indonesia perlu menjaga agar promosi kuliner tidak memiskinkan keragaman. Dadar gulung, rendang, nasi campur, tempe, dan kopi adalah pintu, bukan batas.
Jika gastrodiplomasi berhasil, ia harus membuka rasa ingin tahu pada Indonesia yang lebih luas. Dari situ, pariwisata dan perdagangan bisa ikut bergerak.
-000-
Penutup
Di Swiss, gastrodiplomasi Indonesia tumbuh lewat kafe kecil, restoran diaspora, dan seorang ayah Swiss yang belajar tempe demi anaknya.
Ia mengingatkan bahwa citra bangsa tidak selalu dibangun dari atas. Kadang ia lahir dari dapur, dari percakapan tentang aren, dan dari kesabaran menjawab pertanyaan sederhana.
Jika tren ini dibaca dengan jernih, ia bisa menjadi energi kolektif. Bukan untuk berbangga tanpa kerja, melainkan untuk merawat kualitas dan memperluas jejaring.
Karena pada akhirnya, diplomasi adalah soal kedekatan. Dan kedekatan sering bermula dari hal yang paling manusiawi: makan bersama.
“Jalan paling singkat ke hati manusia sering kali bukan pidato, melainkan perhatian yang tulus.”

