Di tengah kebiasaan baru masyarakat mengawali hari dengan membuka TikTok atau Instagram, halaman rekomendasi seperti For You Page (FYP) kian menjadi rujukan utama untuk hiburan sekaligus informasi. Namun, tren ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah semua yang viral benar adanya?
FYP merupakan fitur rekomendasi video di TikTok yang bekerja berdasarkan kebiasaan pengguna—apa yang sering ditonton dan disukai. Mekanisme tersebut membuat konten yang menarik perhatian dan banyak ditonton lebih mudah tersebar luas. Sejumlah temuan penelitian disebut menunjukkan bahwa FYP dan algoritma TikTok berpengaruh besar terhadap cara pengguna menerima dan menyebarkan informasi. Dalam praktiknya, terutama di kalangan Generasi Z, FYP tidak lagi hanya dipakai untuk hiburan, tetapi juga menjadi sumber informasi.
Masalahnya, ukuran “penting” di media sosial kerap bergeser dari akurasi menjadi popularitas. Banyaknya like, komentar, dan share lebih sering dijadikan penanda nilai sebuah konten ketimbang ketepatan isinya. Kondisi ini diperparah oleh kebiasaan sebagian pengguna yang belum terbiasa membaca sumber secara lengkap atau melakukan verifikasi.
Berbagai kajian tentang perilaku informasi Generasi Z juga menunjukkan paradoks: mereka sangat terhubung dengan media sosial, tetapi tetap rentan terhadap informasi yang salah atau manipulatif. Akibatnya, konten yang ramai dibicarakan dapat diterima begitu saja tanpa pemeriksaan memadai. Jika berlangsung terus-menerus, opini publik berisiko terbentuk dari informasi yang tidak utuh.
Selain faktor kebiasaan bermedia, persoalan lain yang disorot adalah minimnya latihan berpikir kritis sejak di bangku sekolah. Banyak orang belum terbiasa membandingkan sumber, mencari informasi pembanding, atau sekadar bertanya, “Apakah ini benar?” Padahal, kemampuan berpikir kritis diperlukan agar pengguna tidak mudah terpengaruh hoaks atau informasi menyesatkan. Media sosial, dalam sejumlah penelitian, disebut memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara Generasi Z memahami suatu kejadian, termasuk ketika informasi yang beredar belum sepenuhnya terverifikasi.
Dalam situasi seperti ini, penilaian publik juga dapat terbentuk hanya dari potongan video pendek. Padahal, media sosial sering kali hanya menampilkan sebagian kecil dari peristiwa, bukan keseluruhan konteks. Dampaknya, pengguna dapat cepat berkomentar atau menjatuhkan penilaian tanpa memahami cerita secara utuh.
Penulis juga mengaitkan persoalan ini dengan nilai maqashid syariah, khususnya konsep hifz al-‘aql atau menjaga akal. Dalam konteks digital, nilai tersebut dipahami sebagai dorongan untuk lebih selektif, kritis, dan berhati-hati dalam menerima informasi agar tidak terjebak pada hal yang menyesatkan. Hoaks dinilai bukan sekadar informasi keliru, tetapi dapat memicu konflik, merusak reputasi, dan mengacaukan cara berpikir masyarakat.
Kesimpulannya, FYP memang memudahkan pengguna menemukan konten yang menarik dan menghibur, tetapi tidak semestinya dijadikan patokan kebenaran. Viral tidak selalu identik dengan valid. Karena itu, kebiasaan memeriksa sumber, membandingkan informasi dari berbagai tempat, serta menahan diri sebelum membagikan konten menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas diskusi publik dan mencegah penyebaran hoaks.