Jumlah barang makanan dan minuman yang diperkirakan mengalami kenaikan harga di Jepang pada 2025 diproyeksikan melampaui 20.000 item untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Proyeksi tersebut didorong oleh tingginya biaya bahan baku dan logistik, menurut perusahaan riset kredit Teikoku Databank Ltd.
Dalam surveinya, Teikoku Databank mencatat bahwa pada Juli saja, 195 produsen makanan besar berencana menaikkan harga terhadap 2.105 barang, termasuk bumbu dapur dan makanan ringan. Jumlah rencana kenaikan pada Juli itu disebut sekitar lima kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, kenaikan harga yang telah diumumkan hingga November mencakup 18.697 barang. Perusahaan tersebut menilai tren kenaikan harga makanan dan minuman kemungkinan masih akan berlanjut “untuk sementara waktu”.
Berdasarkan kategori, bumbu dapur—termasuk kaldu dan kari roux—diperkirakan menjadi kelompok yang paling terdampak, dengan 6.108 barang akan mengalami kenaikan harga. Berikutnya adalah kelompok minuman, termasuk bir dan minuman ringan, sebanyak 4.483 barang, serta makanan olahan seperti makanan beku dan nasi pramasak kemasan sebanyak 4.138 barang.
Selain lonjakan biaya bahan baku, Teikoku Databank menyebut biaya utilitas yang tinggi serta meningkatnya biaya personel akibat kekurangan tenaga kerja turut menjadi pendorong kenaikan harga. Perusahaan itu juga mengingatkan potensi tekanan dari sisi energi, seiring fluktuasi harga minyak mentah di tengah ketegangan di Timur Tengah.
Data historis menunjukkan jumlah item makanan yang mengalami kenaikan harga mencapai 32.396 pada 2023, lalu turun menjadi 12.520 pada 2024. Namun, proyeksi terbaru mengindikasikan kembali meluasnya kenaikan harga pada 2025.
Di sisi lain, inflasi konsumen inti di Tokyo tercatat melambat pada Juni 2025, antara lain dipengaruhi pemotongan sementara tagihan listrik. Meski demikian, inflasi inti masih berada jauh di atas target Bank of Japan (BOJ) sebesar 2%, sehingga ekspektasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga lanjutan tetap bertahan.
Indeks harga konsumen (IHK) Tokyo yang tidak memasukkan makanan segar naik 3,1% pada Juni 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, lebih rendah dari perkiraan pasar rata-rata 3,3%. Indeks terpisah yang tidak memperhitungkan biaya bahan bakar dan makanan segar—yang menjadi perhatian BOJ sebagai ukuran harga yang dipengaruhi permintaan domestik—juga naik 3,1% pada Juni setelah meningkat 3,3% pada Mei.
Marcel Thieliant, kepala Asia-Pasifik di Capital Economics, mengatakan perlambatan inflasi utama di Tokyo pada Juni sebagian mencerminkan dimulainya kembali subsidi energi. Data ini menjadi salah satu faktor yang akan dicermati BOJ dalam tinjauan suku bunga berikutnya pada 30–31 Juli, ketika dewan bank sentral dijadwalkan merilis perkiraan pertumbuhan dan harga triwulanan yang baru.