Seiring bertambahnya usia, kulit secara alami kehilangan kolagen sehingga tampak lebih menipis, kering, dan kerutan lebih mudah terlihat. Memasuki usia 40-an, tanda-tanda penuaan kulit umumnya kian jelas.
Di tengah banyaknya produk perawatan kulit yang mengklaim dapat meminimalkan penuaan, gaya hidup sehat tetap dinilai berperan sebagai dukungan dari dalam. Namun, ada kebiasaan makan malam yang kerap tidak disadari dan disebut dapat memengaruhi penampilan kulit, yakni mengonsumsi makanan tinggi garam pada malam hari.
Sejumlah dermatolog menjelaskan, asupan garam yang tinggi di malam hari dapat berdampak pada kulit, baik secara langsung maupun dalam jangka panjang. Dokter kulit bersertifikasi di MONA Dermatology, Dr. Alexandra Bowles, DO, mengatakan makanan tinggi garam dapat membuat kulit terlihat kering, bengkak, atau keduanya. Menurutnya, ketika seseorang mengonsumsi garam, tubuh berupaya menjaga keseimbangan dengan menarik air ke dalam aliran darah.
Kondisi tersebut dapat memicu retensi cairan yang membuat kulit tampak bengkak, terutama di area sekitar mata dan wajah, yang cenderung lebih tipis dan halus. Di sisi lain, Dr. Bowles menyebut terlalu banyak natrium juga dapat menyebabkan dehidrasi pada kulit dengan menarik kelembapan dari permukaan. Akibatnya, kulit bisa terasa kencang, bersisik, atau tampak kusam.
Ia menjelaskan kombinasi retensi cairan di dalam tubuh dan dehidrasi pada permukaan kulit dapat membuat seseorang bangun tidur dengan lingkaran hitam di bawah mata, tetapi pada saat yang sama merasa kulitnya tetap kering.
Selain dampak yang terlihat pada pagi hari, konsumsi makanan tinggi garam pada malam hari juga disebut berpotensi memengaruhi kondisi kulit dalam jangka panjang. Dr. Viktoryia Kazlouskaya, MD, PhD, FAAD, menyatakan beberapa penelitian menunjukkan fungsi sel dapat berubah dalam kondisi diet tinggi garam. Perubahan tersebut juga disebut dapat memengaruhi reaktivitas pembuluh darah dan berpotensi meningkatkan peradangan.
Seiring waktu, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam dapat mengganggu lapisan pelindung kulit yang penting untuk menjaga kelembapan serta mencegah masuknya iritan. Dampaknya, kulit dapat menjadi lebih sensitif, kering, atau reaktif. Produksi kolagen juga disebut bisa terganggu sehingga kulit tampak lebih tua.
Meski demikian, Dr. Bowles menekankan garam bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk, tetapi perlu diperhatikan batas konsumsinya. Ia menyarankan untuk menjaga hidrasi saat mengonsumsi makanan asin, menghindari makan terlalu dekat dengan waktu tidur agar tidak memicu pembengkakan, serta memadukan makanan asin dengan sumber kalium.
Menurutnya, mengombinasikan makanan asin dengan alpukat, pisang, atau sayuran hijau dapat membantu mengatasi retensi cairan yang dipicu natrium. Ia juga menyarankan agar konsumsi makanan tinggi garam tidak disertai alkohol.

