Kaledo dikenal sebagai salah satu kuliner khas yang lekat dengan cita rasa Kota Palu, Sulawesi Tengah. Hidangan berbahan dasar kaki sapi ini dapat ditemukan di sejumlah tempat, salah satunya di rumah makan Kaledo Om Pado yang berada di kawasan Maesa, Palu.
Pemilik Kaledo Om Pado, Nurfaidah, menjelaskan bahwa usahanya menerapkan proses pengolahan tersendiri untuk menghasilkan rasa yang menjadi ciri khas. Menurutnya, proses memasak tersebut juga membuat kandungan lemak pada hidangan menjadi lebih rendah. Untuk satu porsi, Kaledo Om Pado dijual sekitar Rp60 ribu.
“Rasanya tidak diragukan lagi, kemudian proses memasaknya berbeda sehingga lemaknya lebih rendah. Alhamdulillah, pelanggan kami juga cukup banyak,” kata Nurfaidah saat menjadi narasumber dalam dialog UMKM di Pro 4 RRI Palu.
Di balik nama Kaledo Om Pado, ada cerita yang berawal dari panggilan akrab suami Nurfaidah. Nama itu disebut tidak dirancang sejak awal sebagai identitas usaha, melainkan muncul spontan dari kebiasaan memasak Kaledo dan kemudian semakin dikenal setelah hidangan tersebut dicicipi sejumlah orang.
Om Pado, yang turut hadir dalam dialog UMKM tersebut, menuturkan penamaan itu bermula ketika Kaledo buatannya mendapat respons positif dari orang yang mencicipinya.
“Awalnya cuma iseng saja, kebetulan ada yang makan Kaledo buatan saya, kemudian dibilang enak. Dari situ orang mulai menyebutnya Kaledo Om Pado,” ujar Om Pado.
Kisah Kaledo Om Pado menggambarkan bagaimana kuliner khas daerah tidak hanya ditopang oleh rasa, tetapi juga oleh proses dan cerita di baliknya. Bagi pelaku UMKM, pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan kuliner lokal sekaligus memperkenalkan cita rasa khas Palu kepada masyarakat.