BERITA TERKINI
Ho Chi Minh Dorong Pariwisata Lewat Penguatan Wisata Kuliner

Ho Chi Minh Dorong Pariwisata Lewat Penguatan Wisata Kuliner

Kuliner kian memengaruhi pilihan perjalanan wisatawan. Pengalaman makan yang unik—mulai dari jajanan kaki lima, resep tradisional yang sarat warisan budaya, hingga santapan modern—dinilai menjadi faktor penting yang mendorong orang datang ke suatu destinasi.

Seiring meningkatnya pengakuan Vietnam sebagai destinasi kuliner, Kota Ho Chi Minh memposisikan makanan sebagai penggerak utama pariwisata. Kota ini mengembangkan pengalaman dan produk wisata kuliner yang semakin membentuk rencana perjalanan wisatawan serta menarik perhatian internasional.

Vietnam memiliki keunggulan pada keragaman kuliner daerah. Dari hidangan populer seperti pho dan banh mi, masakan kerajaan Hue, hingga makanan laut segar dari Delta Mekong, kuliner Vietnam dikenal melalui cita rasa yang seimbang, bahan-bahan segar, dan identitas regional yang kuat.

Di Kota Ho Chi Minh, Festival Kuliner dan Budaya Spesial 2026 dari Saigontourist Group yang digelar pada akhir Maret tercatat menarik hampir 80.000 pengunjung. Angka ini meningkat lebih dari 10.000 dibandingkan tahun 2025.

Festival tersebut disebut sebagai satu-satunya festival makanan berskala besar di Vietnam yang menerima gelar “Festival Makanan Terbaik di Dunia” selama tiga tahun berturut-turut (2023–2025) serta “Festival Makanan Terbaik di Asia” selama empat tahun berturut-turut (2022–2025) pada ajang World Food Awards.

Rangkaian acara menawarkan beragam pengalaman kuliner dengan menghadirkan ratusan hidangan dari hotel, resor, serta restoran bintang empat dan lima. Selain memperkenalkan kekayaan gastronomi Vietnam, festival juga menjadi panggung budaya melalui pertunjukan seni tradisional, permainan rakyat, dan pameran kerajinan tradisional.

Di luar acara tersebut, sejumlah festival makanan lain di Kota Ho Chi Minh juga disebut bertahap membangun merek di kalangan wisatawan domestik maupun internasional. Di antaranya Festival Roti Vietnam, Hari Pho, dan Festival Bihun Vietnam.

Memasuki tahun keempat, Festival Roti Vietnam dinilai turut mendorong banh mi melampaui citranya sebagai makanan jalanan menjadi ikon kuliner yang dikenal secara global. Sementara itu, Festival Mie Vietnam memperkenalkan ragam hidangan berbahan dasar beras seperti bihun, pho, hu tieu, dan banh tam, sekaligus menampilkan proses produksi tradisional serta membuka ruang interaksi dengan para ahli kuliner.

Presiden Asosiasi Pariwisata Kota Ho Chi Minh, Nguyen Thi Khanh, menyatakan kegiatan semacam ini dirancang untuk menciptakan ruang kuliner yang dinamis, menghormati nilai tradisional sekaligus mendorong inovasi, sehingga meningkatkan pengalaman pengunjung.

Temuan terbaru juga menunjukkan menguatnya peran kuliner dalam pengambilan keputusan perjalanan. Survei platform perjalanan digital Agoda mencatat 35% wisatawan Vietnam menjadikan makanan sebagai motivasi utama bepergian, menempatkan mereka di antara penggemar wisata kuliner teratas di Asia.

Dalam survei yang sama, wisatawan Vietnam berada di peringkat kedua di kawasan dalam hal memprioritaskan pengalaman kuliner lokal saat memilih destinasi. Direktur Agoda di Vietnam, Vu Ngoc Lam, menilai hasil tersebut mencerminkan peran sentral kuliner dalam budaya dan perilaku perjalanan masyarakat Vietnam. Bagi banyak orang, perjalanan dianggap belum lengkap tanpa pengalaman kuliner lokal yang otentik, baik di dalam maupun luar negeri.

Para ahli berpandangan, karena makanan lekat dengan kehidupan sehari-hari dan identitas budaya Vietnam, destinasi wisata perlu memanfaatkan kuliner sebagai penggerak utama untuk mempertahankan wisatawan domestik sekaligus menarik pengunjung internasional. Di Kota Ho Chi Minh, perkembangan pariwisata disebut tidak hanya bertambah dari sisi skala, tetapi juga bergeser ke arah peningkatan kualitas, penguatan koneksi, serta kemampuan menciptakan kesan yang bertahan lama.

Memasuki fase pembangunan baru sebagai kota metropolitan, Kota Ho Chi Minh menjalankan serangkaian program strategis untuk mempromosikan citra, budaya, masyarakat, dan kuliner yang menjadi ciri khasnya. Industri pariwisata juga melakukan penilaian mendalam untuk mengidentifikasi potensi wisata kuliner, dengan tujuan memposisikan kota ini sebagai pusat kuliner domestik dan internasional.

Pemerintah daerah meningkatkan promosi kuliner sebagai produk wisata utama untuk memperkuat daya tarik kota. Dinas Pariwisata setempat juga melakukan survei terperinci untuk menyusun 20 program wisata kuliner khusus bagi pengunjung.

Program tersebut mencakup tur bertema seperti “Vespa Le La”, pengalaman menyusuri pantai Saigon, tur bus tingkat yang dipadukan dengan makan malam di kapal pesiar Indochina, hingga perjalanan eksplorasi kuliner ke wilayah terdekat seperti Binh Duong dan Ba Ria–Vung Tau. Setiap program dirancang untuk menghadirkan pengalaman berbeda dengan memadukan aktivitas bersantap, berbelanja, dan berwisata di Kota Ho Chi Minh serta sekitarnya. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pengembangan wisata kuliner hingga 2030.

Dari sudut pandang warga setempat, wisata kuliner juga dipandang melampaui aktivitas wisata biasa karena memberi kesempatan menjelajahi budaya, sejarah, dan gaya hidup lokal melalui makanan. Bagi banyak keluarga, terutama yang memiliki anak kecil, wisata kuliner disebut semakin menarik sebagai pilihan liburan.

Sejumlah pengunjung Kota Ho Chi Minh pada awal 2026 turut mencatat munculnya wajah baru pariwisata, ketika kuliner tampil sebagai daya tarik khusus. Berbagai jenis wisata—dari atraksi perkotaan modern hingga ekowisata dan resor mewah—kini semakin sering mengintegrasikan pengalaman kuliner dalam rencana perjalanan.

Dengan perkembangan tersebut, Kota Ho Chi Minh menempatkan kuliner bukan sekadar pelengkap wisata, melainkan faktor yang membentuk pilihan perjalanan. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan dan keterlibatan wisatawan, sekaligus mengangkat kuliner Vietnam ke tingkat global.