BERITA TERKINI
Hashtag #AlpineDivorce Viral, Soroti Tren Putus Hubungan dengan Meninggalkan Pasangan di Gunung

Hashtag #AlpineDivorce Viral, Soroti Tren Putus Hubungan dengan Meninggalkan Pasangan di Gunung

JAKARTA — Hashtag #AlpineDivorce ramai diperbincangkan di media sosial seperti TikTok dan Instagram. Istilah ini memicu perhatian luas karena dikaitkan dengan cara mengakhiri hubungan yang dinilai berbahaya, yakni meninggalkan pasangan di lokasi terpencil seperti gunung atau jalur pendakian.

Fenomena tersebut menggambarkan bagaimana dinamika hubungan modern kian dipengaruhi budaya digital yang serba cepat dan mudah viral. Istilah baru dapat menyebar luas dan membentuk persepsi publik, meski tidak semua orang memahami konteks maupun dampaknya secara menyeluruh. Dalam berbagai unggahan, tren ini juga menyoroti sisi gelap interaksi dalam hubungan yang kerap tersembunyi di balik konten viral.

Apa itu alpine divorce

Alpine divorce merujuk pada situasi ketika seseorang—dalam banyak narasi disebut umumnya pria—meninggalkan pasangannya di area terpencil seperti pegunungan. Korban kerap berada dalam kondisi rentan, misalnya kurang pengalaman, minim perlengkapan, atau menghadapi kondisi alam ekstrem. Dalam gambaran yang beredar, perpisahan ini terjadi tanpa komunikasi yang jelas, sementara pasangan yang ditinggalkan berada dalam situasi berisiko.

Berawal dari kasus nyata

Pembahasan mengenai #AlpineDivorce semakin meluas setelah muncul laporan kasus di Austria. Mengutip CNN, seorang pria dilaporkan meninggalkan pacarnya di gunung tertinggi Austria dan korban meninggal akibat hipotermia. Peristiwa itu memicu diskusi luas dan mendorong sejumlah perempuan membagikan pengalaman serupa di media sosial.

Seiring viralnya istilah tersebut, berbagai cerita bermunculan—mulai dari pengalaman ditinggalkan saat mendaki hingga merasa sengaja “dites” dalam situasi berbahaya oleh pasangan. Salah satu kisah datang dari video akun TikTok @gratefulforthegym yang menampilkan seorang perempuan menangis sambil berjalan menuruni gunung setelah ditinggalkan pasangan kencan yang baru pertama kali ditemuinya.

Dalam video itu, perempuan tersebut menyesali keputusannya menerima ajakan dari orang yang baru dikenalnya melalui internet. “Ini Sabtu terburuk bagiku, harusnya tiduran saja di rumah dari pada kayak gini (naik gunung dan ditinggalkan oleh pasangan kencannya),” ungkapnya.

Sejumlah video lain juga disebut meraih jutaan penonton, menggambarkan situasi seseorang yang ditinggalkan sendirian di jalur pegunungan tanpa bantuan. Unggahan-unggahan tersebut memicu diskusi tentang tanda bahaya (red flag) dalam hubungan, terutama terkait kepercayaan dan keselamatan.

Lebih dari sekadar tren kencan

Bruce Y Lee M.D, M.B.A., yang disebut sebagai pakar psikologi, menilai alpine divorce bukan pilihan bijak untuk mengakhiri hubungan. Menurutnya, tindakan itu hanya menyakiti orang lain dan menempatkan korban dalam bahaya, terutama bila korban tidak memiliki pengalaman mendaki atau tidak mengenal area yang dikunjungi.

Ia menilai, dalam banyak kasus, tindakan tersebut dapat mencerminkan kurangnya empati, dorongan kontrol, atau bahkan manipulasi dalam hubungan. Alpine divorce juga kerap dikaitkan dengan perilaku menghindari konflik—alih-alih mengakhiri hubungan secara dewasa, pelaku memilih cara ekstrem yang berisiko pada keselamatan pasangan.

“Kalau sekedar melampiaskan emosi, bisa dialihkan ke yang lainnya. Atur emosi anda dan temukan solusi cerdas yang tidak menyakiti orang lain,” tulisnya dalam opini di laman Psychology Today (2/4/2026).

Viralnya #AlpineDivorce menjadi pengingat bahwa aktivitas romantis seperti mendaki atau bepergian tidak selalu aman bila dilakukan bersama orang yang tidak dapat dipercaya. Kesadaran, komunikasi, dan kesiapan diri dinilai penting, terutama saat berada di lingkungan berisiko tinggi.