BERITA TERKINI
Hari Gizi Nasional 2026: Pola Makan yang Keliru Dapat Berdampak Jangka Panjang pada Anak

Hari Gizi Nasional 2026: Pola Makan yang Keliru Dapat Berdampak Jangka Panjang pada Anak

Peringatan Hari Gizi Nasional 2026 menjadi pengingat pentingnya pemenuhan gizi sejak dini bagi tumbuh kembang anak. Asupan gizi yang optimal dinilai berpengaruh terhadap kualitas kesehatan, kecerdasan, hingga masa depan anak.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) pada Selasa, 20 Januari 2026, menjelaskan bahwa gizi merupakan sari-sari makanan yang dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi, pembangun jaringan, serta pengatur berbagai fungsi tubuh. Pada anak, gizi berperan besar dalam mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta kemampuan belajar dan berpikir.

Kekurangan gizi pada anak dapat menimbulkan dampak yang terlihat dalam aktivitas sehari-hari. Anak yang kurang gizi cenderung mudah lelah, mengantuk, dan kurang bersemangat. Kondisi tersebut dapat mengganggu konsentrasi belajar dan menurunkan kemampuan kognitif.

Dalam jangka panjang, masalah gizi juga dapat memicu dampak yang lebih luas, mulai dari menurunnya daya tahan tubuh, terhambatnya pertumbuhan, hingga rendahnya prestasi akademik.

Anak usia sekolah dinilai rentan mengalami masalah gizi

Anak usia sekolah masih berada dalam fase pertumbuhan aktif sehingga membutuhkan asupan gizi lebih besar. Pada tahap ini, kekurangan gizi dapat memunculkan dampak jangka pendek, seperti kurangnya kepedulian, gangguan komunikasi, dan keterlambatan perkembangan.

Sementara dampak jangka panjangnya disebut dapat berupa penurunan IQ, gangguan kognitif, kesulitan berkonsentrasi, rendahnya rasa percaya diri, hingga prestasi belajar yang kurang optimal. Karena itu, pemenuhan gizi yang baik dipandang sebagai kunci untuk mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.

Memasuki usia 10–12 tahun, aktivitas fisik anak umumnya meningkat. Pada rentang usia ini, kebutuhan gizi anak laki-laki dan perempuan mulai berbeda, sementara anak juga mulai memiliki kebebasan dalam memilih makanan. Situasi tersebut membuat peran orang tua dalam pengawasan dan edukasi gizi menjadi semakin penting.

Faktor yang memengaruhi kebutuhan gizi anak

Kebutuhan gizi anak dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya pengetahuan tentang gizi. Kurangnya pemahaman mengenai makanan bergizi dapat berdampak pada pola makan anak. Selain itu, prasangka terhadap jenis makanan tertentu, kebiasaan makan yang tidak seimbang, serta pantangan yang tidak tepat juga dapat memengaruhi pemenuhan gizi.

Kesukaan berlebihan pada satu jenis makanan juga berisiko mengurangi variasi asupan gizi. Faktor usia turut memengaruhi kebutuhan gizi, terutama pada rentang 0–10 tahun ketika pertumbuhan dan perkembangan berlangsung sangat pesat.

Pentingnya pola makan gizi seimbang

Dalam rangka mendukung tujuan Hari Gizi Nasional 2026, anak dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang mencakup zat tenaga (karbohidrat dan lemak), zat pembangun (protein dan mineral), serta zat pengatur (vitamin, mineral, dan air).

Pola makan seimbang membantu anak memperoleh energi yang cukup, membangun dan memperbaiki jaringan tubuh, serta menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah sakit. Anak juga dianjurkan makan tiga kali sehari disertai makanan selingan bergizi.

Menu harian disebut sebaiknya terdiri dari makanan pokok, lauk hewani dan nabati, sayur-sayuran, serta buah-buahan. Makanan selingan berfungsi sebagai tambahan energi, terutama bagi anak dengan aktivitas fisik tinggi. Dalam hal ini, orang tua berperan penting menyediakan camilan sehat, baik di rumah maupun di sekolah.

Gizi sebagai investasi jangka panjang

Pola makan anak yang kurang baik dapat meningkatkan risiko gizi kurang maupun gizi lebih. Karena itu, pemberian makanan perlu memperhatikan kualitas, kuantitas, dan variasi agar kebutuhan gizi anak terpenuhi secara optimal.

Melalui peringatan Hari Gizi Nasional 2026, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa gizi bukan sekadar soal makanan, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun generasi anak Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.