Gizi Seimbang Anak Jadi Kunci Hadapi Tiga Beban Masalah Gizi Menuju Indonesia Emas 2045

Gizi Seimbang Anak Jadi Kunci Hadapi Tiga Beban Masalah Gizi Menuju Indonesia Emas 2045

Indonesia masih menghadapi tiga tantangan utama di bidang gizi, yakni kekurangan gizi (termasuk stunting dan wasting), kelebihan gizi, serta kekurangan zat gizi mikro. Di tingkat global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF telah menetapkan enam target nutrisi yang perlu dicapai pada 2025, meliputi penurunan stunting, anemia, dan berat badan lahir rendah (BBLR), pengendalian kelebihan berat badan (overweight), peningkatan cakupan ASI eksklusif, serta penurunan wasting.

Perkembangan indikator gizi 2024 dan target 2025

Berdasarkan data tahun 2024, angka stunting di Indonesia tercatat menurun menjadi 19,8%. Namun, pada saat yang sama, angka overweight meningkat menjadi 5,3%. Wasting juga turun menjadi 7,4%, sedangkan kasus underweight justru naik menjadi 16,9%.

Pemerintah menargetkan penurunan stunting lebih lanjut hingga 18,8% pada 2025.

1000 hari pertama kehidupan jadi fokus intervensi

Dewan Pakar BGN, Ikeu Tanziha, menekankan bahwa masalah gizi anak dipengaruhi kebiasaan ibu sejak masa kehamilan. Menurutnya, periode 1000 hari pertama kehidupan (HPK)—sejak konsepsi hingga anak berusia dua tahun—menjadi fase penentu pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak.

“Permasalahan gizi anak sebenarnya dipengaruhi kebiasaan ibu sejak masa kehamilan. Penelitian menunjukkan bahwa 1000 hari pertama kehidupan (HPK)—sejak konsepsi hingga anak berusia dua tahun—sangat menentukan pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak. Hal ini menjadi dasar strategi intervensi gizi yang dijalankan oleh pemerintah. Karena itu, program pemenuhan gizi tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga mencakup ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai kelompok prioritas,” jelas Ikeu Tanziha saat ditemui di Sekolah Barunawati pada Senin (14/07).

Kekurangan nutrisi pada ibu hamil dan anak dalam periode 1000 HPK disebut menjadi salah satu faktor utama yang berkontribusi pada munculnya tiga beban masalah gizi di Indonesia. Pada fase ini, perkembangan otak anak berlangsung sangat pesat dan dinilai rentan terhadap pengaruh lingkungan, sehingga perhatian pada asupan gizi ibu dan anak dipandang sama pentingnya.

Program Makan Bergizi Gratis dan target penerima

Berbagai tantangan gizi, ketimpangan sosial ekonomi, serta agenda besar menuju Indonesia Emas 2045 turut memperkuat komitmen pemerintah menjalankan Program Makan Bergizi Gratis. Program ini disebut sebagai inisiatif skala nasional pertama di bidang pemenuhan gizi yang dicanangkan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, dengan target 82,9 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Rujukan pengalaman negara lain dan temuan studi

Jika merujuk pengalaman sejumlah negara seperti Finlandia, Swedia, Estonia, dan Korea Selatan, program makan bergizi dilaporkan berdampak positif terhadap peningkatan status kesehatan masyarakat, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil.

Sejumlah studi juga menunjukkan program makan siang sehat dapat meningkatkan asupan energi anak. Dalam temuan yang dikutip, 40,9% siswa yang menerima program makan siang tercatat memiliki asupan energi yang cukup, sementara hampir 90% siswa yang tidak menerima program tersebut tergolong kekurangan asupan energi.

  • Tiga tantangan gizi: kekurangan gizi, kelebihan gizi, dan kekurangan zat gizi mikro.
  • Data 2024: stunting 19,8%; overweight 5,3%; wasting 7,4%; underweight 16,9%.
  • Target pemerintah 2025: stunting turun menjadi 18,8%.
  • Intervensi diprioritaskan pada 1000 HPK, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
  • Program Makan Bergizi Gratis menargetkan 82,9 juta penerima manfaat.