Warisan kuliner Nusantara dinilai berpeluang menjadi kekuatan ekonomi baru melalui pendekatan gastronomi modern yang memadukan cita rasa tradisional dengan inovasi. Strategi ini disebut dapat membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperluas pasar, sekaligus mempertahankan identitas budaya di tengah persaingan industri kuliner.
Praktisi kuliner Sumatera Selatan, Arca Ary, yang juga head chef dan pemilik Dapur Serbet Orange, membahas potensi tersebut saat berbincang dalam program Teras UMKM Lokak Kito pada Jumat, 2 Oktober 2026. Menurutnya, gastronomi menjadi bagian penting dari pariwisata kuliner karena menghubungkan makanan dengan sejarah dan budaya masyarakat.
“Gastronomi Modern itu menjadi sangat penting karena merupakan salah satu kekuatan pariwisata Indonesia yaitu pariwisata kuliner, di mana keunikannya terletak pada gastronominya yang diwariskan dari leluhur, seperti makanan kita Palembang berdasarkan gastronominya diwariskan dari Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam,” ujar Arca Ary.
Ia menjelaskan, gastronomi modern tidak hanya menonjolkan rasa, tetapi juga mengangkat cerita, budaya, teknik pengolahan, penyajian, serta pengalaman konsumen. Bagi UMKM, unsur-unsur tersebut dapat menjadi pembeda produk sekaligus memperkuat hubungan dengan pelanggan.
“Pada gastronomi ini, pelaku usaha kuliner tidak hanya mengedepankan soal rasa makanan semata, tapi juga menyuguhkan cerita, budaya, dan makna dari nama makanan yang disuguhkan. Ini menjadi nilai lebih dalam memikat penikmat kuliner untuk setia pada produk yang kita pasarkan karena ada nilai cerita dan budaya yang disuguhkan,” kata Ary.
Dalam pengembangan usaha, pelaku UMKM dapat melakukan pembaruan pada resep, kemasan, penyajian, hingga pemasaran tanpa menghilangkan karakter asli makanan tradisional. Perpaduan tradisi dan kreativitas dinilai membuat produk lokal lebih relevan dengan selera konsumen masa kini.
Media sosial juga disebut membuka peluang bagi UMKM untuk memperkenalkan kuliner berbasis warisan lokal ke pasar yang lebih luas. Materi seperti foto produk, video proses pembuatan, dan cerita asal-usul makanan dapat dimanfaatkan untuk membangun identitas usaha.
Di luar inovasi dan promosi, pelaku usaha juga diingatkan untuk menjaga kualitas bahan baku, kebersihan, konsistensi rasa, serta kemasan. Standar yang terjaga dinilai dapat membangun kepercayaan konsumen dan mendorong pembelian berulang.
Ary menambahkan, kolaborasi antara UMKM, komunitas, pemerintah, industri kreatif, dan generasi muda dapat mempercepat pengembangan gastronomi lokal. Dukungan kreativitas dan teknologi juga dinilai membuka kesempatan untuk menciptakan produk serta strategi pemasaran yang lebih kompetitif.
Dengan pengelolaan yang konsisten, gastronomi modern dapat menjadi jembatan antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi. UMKM kuliner yang mampu mempertahankan cita rasa sekaligus menghadirkan inovasi dinilai berpeluang memperkuat daya saing dan memperluas jangkauan pasar.