TANJUNG PINANG – Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum peningkatan spiritualitas, tetapi juga menghadirkan tantangan dalam menjaga kesehatan ibu dan balita. Perubahan pola makan, jam istirahat, serta kebiasaan konsumsi makanan saat sahur dan berbuka kerap memengaruhi keseimbangan gizi di tingkat keluarga.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, bidan komunitas dinilai memiliki peran strategis untuk memastikan kebutuhan nutrisi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tetap terpenuhi selama berpuasa. Peran ini tidak terbatas pada pelayanan klinis, tetapi juga mencakup fungsi edukasi kepada masyarakat.
Pendekatan promotif disebut menjadi kunci dalam edukasi gizi selama Ramadan. Bidan diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang pentingnya asupan gizi seimbang, kecukupan cairan, serta pemilihan menu sahur dan berbuka yang tepat. Edukasi tersebut dipandang penting untuk mencegah anemia pada ibu hamil, menjaga kualitas ASI pada ibu menyusui, dan mendukung tumbuh kembang balita agar terhindar dari gangguan nutrisi.
Dosen Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang, Vina Jayanti, menilai Ramadan seharusnya tidak menjadi alasan terjadinya penurunan status gizi pada ibu dan anak. Menurutnya, kunci utama terletak pada perencanaan konsumsi makanan yang tepat dan berbasis kebutuhan individu.
“Bidan perlu aktif memberikan konseling gizi yang sederhana namun aplikatif, sehingga ibu dapat memahami pilihan makanan yang bergizi tanpa harus berlebihan,” ujarnya.
Selain konseling individu, pendekatan berbasis keluarga juga dinilai efektif agar seluruh anggota rumah tangga turut mendukung pola makan sehat selama Ramadan. Dukungan keluarga dipandang dapat membantu menjaga konsistensi pola konsumsi yang lebih seimbang.
Strategi promotif lainnya dapat dilakukan melalui kelas ibu hamil, penyuluhan posyandu, hingga pemanfaatan media digital untuk menyebarkan informasi gizi yang benar. Di era saat ini, media sosial juga dapat digunakan bidan komunitas sebagai sarana edukasi yang menjangkau masyarakat lebih luas.
Dengan pendekatan yang komunikatif dan berbasis data kesehatan masyarakat, pesan mengenai pentingnya gizi seimbang diharapkan lebih mudah dipahami dan diterapkan. Optimalisasi edukasi gizi selama Ramadan juga disebut sebagai bagian dari upaya preventif jangka panjang untuk membentuk generasi yang lebih sehat, sekaligus menjadikan Ramadan sebagai momentum penguatan perilaku hidup sehat bagi ibu dan balita.

