JAKARTA—Di tengah maraknya tren perawatan kulit dan produk kecantikan yang menjanjikan hasil instan, dokter spesialis gizi klinik dr. Chintya Tedjaatmadja, Sp.GK, mengingatkan bahwa kesehatan kulit tidak hanya ditentukan oleh apa yang diaplikasikan di permukaan. Menurutnya, kulit yang sehat berakar pada kondisi tubuh secara keseluruhan, termasuk kecukupan nutrisi dan kesehatan sistem pencernaan.
Pandangan tersebut disampaikan dr. Chintya dalam peluncuran Wyce, minuman kolagen terbaru dari PT Louis Renzo Cosmindo di Jakarta, Sabtu (6/6). Produk ini mengusung konsep beauty-from-within atau kecantikan dari dalam tubuh.
Produk itu turut menarik perhatian karena menghadirkan Korean Heartleaf (Houttuynia cordata) sebagai salah satu bahan utama dalam formulanya, yang diklaim sebagai yang pertama digunakan dalam kategori collagen drink di Indonesia.
Dr. Chintya menilai persepsi masyarakat mengenai kulit sehat masih kerap berfokus pada tampilan luar. Kulit yang terlihat putih, cerah, atau glowing sering dianggap sebagai indikator utama, padahal kondisi tersebut belum tentu mencerminkan kesehatan kulit yang sebenarnya.
“Definisi kulit sehat itu tidak hanya glowing dan putih. Kulit yang sehat harus memiliki skin barrier yang kuat sehingga tidak mudah mengalami iritasi. Selain itu, tingkat kelembapannya harus seimbang, tidak terlalu kering dan tidak terlalu berminyak. Kulit yang sehat juga lebih mampu mempertahankan fungsi perlindungannya terhadap berbagai faktor dari lingkungan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, skin barrier atau lapisan pelindung kulit memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan kulit. Ketika lapisan ini terganggu, kulit menjadi lebih rentan terhadap berbagai masalah, mulai dari kemerahan, iritasi, jerawat, hiperpigmentasi, hingga munculnya tanda-tanda penuaan dini.
“Kulit yang memiliki barrier yang baik biasanya tidak mudah sensitif. Sebaliknya, ketika skin barrier rusak, kulit akan lebih mudah kehilangan kelembapan, mengalami peradangan, dan lebih rentan terhadap pengaruh buruk dari luar seperti polusi, sinar ultraviolet, maupun radikal bebas,” kata dr. Chintya.
Menurutnya, salah satu faktor yang banyak berkontribusi terhadap kerusakan kulit adalah paparan radikal bebas. Senyawa tidak stabil ini dapat berasal dari berbagai sumber, seperti polusi udara, asap rokok, stres, pola makan yang kurang sehat, hingga paparan sinar matahari berlebihan.
Dr. Chintya menyebut radikal bebas dapat mempercepat proses penuaan kulit karena merusak sel-sel sehat dan kolagen yang berfungsi menjaga elastisitas kulit. Karena itu, tubuh memerlukan asupan antioksidan yang cukup untuk membantu menetralkan dampak radikal bebas.
“Karena itu, tubuh membutuhkan asupan antioksidan yang cukup untuk membantu menetralkan dampak radikal bebas tersebut. Antioksidan bekerja seperti tameng yang membantu melindungi sel tubuh, termasuk sel-sel kulit,” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, Korean Heartleaf dinilai memiliki potensi menarik. Tanaman yang banyak digunakan dalam industri kecantikan Korea Selatan itu dikenal kaya akan berbagai senyawa antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan kulit.
Korean Heartleaf atau Houttuynia cordata merupakan tanaman herbal yang telah lama digunakan di beberapa negara Asia. Dalam beberapa tahun terakhir, bahan ini semakin populer dalam industri kecantikan Korea karena dikenal memiliki sifat menenangkan dan membantu menjaga keseimbangan kulit.

