Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kalimantan Timur menggelar Workshop Masakan Khas Kaltim bertajuk “Lestarikan Rasa, Jaga Warisan Masakan Tradisional Kalimantan Timur” di Atrium Mal Lembuswana, Samarinda, Rabu (30/9/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pariwisata Dunia yang dikemas melalui Pariwisata Fest 2026 dan mini expo.
Workshop tersebut secara khusus mengangkat kekayaan kuliner daerah, terutama ragam sambal khas Kutai. Sekitar 100 peserta dari Dharma Wanita Persatuan (DWP) di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mengikuti kegiatan itu. Para peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai kuliner tradisional, tetapi juga menyaksikan langsung proses pengolahan sejumlah jenis sambal khas daerah.
Pelaksana harian (plh) Sekretaris Dispar Kaltim, Dahlia, mengatakan kegiatan ini digelar untuk memperluas pengetahuan masyarakat mengenai kuliner lokal sekaligus mendorong pelestarian resep tradisional di tengah beragamnya latar belakang masyarakat di Kalimantan Timur. “Kami ingin semakin banyak masyarakat mengetahui jenis-jenis sambal khas Kutai sekaligus memahami cara mengolahnya. Bahan-bahan lokal di sekitar kita ternyata bisa diolah menjadi beragam sambal dengan ciri khas masing-masing,” ujarnya.
Dalam workshop tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai olahan sambal yang memanfaatkan bahan-bahan lokal. Salah satu yang mendapat perhatian adalah sambal raja, yang disebut lekat dengan tradisi masyarakat Kutai. Berbeda dengan sambal yang umumnya dikenal masyarakat, sejumlah sambal khas Kutai dapat dipadukan dengan beragam bahan, mulai dari sayuran hingga hasil laut, sehingga menghasilkan karakter dan rasa yang berbeda pada setiap olahan.
Workshop menghadirkan Chef Ario sebagai narasumber. Ia memperagakan secara langsung proses pengolahan beberapa sambal khas Kutai sekaligus mengenalkan bahan-bahan yang digunakan.
Salah satu peserta, Ervina, menilai kegiatan tersebut menambah pengetahuannya tentang kekayaan kuliner Kalimantan Timur, terutama ragam sambal Kutai yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat. “Menarik karena kami tidak hanya dikenalkan dengan jenis sambalnya, tetapi juga bisa melihat bagaimana cara mengolahnya. Ternyata sambal khas Kutai cukup beragam dan bahan-bahannya juga banyak yang mudah ditemukan,” kata Ervina.
Selain teknik pengolahan, peserta juga mendapat pengetahuan mengenai cerita yang berkembang di masyarakat tentang sambal raja. Kuliner tersebut disebut memiliki keterkaitan dengan lingkungan Kesultanan Kutai dan dahulu disajikan sebagai bagian dari hidangan untuk raja. Beragam bahan dapat dipadukan pada olahan sambal ini, di antaranya udang, terong, kucai, bawang, serta berbagai jenis sayuran, dengan perbedaan campuran yang membentuk cita rasa masing-masing.
Melalui workshop ini, Dispar Kaltim berharap kuliner tradisional tidak hanya dikenal sebagai hidangan sehari-hari, tetapi juga terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya serta potensi wisata kuliner Kalimantan Timur.