Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Fakfak, Muhammad Sholeh, menanggapi pandangan publik yang menyebut banyak sayur-sayuran di Fakfak berasal dari luar daerah. Ia menegaskan, penilaian tersebut perlu dilihat secara proporsional dengan mempertimbangkan data kebutuhan dan jumlah penduduk Fakfak yang kini telah mencapai lebih dari 95 ribu jiwa.
Menurut Sholeh, ketersediaan dan pemenuhan kebutuhan sayur-sayuran seharusnya dihitung berdasarkan indeks kebutuhan konsumen secara menyeluruh. “Kalau bicara tentang indeks kebutuhan konsumen untuk sayur-sayuran, tentunya kita harus proporsional menilai,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pasokan sayur-sayuran dari luar daerah memang ada, namun jumlahnya tidak sebesar yang dipersepsikan sebagian masyarakat. Berdasarkan data pihak karantina yang nantinya akan diperkuat data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, kontribusi sayur dari luar Fakfak diperkirakan sekitar 3 ribu ton per tahun.
Sementara itu, kebutuhan total sayur-sayuran masyarakat Kabupaten Fakfak disebut mencapai sekitar 8 ribu ton per tahun. Dengan perbandingan tersebut, sayur-sayuran dari luar daerah berada pada kisaran 30 hingga 40 persen, sedangkan sekitar 60 persen masih dipenuhi dari produksi lokal. Sholeh menyampaikan, data itu merupakan hasil kajian internal dinas dan akan disampaikan secara tertulis kepada media.
Sholeh juga menyampaikan apresiasi kepada petani lokal yang dinilai berkontribusi besar dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Produksi sayur-sayuran lokal tersebut, kata dia, sebagian besar dilakukan secara swadaya oleh petani di kampung-kampung untuk memenuhi kebutuhan kota maupun wilayah kampung itu sendiri.
Selain untuk konsumsi lokal, beberapa komoditas hortikultura Fakfak juga telah diperdagangkan lintas kabupaten. Sholeh menyebut komoditas seperti labu siam kini rutin dikirim ke luar daerah sebagai hasil inisiatif dan kerja keras petani Fakfak. Pemerintah daerah menilai perkembangan tersebut sebagai capaian positif yang perlu mendapat dukungan berkelanjutan.

