Pedagang sayur di Pasar Baru Atambua, Kabupaten Belu, mengeluhkan penurunan penjualan selama musim penghujan. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur wilayah Belu dalam dua hari terakhir membuat aktivitas belanja warga menurun, sehingga pasar terlihat lebih sepi.
Salah satu pedagang, Yasinta Bana asal Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), mengatakan dagangannya kurang laku karena pembeli berkurang saat hujan berkepanjangan disertai angin kencang. Kondisi cuaca ekstrem tersebut terjadi sejak Selasa sore, 20 Januari hingga Rabu, 21 Januari 2026.
Menurut Yasinta, banyak warga memilih tetap di rumah atau langsung beraktivitas ke tempat kerja tanpa sempat berbelanja ke pasar. “Ujan dari kemarin jadi tidak banyak orang belanja, sayur tidak laku,” katanya.
Yasinta menjual berbagai jenis sayuran, seperti selada air, kentang, wortel, dan labu jepang. Selain pasokan lokal Atambua, sebagian besar sayuran didatangkan dari Kabupaten TTU. “Dari Kefa biasa jual ke Atambua juga, kadang langsung diborong ada juga jual sendiri. Musim begini kentang, wortel selasa air, alpokat,” ucapnya.
Ia menjelaskan, pedagang harus menanggung biaya transportasi serta kebutuhan makan dan minum sebelum berjualan. Saat pembeli sepi, pendapatan sulit didapat dan risiko merugi meningkat. “Ini paling tetap jualan biar dapat ongkos pulang, ujan sepi pembeli, mau bagaimana kondisi alam,” ujarnya.
Sejumlah sayuran seperti wortel, kentang, dan labu relatif lebih tahan disimpan. Namun, selada air hanya bertahan sekitar satu hingga dua hari. Jika tidak terjual, sayuran tersebut berisiko rusak dan terpaksa dibuang.
Untuk mengurangi kerugian, pedagang berupaya mencari cara agar sayuran yang tidak habis terjual tetap bisa dimanfaatkan. Salah satu solusi yang dilakukan adalah membawa pulang selada air untuk ditanam kembali.

