Bek Arsenal dan timnas Prancis, William Saliba, dikabarkan berpotensi menjalani operasi punggung setelah Piala Dunia mendatang. Langkah tersebut disebut menjadi opsi yang dipertimbangkan menyusul rasa sakit yang dialaminya dilaporkan semakin memburuk, meski ia tetap mampu tampil untuk klubnya.
Menurut laporan L’Equipe, Saliba kemungkinan akan menjalani tindakan bedah setelah menyelesaikan tugas internasionalnya pada musim panas ini. Bek berusia 25 tahun itu disebut telah berjuang dengan masalah punggung yang berkepanjangan selama beberapa pekan terakhir. Cedera tersebut tidak menghalanginya bermain penuh 120 menit dalam final Liga Champions UEFA melawan Paris Saint-Germain pada Sabtu lalu, namun rasa sakitnya disebut meningkat setelah laga tersebut.
Sebelumnya, penilaian awal dari Foot Mercato memunculkan kekhawatiran bahwa Saliba dapat absen cukup lama, yang berpotensi memengaruhi posisinya dalam rencana pelatih Prancis, Didier Deschamps. Perwakilan Saliba juga disebut menyampaikan kekhawatiran besar terkait kemunduran kondisi ini. Namun, tim medis timnas Prancis dilaporkan lebih optimistis.
Serangkaian pemeriksaan lanjutan yang dilakukan pada Senin menghasilkan kabar yang lebih baik. Hasil tersebut membuat Saliba dinyatakan layak untuk ambil bagian dalam turnamen mendatang bersama Les Bleus.
Di sisi lain, Arsenal disebut sudah menyadari kemungkinan tidak dapat mengandalkan Saliba setelah turnamen berakhir. Klub memahami operasi yang diperlukan direncanakan berlangsung pada akhir musim panas. Situasi ini memicu kekhawatiran di internal Emirates Stadium bahwa Saliba bisa absen pada awal musim kompetisi domestik berikutnya.
Saliba menjalani musim yang sibuk dengan tampil dalam 50 pertandingan saat Arsenal meraih gelar Liga Premier. Ia kini bersiap menghadapi turnamen internasional keduanya bersama Prancis setelah sebelumnya tampil di Qatar 2022. Dalam daftar pilihan bek tengah Deschamps, ia bergabung dengan Dayot Upamecano, Ibrahima Konate, dan Maxence Lacroix.
Prancis dijadwalkan mengawali kampanye Grup I dengan menghadapi Senegal pada 16 Juni, sebuah pertemuan yang mengingatkan pada kekalahan 1-0 yang dikenal terjadi pada 2002.

