Wonosobo dikenal sebagai salah satu daerah penghasil buah carica, sejenis pepaya yang hanya dapat tumbuh di wilayah pegunungan dan dataran tinggi tertentu. Selain di Dataran Tinggi Dieng, carica juga disebut tumbuh di dataran tinggi Amerika Selatan.
Selama ini, carica kerap disajikan sebagai manisan. Namun, seiring perkembangan olahan pangan, buah ini mulai diolah dalam berbagai bentuk. Salah satu yang belum banyak dikenal adalah carica strudel, yakni perpaduan carica dengan strudel, kue pastri khas Jerman yang umumnya berisi manisan.
Inovasi tersebut dikembangkan pelaku usaha kuliner di Wonosobo dengan memanfaatkan komoditas lokal yang mudah dijumpai di daerah itu. Salah satunya dilakukan oleh Carica Patara, yang mengolah carica sebagai campuran strudel.
Upaya ini juga berangkat dari situasi pada masa pandemi, ketika buah carica disebut kurang terserap oleh pelaku industri akibat terhentinya produksi. Banyak buah tidak dipetik hingga matang di pohon dan akhirnya membusuk, yang berdampak pada penurunan kualitas tanaman. Kondisi tersebut turut memicu menipisnya stok karena banyak pohon carica ditebang, sehingga produsen kemudian hanya mengolah carica dalam porsi lebih sedikit.
Sebelum pandemi, Patara disebut mampu memproduksi sekitar 2–3 ton carica. Saat pandemi, produksi menurun drastis menjadi sekitar 20 hingga 30 kilogram per hari.
Untuk produk carica strudel, harga jualnya disebut terjangkau, yakni Rp45.000 per boks.

