Jude Bellingham menjadi sorotan setelah tampil kontras dalam dua babak saat Inggris menghadapi Kroasia. Meski dipilih sebagai starter oleh Thomas Tuchel, Bellingham dan lini tengah Inggris kesulitan mengalirkan permainan pada 45 menit pertama.
Pada paruh awal, Inggris memang mencatat lebih banyak upaya mencetak gol dibanding Kroasia. Namun, mereka kalah dalam penguasaan bola dan akurasi umpan juga lebih rendah daripada kubu Kroasia yang dipimpin Luka Modric.
Tuchel mengatakan bahwa ia berusaha memberikan motivasi saat jeda babak pertama, dengan menggambarkan pidatonya di ruang ganti sebagai “tenang”. Namun, suasana tersebut dipertanyakan mengingat asisten manajer Anthony Barry menilai permainan Inggris di babak pertama “rumit dan membingungkan”, bahkan menyebut timnya tampil “penakut”. Jika itu pesan yang dibawa ke ruang ganti, kecil kemungkinan disampaikan tanpa nada tegas.
Apa pun yang disampaikan saat jeda, respons Inggris di babak kedua terlihat jelas—terutama dari Bellingham. Gol ketiga Inggris disebut sebagai cerminan gaya sepak bola yang ingin diterapkan Tuchel sekaligus menjadi penebusan bagi Bellingham yang sebelumnya tampil kurang meyakinkan.
Dalam proses gol tersebut, Declan Rice memperlebar permainan untuk membuka ruang bagi Anderson. Anderson kemudian mengirim umpan silang ke sisi lapangan, memberi kesempatan Bellingham berlari mengejar bola, maju, dan menuntaskan serangan.
Sejak momen itu, Inggris tampil dominan dan Bellingham menjadi figur utama. Ia mencatatkan keberhasilan 100% dalam dribel dan mengirim tiga umpan ke sepertiga akhir lapangan.
Kontribusi Bellingham tidak hanya terlihat dalam fase menyerang. Ia juga bekerja keras membantu pertahanan dan sempat melakukan tekel keras pada saat Inggris mulai kehilangan momentum—aksi yang disebut menghidupkan kembali atmosfer stadion yang sebelumnya cenderung sunyi.

