Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mempromosikan potensi wisata kuliner khas Mentok melalui Festival Kuliner Serambi Tanjung. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada 9–10 Oktober 2026 di kawasan Pantai Bozem Teluk Rubiah.
Lurah Tanjung Gusti Indah mengatakan festival tersebut akan menghadirkan beragam kuliner lokal dan produk khas yang mengangkat nilai keberagaman masyarakat dari unsur etnis Arab, Melayu, dan Tionghoa. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pengembangan potensi lokal yang memadukan unsur kuliner, budaya, ekonomi masyarakat, dan pariwisata.
Ia menilai pengangkatan tiga etnis dalam festival menjadi daya tarik tersendiri karena kuliner tidak terlepas dari perjalanan sejarah serta interaksi masyarakat. Tradisi makanan, minuman, maupun produk lokal kerap lahir dari perjumpaan antarkelompok yang berlangsung dalam waktu panjang.
Melalui Festival Kuliner Serambi Tanjung, pemerintah daerah juga ingin memperkenalkan keberagaman tersebut kepada masyarakat, terutama generasi muda, sekaligus menunjukkan bahwa perbedaan budaya dapat menjadi kekuatan dalam membangun identitas daerah.
Selain sajian kuliner, festival ini turut menampilkan produk unggulan masyarakat. Salah satunya Sugja Tea atau teh tayu yang diperkenalkan sebagai The Heritage Tea.
Pemilihan Pantai Bozem Teluk Rumbia sebagai lokasi kegiatan disebut memperkuat karakter festival karena mempertemukan budaya dan kuliner dengan ruang publik pesisir. Dengan demikian, pengalaman yang ditawarkan tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga edukatif.
Festival ini diharapkan dapat berkembang menjadi agenda tahunan untuk memperkuat identitas kawasan sekaligus menjadi ruang perjumpaan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, Fachransyah, menyatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu pola yang dikembangkan pemerintah untuk mengenalkan berbagai potensi wisata di daerah itu.
Ia menjelaskan Kelurahan Tanjung yang berada di pusat Kota Mentok telah lama menjadi pusat aktivitas perekonomian masyarakat sejak kota tersebut berdiri. Kondisi itu turut membentuk beragam budaya yang berkembang di tengah masyarakat setempat.
Fachransyah juga menyinggung keberadaan Kelenteng Kong Fuk Miaw yang berdiri berdampingan dengan Masjid Jamik Mentok sebagai simbol kebersamaan yang telah terjalin sejak ratusan tahun lalu. Menurutnya, kebersamaan tersebut juga tercermin dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.