Aroma kelapa bakar dan gula merah dari sebuah gerobak di Ragunan mendadak menjadi bahan pembicaraan luas.
Ia bukan sekadar wangi makanan, melainkan penanda bahwa sesuatu yang tua masih berusaha bernapas di kota yang terus berlari.
Judul tentang kue rangi menanjak di percakapan digital karena menyentuh rasa yang jarang disentuh berita harian.
Bukan sensasi, bukan skandal, melainkan kerinduan yang diam-diam dimiliki banyak orang.
-000-
Mengapa Kue Rangi Menjadi Tren
Isu ini menjadi tren pertama karena menghadirkan kontras yang kuat.
Di satu sisi ada kuliner modern yang serba cepat.
Di sisi lain ada proses manual, arang, dan kesabaran, yang membuat orang merasa kembali pada ritme hidup yang lebih manusiawi.
Alasan kedua, kisahnya bertumpu pada figur nyata.
Rahman, 58 tahun, bukan tokoh rekaan.
Ia pedagang yang memulai pada 1998, bertahan lebih dari seperempat abad, dan mengakui pembeli tak seramai dulu.
Kejujuran semacam ini mudah memantik empati.
Alasan ketiga, ada kecemasan kolektif di balik cerita sederhana.
Ketika Rahman berkata ia sayang bila kue rangi hilang, publik membaca itu sebagai pertanyaan besar.
Jika satu jajanan bisa lenyap, apa lagi yang bisa hilang dari kota dan dari diri kita?
-000-
Di Trotoar Ragunan, Tradisi Memasak Menjadi Narasi
Menjelang sore di Jalan Harsono, Ragunan, gerobak logam bertuliskan “KUE RANGI” berdiri dekat jalur sepeda.
Deru kendaraan lewat tanpa henti.
Namun di sela kebisingan itu, bara dari tungku kayu menyala, seolah menolak padam meski zaman berganti.
Cetakan besi memanjang dipanaskan.
Adonan tepung sagu dan kelapa parut dituangkan satu per satu, menuntut ketelatenan yang tak bisa dipercepat.
Rahman menunggu hingga bagian bawah kue kecokelatan dan renyah.
Lalu saus gula merah kental disiramkan, sebelum kue dipotong menjadi beberapa bagian.
Ada suara cetakan bersentuhan dengan bara.
Ada asap kayu yang menempel pada ingatan, menghadirkan pengalaman yang sulit ditemukan pada jajanan instan yang serba rapi.
Pembeli datang silih berganti.
Ada yang menyantap di tempat, ada yang membawa pulang, seakan ingin menyelipkan sepotong masa lalu ke dalam perjalanan pulang.
Tekstur renyah di bawah dan lembut di atas menghadirkan keseimbangan.
Gurih kelapa bertemu manis gula merah, tanpa perlu kemasan mewah untuk meyakinkan siapa pun.
-000-
Rahman dan Etika Bertahan
Bagi Rahman, gerobak bukan sekadar alat mencari nafkah.
Ia adalah warisan keluarga, dan juga bukti bahwa pekerjaan yang tampak kecil bisa memikul tanggung jawab budaya yang besar.
Rahman mulai berjualan pada 1998 setelah membantu kakaknya lebih dahulu.
Dari hasil bekerja, ia membeli gerobak sendiri, berjualan keliling, lalu menetap di kawasan Ragunan.
Ia mengakui penghasilan tidak besar.
Namun ia tetap bertahan karena merasa sayang bila kuliner tradisional Betawi makin sulit ditemui.
Di sini, bertahan bukan romantika.
Ia adalah keputusan harian untuk tetap membuka lapak, meski selera publik bergerak cepat, dan perhatian sering berpihak pada yang viral.
Rutinitasnya dimulai pukul 03.00.
Ia memilih kelapa yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, karena rasa yang pas tidak lahir dari kebetulan.
Kelapa diparut dan dicampur tepung sagu serta sedikit garam.
Saus gula merah dibuat sendiri dari gula merah, gula pasir, daun pandan, dan sedikit tepung agar kental.
Yang paling menentukan adalah pilihan energi.
Rahman mempertahankan arang, meski lebih lama daripada kompor gas, karena hasilnya berbeda, renyahnya khas, aromanya lebih harum.
Ia menyebut banyak pelanggan justru mencari perbedaan itu.
Dalam kalimat itu, ada pelajaran tentang kualitas yang tidak selalu bisa dinegosiasikan.
-000-
Perubahan Selera dan Pasar Perhatian
Tantangan terbesar yang disebut Rahman adalah perubahan selera masyarakat.
Jajanan kini banyak sekali, dan anak-anak cenderung memilih makanan yang sedang viral.
Jika dulu orang lewat mengenali kue rangi, kini banyak yang bertanya, ini makanan apa.
Pernyataan itu terdengar sederhana.
Namun ia menggambarkan pergeseran besar, ketika pengetahuan kuliner lokal tidak lagi diwariskan otomatis melalui perjumpaan sehari-hari.
Di kota, ruang perjumpaan semakin diganti oleh layar.
Yang mudah dibagikan sering mengalahkan yang pelan dinikmati.
Yang fotogenik sering mengalahkan yang historis.
Dalam ekonomi perhatian, tradisi kerap kalah bukan karena buruk.
Ia kalah karena tidak punya mesin promosi, tidak punya waktu membuat sensasi, dan tidak punya ruang untuk mempercepat proses.
-000-
Isu Besar Indonesia: Identitas Kota, UMKM, dan Warisan Takbenda
Kisah kue rangi menempel pada isu besar Indonesia tentang identitas kota.
Jakarta tumbuh sebagai pusat modernitas, tetapi pertanyaannya, modernitas seperti apa yang ingin dipertahankan tanpa memutus akar?
Ia juga terkait UMKM, bukan sebagai slogan.
Di gerobak kecil itu, ada kerja panjang, jam kerja dini hari, dan keahlian yang dibentuk oleh pengalaman, bukan kursus singkat.
Lebih jauh, kue rangi adalah contoh warisan budaya takbenda yang hidup.
Warisan semacam ini tidak bisa disimpan hanya sebagai arsip.
Ia harus dimasak, dijual, dibeli, dan dimakan, agar tetap menjadi praktik sosial, bukan sekadar nostalgia.
Ketika pelanggan lama datang bersama anak dan cucu, ada proses pewarisan.
Itu pendidikan rasa, pendidikan ingatan, dan pendidikan identitas, yang terjadi tanpa ruang kelas.
-000-
Kerangka Konseptual: Mengapa Makanan Tradisional Mudah Tergusur
Riset tentang perilaku konsumen menunjukkan selera dipengaruhi paparan, kebiasaan, dan lingkungan sosial.
Ketika paparan terhadap jajanan tradisional berkurang, pengetahuan dan preferensi ikut melemah.
Dalam kajian warisan budaya takbenda, tradisi bertahan jika ada komunitas yang terus mempraktikkan dan memaknainya.
Jika praktiknya putus, warisan berubah menjadi cerita, lalu menjadi catatan, lalu menghilang dari kehidupan sehari-hari.
Kajian tentang urbanisasi juga sering menekankan tekanan ruang kota.
Ruang berdagang, biaya hidup, dan perubahan arus mobilitas memengaruhi pedagang kecil, terutama yang bergantung pada lalu lintas pejalan kaki.
Di sisi lain, ada dimensi psikologis yang penting.
Aroma dan rasa adalah pemantik memori yang kuat, sehingga makanan tradisional sering menjadi jangkar emosi.
Itulah mengapa satu gerobak bisa memicu percakapan nasional.
Ia menyentuh memori kolektif yang selama ini tertutup rutinitas.
-000-
Rujukan Luar Negeri: Ketika Jajanan Tradisional Menjadi Simbol Perlawanan Sunyi
Di berbagai negara, kisah serupa kerap muncul.
Pedagang makanan tradisional bertahan di tengah gempuran kuliner modern, dan publik merespons karena merasa ada identitas yang dipertaruhkan.
Di Jepang, misalnya, banyak usaha makanan kecil lintas generasi menghadapi tantangan perubahan demografi dan selera.
Di sejumlah kota besar, liputan tentang kios tua sering menjadi pengingat bahwa modernisasi tidak selalu identik dengan penghapusan yang lama.
Di beberapa kota Asia, pedagang kaki lima juga menghadapi tekanan tata kota.
Ketika ruang publik ditata ulang, yang paling rentan adalah usaha kecil yang tidak punya cadangan modal besar.
Rujukan seperti itu membantu melihat kue rangi bukan sebagai anomali lokal.
Ia bagian dari persoalan global tentang bagaimana kota merawat tradisi yang hidup di jalanan.
-000-
Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, publik bisa memulai dari tindakan paling sederhana, membeli dan mengenalkan.
Rahman menyebut pelanggan lama menjadi penopang.
Artinya, keberlanjutan tradisi tidak selalu butuh kampanye besar, tetapi butuh kebiasaan yang konsisten.
Kedua, liputan dan dokumentasi perlu diarahkan untuk memperkuat pemahaman, bukan sekadar membuat sesuatu viral.
Jika orang bertanya “ini makanan apa”, maka jawaban terbaik adalah cerita yang utuh tentang proses, bahan, dan konteks Betawinya.
Ketiga, pemerintah daerah dan pengelola ruang kota dapat memikirkan cara agar pedagang tradisional tetap punya tempat yang manusiawi.
Kehadiran mereka bukan gangguan estetika.
Mereka adalah bagian dari ekosistem budaya kota, selama tertib dan aman, dan selama ruang publik dipahami sebagai ruang hidup.
Keempat, komunitas dan keluarga punya peran penting.
Membawa anak mencicipi kue rangi bukan hanya soal makan.
Itu cara mengajari bahwa identitas tidak dibeli, tetapi dirawat melalui pengalaman.
-000-
Penutup: Asap yang Mengingatkan Kita
Di balik asap arang kue rangi, ada kerja yang berulang dan jarang dipuji.
Ada tangan yang bangun pukul 03.00, memilih kelapa, meracik saus, dan menjaga bara agar panasnya stabil.
Di balik satu potong kue, ada pertanyaan tentang masa depan tradisi Betawi di Jakarta.
Bukan karena tradisi menolak perubahan, tetapi karena perubahan sering datang tanpa sempat bertanya apa yang ingin diselamatkan.
Rahman bertahan dengan cara yang tenang.
Ia tidak mengklaim dirinya pahlawan, tetapi tindakannya menunjukkan bahwa warisan kuliner hidup karena ada orang yang memilih tidak menyerah.
Dan mungkin, di situlah letak pelajaran paling penting dari isu yang menjadi tren ini.
Bahwa yang paling berharga sering hadir dalam bentuk paling sederhana, dan yang paling rapuh sering justru menjadi penyangga ingatan kita.
“Kita tidak mewarisi tradisi dari masa lalu, kita meminjamnya dari masa depan.”

