BERITA TERKINI
22 Tim Ikuti Festival Pangek Paku di Lubuk Basung untuk Meriahkan HUT ke-81 RI

22 Tim Ikuti Festival Pangek Paku di Lubuk Basung untuk Meriahkan HUT ke-81 RI

AGAM — Sebanyak 22 tim ambil bagian dalam Festival Pangek Paku yang digelar untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Tenis Indoor Padang Baru, Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Selasa (11/8/2026).

Setiap tim terdiri dari tiga peserta, yakni dua perempuan dan satu laki-laki. Peserta berasal dari perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Kabupaten Agam, pemerintah nagari se-Kecamatan Lubuk Basung, organisasi wanita, pelaku ekonomi kreatif, serta UMKM.

Festival dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Agam, Muhammad Lutfi AR. Kegiatan ini digelar untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan pangek paku sebagai salah satu kuliner tradisional yang berkembang di Lubuk Basung.

Ketua Panitia HUT ke-81 Kemerdekaan RI Kabupaten Agam, Handria Asmi, menyebut festival menjadi sarana untuk mengenalkan kuliner tradisional tersebut kepada masyarakat yang lebih luas. “Kita ingin memperkenalkan pangek paku itu seperti apa. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Bapak Bupati, Sekda, serta seluruh pihak yang hadir dan terlibat,” ujarnya.

Lebih dari 20 OPD dan instansi terkait turut hadir dan berpartisipasi. Setelah festival, hasil masakan dijadwalkan dibawa ke Balairung untuk dinikmati bersama.

Sekda Agam, Mhd. Lutfi AR, mengatakan festival tetap dilaksanakan di tengah kondisi efisiensi dan keterbatasan fiskal daerah sebagai bagian dari semangat mengisi kemerdekaan. “Dalam kondisi keterbatasan fiskal, kita tetap bersemangat dalam melaksanakan kegiatan untuk memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Tentunya ini merupakan kebahagiaan kita bersama sebagai masyarakat yang telah merdeka,” katanya.

Menurutnya, mengisi kemerdekaan tidak hanya melalui pembangunan, tetapi juga dengan melestarikan budaya, tradisi, dan potensi lokal. Ia menilai penggalian makanan tradisional dapat dikembangkan melalui inovasi, baik dari sisi pengolahan maupun nilai-nilai tradisi yang terkandung di dalamnya. “Kita mencoba menggali makanan tradisional kita dalam bentuk pangek. Dengan inovasi, nantinya kita bisa melakukan pengembangan terhadap apa yang kita miliki, baik dari sisi pengolahan maupun nilai-nilai tradisi yang terdapat dalam pangek paku,” jelasnya.

Festival ini juga menjadi ruang untuk mendorong kreativitas pengolahan kuliner tradisional serta memperkuat keterlibatan pemerintah, organisasi perempuan, pelaku ekonomi kreatif, UMKM, dan masyarakat.

Untuk memperkuat nuansa budaya lokal, para peserta mengenakan pakaian adat khas Lubuk Basung. Peserta perempuan memakai baju basiba dan tingkuluak, sementara peserta laki-laki mengenakan celana batik, baju gunting cino, dan deta.