BERITA TERKINI
Waspadai Tren Berbahaya di Media Sosial, dari Tantangan Blackout hingga Diet Viral

Waspadai Tren Berbahaya di Media Sosial, dari Tantangan Blackout hingga Diet Viral

Sejumlah tren di media sosial dinilai berbahaya dan berpotensi memengaruhi anak-anak serta remaja. Platform penelitian SellCell mengingatkan bahwa dorongan untuk mengikuti tren populer dapat membuat anak muda mengambil risiko tanpa mempertimbangkan dampaknya.

SellCell menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam memantau aktivitas daring anak. Penelitian menunjukkan hampir 42 persen anak menghabiskan lebih dari empat jam per hari di ponsel, sehingga meningkatkan peluang mereka terpapar konten yang tidak sesuai atau berisiko.

Berikut beberapa tren yang disebut perlu menjadi perhatian orang tua:

1. Tantangan Borg
Tren ini melibatkan pencampuran air, vodka, kafein, dan bubuk elektrolit ke dalam galon untuk membuat minuman yang diklaim “tahan mabuk”. Meski tampak tidak berbahaya karena mengandung air dan elektrolit, konsumsi dalam jumlah besar dapat berujung pada asupan alkohol berlebihan.

2. Mulut diselotip saat tidur
Tren menutup mulut dengan selotip saat tidur agar bernapas lewat hidung disebut-sebut dapat meningkatkan kualitas tidur. Namun praktik ini berisiko menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi, hingga bahaya tersedak.

3. Tantangan Blackout
Peserta didorong menahan napas atau mencekik diri sampai pingsan. Tren ini disebut sebagai salah satu yang paling berbahaya karena telah memicu sejumlah kematian dan mendorong anak-anak mengambil risiko ekstrem.

4. Tren Chroming
Tren ini melibatkan menghirup asap dari benda beracun seperti kaleng aerosol dan deodoran semprot untuk memunculkan sensasi sementara. Dampaknya bisa serius, mulai dari serangan jantung, kejang, koma, hingga cedera fatal.

5. Tindik palsu dengan magnet
Penggunaan bola magnet kecil sebagai tindik palsu di wajah atau lidah berbahaya bila magnet tertelan. Kondisi itu dapat menyebabkan penyumbatan usus dan mengancam aliran darah.

6. Tantangan Benadryl
Tren ini mendorong konsumsi obat alergi benadryl dalam dosis besar untuk memicu halusinasi. Overdosis dapat menyebabkan gangguan jantung, kejang, koma, bahkan kematian.

7. Tantangan Cha Cha Slide
Sekilas tampak aman, tetapi tren ini melibatkan mengemudi secara sembarangan mengikuti irama lagu “Cha Cha Slide”. Aksi tersebut berisiko memicu kecelakaan yang mengancam jiwa.

8. Tantangan Deodoran
Tren menyemprotkan deodoran ke kulit telanjang untuk menimbulkan sensasi dingin dapat berakibat luka bakar parah dan cedera kulit yang memerlukan waktu lama untuk pulih.

Perwakilan SellCell, Sarah McConomy, menilai tekanan untuk menyesuaikan diri dengan tren media sosial dapat mengaburkan penilaian anak muda. Karena itu, orang tua dinilai perlu memahami risiko dari tren yang beredar, terlibat dalam aktivitas daring anak, serta mengawasi konten yang mereka akses. Semakin banyak waktu yang dihabiskan di ponsel, semakin besar pula paparan terhadap konten berbahaya.

Selain tantangan berisiko, tren diet juga menjadi perhatian. Sejumlah tren viral di TikTok dinilai tidak selalu layak diikuti, termasuk metode diet yang dianggap tidak sehat.

Salah satu kreator, Tiffany Magee, membagikan menu makan siang untuk diet yang terdiri dari sosis ayam, sayuran mentah dan acar, buah, keju cottage, serta mustard. Konten tersebut menjadi viral dan meraih 100 juta penayangan. Ia mengklaim cara itu membuat berat badannya turun 80 pon atau sekitar 36 kilogram dan akan terus berkurang jika menu tersebut dikonsumsi setiap hari.

Meski menu tersebut tampak mengandung nutrisi, rincian bahan dinilai bermasalah karena penggunaan mustard dalam jumlah banyak, ditambah keju cottage, acar, dan sosis yang disebut setara natrium satu hari dalam sekali makan.

Tren itu memunculkan beragam reaksi. Ada pengguna yang tertarik mencobanya, seperti Lyndee LeBourgeois yang menyebut merasa perlu menambah mustard. Namun ada pula yang menolak, seperti YouTuber Farnum yang memberi nilai rendah dan menyebut istrinya sampai memuntahkannya, serta pengguna @kobanks8 yang menilai banyak orang tidak jujur soal rasanya.

Sejumlah video uji rasa ditandai dengan tagar #weightloss. Situasi ini dinilai berisiko karena sebagian orang bisa tidak memahami bahwa menu viral tersebut sebenarnya tidak sehat.

Ahli diet Heather Martin menekankan bahwa berat badan bukan ukuran yang dapat diandalkan untuk menggambarkan kondisi nutrisi secara menyeluruh. Menurutnya, fokus seharusnya pada makanan yang dikonsumsi dan tingkat aktivitas. Ia juga menegaskan tujuan utama bukan menjadi kurus, melainkan sehat dan menjalani hidup yang lebih baik.

Dalam konteks ini, keterlibatan orang tua kembali ditekankan untuk membantu anak dan remaja bersikap lebih kritis terhadap tren yang beredar, sekaligus mengurangi risiko mengikuti tantangan atau pola makan yang dapat membahayakan kesehatan.