JAKARTA — Praktik puasa intermiten dengan metode makan hanya satu kali sehari atau One Meal A Day (OMAD) kian banyak dipilih sebagai cara mengatur berat badan. Namun, ahli gizi mengingatkan bahwa pola makan ekstrem ini dapat membawa risiko kesehatan jika dilakukan terus-menerus, terutama karena tubuh tetap membutuhkan asupan energi dan nutrisi secara berkala.
Menurut penjelasan ahli gizi, mengabaikan kebutuhan makan dalam rentang waktu panjang dapat berdampak pada organ pencernaan dan metabolisme. Salah satu organ yang dinilai rentan terdampak adalah kantung empedu, yang berperan penting dalam pencernaan lemak dan penyerapan nutrisi.
Kantung empedu berfungsi menyimpan dan melepaskan cairan empedu yang dibutuhkan untuk mencerna lemak. Biasanya, setiap kali seseorang makan, cairan empedu akan dilepaskan untuk membantu proses pencernaan. Dalam pola OMAD, cairan empedu cenderung tertahan lebih lama karena frekuensi makan yang sangat jarang.
Kondisi tersebut dapat memicu stagnasi empedu, yang berpotensi menimbulkan endapan dan berkembang menjadi batu empedu. Risiko ini menjadi salah satu perhatian bagi orang yang rutin menjalani puasa intermiten secara ekstrem, sehingga pemahaman mengenai pola makan yang lebih aman dinilai penting.
Untuk meminimalkan risiko gangguan pencernaan dan menjaga fungsi kantung empedu, ahli gizi menyarankan pola makan yang lebih seimbang dengan waktu makan yang teratur. Salah satu alternatif yang disebut lebih aman adalah puasa malam selama 12 jam, misalnya makan malam sebelum pukul 19.00 lalu sarapan pada pukul 07.00. Pola ini dinilai memberi kesempatan tubuh mencerna makanan dengan baik sekaligus membantu menjaga stabilitas metabolisme.
Selain itu, jarak waktu sekitar tiga hingga empat jam antara sarapan dan makan siang juga dianjurkan. Jeda tersebut disebut dapat membantu mencegah makan berlebihan dan memudahkan kontrol kadar gula darah, sekaligus menjaga energi tubuh sepanjang hari.
Ahli gizi juga menekankan pentingnya waktu makan di pagi hari. Mengonsumsi makanan sekitar satu jam setelah bangun tidur disebut dapat mendukung metabolisme dan membantu menjaga konsistensi kadar gula darah untuk memulai aktivitas harian.
Di sisi lain, jarak antara makan terakhir dan waktu tidur juga perlu diperhatikan. Dianjurkan untuk berhenti makan setidaknya tiga jam sebelum tidur agar tubuh memiliki waktu mencerna makanan, yang pada gilirannya dapat mendukung kualitas tidur. Kualitas tidur yang baik turut berpengaruh pada fungsi tubuh, termasuk sistem pencernaan, hormon, dan metabolisme.
Jika kebiasaan makan sekali sehari dilakukan terus-menerus, risiko masalah kesehatan jangka panjang disebut dapat meningkat. Selain gangguan pada kantung empedu, metabolisme tubuh juga berpotensi terganggu karena tubuh memerlukan pasokan energi yang lebih teratur. Dalam beberapa kasus, diet ekstrem dapat disertai keluhan seperti gangguan pencernaan dan nyeri perut, serta berdampak pada kondisi mental berupa energi rendah, penurunan konsentrasi, dan perubahan suasana hati.
Untuk menjaga kesehatan saat menjalani puasa, ahli gizi menyarankan agar waktu makan tetap teratur dan asupan nutrisi dipenuhi secara lengkap, termasuk protein, lemak sehat, serta karbohidrat kompleks. Pengaturan porsi dan frekuensi makan juga diperlukan agar tidak berlebihan, disertai kecukupan minum air untuk mendukung proses metabolisme. Kombinasi pola makan sehat dan tidur cukup dinilai lebih bermanfaat bagi kesehatan secara keseluruhan dibanding hanya mengandalkan satu kali makan dalam sehari.

