Banyuwangi — Rekaman video yang memperlihatkan belatung menempel pada lauk tahu goreng yang disebut berasal dari menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Banyuwangi beredar luas di media sosial. Unggahan tersebut memicu beragam tanggapan kritis dari warganet.
Menanggapi hal itu, pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyatakan proses pengolahan bahan pangan telah dijalankan sesuai standar operasional prosedur. Kepala SPPG Gendoh, Agis Danistha, menjelaskan tahu putih diolah secara mandiri melalui tahapan penggorengan dan pembumbuan, dengan suhu memasak yang diklaim telah mengikuti ketentuan teknis agar makanan matang sempurna.
Menurut Agis, panas saat proses penggorengan semestinya membuat organisme seperti belatung tidak dapat bertahan hidup. Ia menyebut penyiapan hidangan dilakukan bertahap, mulai dari pemilihan bahan baku segar hingga pemrosesan di dapur umum, sebagai bagian dari prosedur untuk memastikan keamanan sajian sebelum dikonsumsi penerima manfaat.
Setelah dimasak, makanan didinginkan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke wadah ompreng resmi dan disegel rapat. Pengemasan tertutup, kata dia, dilakukan untuk menjaga kerapian dan kebersihan makanan selama distribusi ke sekolah.
Agis membenarkan bahwa tahu goreng termasuk menu yang dibagikan pada hari kejadian. Namun, ia menyangsikan belatung berasal dari fasilitas dapurnya setelah menelaah unggahan yang beredar. Alasannya, makanan dalam video disebut tidak berada di wadah ompreng standar instansi.
Pengelola juga menyinggung aturan Badan Gizi Nasional yang menyatakan penerima manfaat tidak diperbolehkan membawa pulang paket makanan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, sajian dalam video unggahan wali murid disebut diletakkan pada wadah pribadi milik siswa dan diduga baru diperiksa setelah dibawa pulang ke rumah murid yang bersangkutan.
Pada hari pendistribusian tersebut, layanan MBG di wilayah itu mencakup 3.065 penerima manfaat di 27 lembaga pendidikan. Dugaan temuan belatung pada lauk tahu goreng dilaporkan hanya terjadi dalam satu kasus di satu sekolah di Karangsari, Kecamatan Sempu.
Pengelola menyatakan tidak ada laporan kendala kebersihan makanan dari puluhan sekolah penerima lainnya pada wilayah layanan yang sama. Mereka menekankan pentingnya kepatuhan terhadap aturan konsumsi makanan di lingkungan sekolah untuk mencegah risiko kontaminasi dari luar.