Tren media sosial kembali memunculkan fenomena baru yang ramai diperbincangkan, yakni “Strava Fridge”. Tren ini menampilkan konten kreatif di depan lemari pendingin minimarket atau supermarket, dengan cara meletakkan ponsel di dalam kulkas untuk merekam momen seolah-olah seseorang sedang mengambil minuman melalui gerakan membuka dan menutup pintu.
Video kemudian dipadukan dengan data statistik olahraga dari aplikasi Strava, sehingga memberi kesan gaya hidup aktif yang populer di kalangan pelari dan pesepeda. Namun, di balik konten yang terlihat menarik, tren tersebut dinilai menyimpan risiko keamanan pangan karena melibatkan aktivitas membuka-tutup pintu kulkas lebih sering dan lebih lama dari semestinya.
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Dr. Ir. Epi Taufik, S.Pt., M.Si., MVPH., IPM., menjelaskan bahwa lemari pendingin komersial di minimarket dan supermarket didesain dengan pintu berkaca bening untuk tujuan teknis. Kaca transparan itu memungkinkan pelanggan melihat isi kabinet pendingin dari luar, sehingga dapat menentukan pilihan produk tanpa perlu membuka pintu dalam waktu lama.
Menurut Prof. Epi, prosedur penggunaan kulkas komersial yang tepat perlu dijaga. Pelanggan diharapkan sudah menetapkan pilihan sebelum menyentuh gagang pintu, lalu membuka pintu hanya saat mengambil produk agar suhu dingin tetap konsisten. Ia juga mengingatkan agar kebiasaan mencari-cari pilihan atau berdiam lama dengan pintu terbuka dihindari.
Ia menekankan bahwa membuka pintu kulkas terlalu lama atau terlalu sering dapat memicu fluktuasi suhu. Setiap kali pintu terbuka, udara hangat dari luar masuk ke dalam kabinet pendingin, sehingga kestabilan suhu terganggu dan berpotensi menurunkan kualitas produk yang disimpan.
Meski dampaknya mungkin tampak kecil bila dilakukan satu orang, Prof. Epi menilai risikonya menjadi lebih besar jika terjadi berulang sepanjang hari. Ia bahkan mengingatkan dampak kolektif apabila banyak orang melakukan hal serupa. “Jika dilakukan oleh 100 orang, suhu di dalam pendingin bisa naik-turun secara drastis sepanjang hari,” tegasnya.
Prof. Epi juga membagikan pengalamannya saat berada di luar negeri, di mana kesadaran terhadap keamanan pangan disebut sudah tinggi. Di sejumlah supermarket mancanegara, ia kerap menjumpai stiker peringatan yang meminta pembeli memilih produk terlebih dahulu sebelum membuka pintu kulkas. Langkah itu ditujukan untuk menjaga higienitas dan keamanan produk yang disimpan.
Dalam penjelasannya, kestabilan suhu disebut menjadi kunci untuk mencegah berkembangnya bakteri pada produk pangan sensitif, seperti susu atau minuman kemasan lainnya. Karena itu, kebiasaan membuka pintu kulkas demi kebutuhan pengambilan gambar dinilai berisiko mengganggu kualitas penyimpanan.
Perbedaan antara penggunaan kulkas yang benar dan aktivitas dalam tren “Strava Fridge” terlihat pada tujuan dan durasi pintu terbuka. Pada penggunaan yang semestinya, pintu dibuka singkat hanya untuk mengambil produk yang sudah dipilih, sehingga suhu tetap stabil. Sementara dalam tren viral, pintu cenderung terbuka lebih lama untuk kebutuhan visual, yang dapat menyebabkan suhu berfluktuasi dan kualitas produk berisiko turun.
Dampak lain yang disorot adalah potensi kerugian bagi pengelola toko maupun konsumen lain. Fluktuasi suhu yang terjadi terus-menerus dapat membuat mesin pendingin bekerja lebih keras dan kurang efisien. Di sisi lain, kualitas produk yang disimpan bergantung pada kondisi suhu yang terjaga.
Prof. Epi menilai desain kulkas minimarket modern pada dasarnya dibuat untuk memudahkan konsumen sekaligus melindungi keamanan pangan. Karena itu, masyarakat disarankan tidak mengikuti tren “Strava Fridge” dan tetap menjaga etika berbelanja dengan menentukan pilihan melalui kaca transparan sebelum membuka pintu.
Dengan membatasi durasi pintu terbuka hanya saat pengambilan produk, konsumen dinilai turut membantu menjaga kebersihan, kesegaran, serta standar keamanan pangan di lingkungan sekitar.

