Tren membagikan atau “flexing” angka resting heart rate (detak jantung saat istirahat) ramai di media sosial. Sebagian warganet menganggap angka yang semakin rendah otomatis menandakan kondisi tubuh lebih sehat dan bugar. Namun, anggapan tersebut tidak selalu tepat.
Resting heart rate adalah jumlah denyut jantung per menit ketika tubuh berada dalam kondisi istirahat. Angka ini kerap dipantau melalui jam tangan pintar atau aplikasi kesehatan, lalu dijadikan bahan perbandingan antar pengguna.
Meski demikian, menilai kesehatan hanya dari satu angka dapat menimbulkan salah paham. Detak jantung saat istirahat dipengaruhi banyak faktor dan tidak selalu bisa disimpulkan secara sederhana bahwa “semakin rendah pasti semakin sehat”.
Dalam konteks kebugaran, detak jantung istirahat yang lebih rendah bisa saja berkaitan dengan kondisi jantung yang lebih efisien, misalnya pada orang yang rutin berolahraga. Namun, angka rendah juga dapat muncul karena kondisi lain dan tidak otomatis menjadi indikator tunggal kesehatan.
Selain itu, pembacaan dari perangkat konsumen juga dapat bervariasi tergantung cara pemakaian, kondisi tubuh saat pengukuran, serta perbedaan sensor. Karena itu, membandingkan angka antar orang tanpa memahami konteks masing-masing dapat menyesatkan.
Tren “flexing” resting heart rate pada akhirnya lebih tepat dipahami sebagai kebiasaan berbagi data kebugaran, bukan tolok ukur pasti untuk menilai siapa yang paling sehat. Untuk menilai kondisi kesehatan, diperlukan gambaran yang lebih menyeluruh dan, bila diperlukan, pemeriksaan medis.