Tren video “mirip pewaris” atau “pewaris kekayaan di jalanan” tengah viral di media sosial, terutama di TikTok. Dalam tren ini, peserta menampilkan gaya hidup serba mewah layaknya orang kaya atau pewaris, lengkap dengan mobil premium, pengawal, serta tim produksi profesional—semuanya demi video berdurasi singkat yang bisa dibuat dalam hitungan puluhan detik.
Untuk menciptakan citra “gadis media sosial yang modis” hanya dalam sekitar 45 detik, sebagian orang tidak ragu mengeluarkan biaya besar. Paket layanan yang ditawarkan mencakup penyewaan mobil mewah, pengawal profesional, kru film dan pencahayaan, hingga kebutuhan busana dan aksesori.
Di Kota Ho Chi Minh, pengusaha berusia 32 tahun, Nguyen Bich Hong Diem, menghabiskan hampir 40 juta VND untuk sesi pengambilan gambar di sebuah pusat perbelanjaan. Biaya itu digunakan untuk menyewa empat pengawal dengan tinggi lebih dari 1,8 meter, kru film, serta membeli pakaian rancangan khusus dan perhiasan berlian.
Diem menjelaskan, ia ingin membangun citra yang canggih dan berpengaruh di dunia online guna mendukung pekerjaannya.
Sementara itu di Hanoi, Hoai Thu (23) menghabiskan 6 juta VND untuk paket serupa di kawasan jalan pejalan kaki Ho Guom. Paket tersebut mencakup mobil VinFast VF 9, dua pengawal, dan tiga juru kamera. Thu juga berlatih selama tiga hari untuk menyempurnakan postur saat keluar dari mobil serta gerakan berbalik badan. Video yang dihasilkan disebut telah ditonton hampir dua juta kali.
Tren “pewaris kekayaan di jalanan” disebut bermula dari film pendek Tiongkok yang menggambarkan perempuan mandiri secara finansial, pengusaha sukses, atau mereka yang berasal dari keluarga kaya. Dari sana, tren menyebar ke sejumlah negara Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Vietnam melalui TikTok.
Tran Binh, pemilik studio di Kota Ho Chi Minh yang telah bekerja hampir satu dekade, mengatakan dalam dua minggu terakhir ia menerima ratusan konsultasi dari calon klien. Menurutnya, tren ini berbeda dari video fashion biasa karena membutuhkan tim profesional beranggotakan 5–10 orang, termasuk sutradara fotografi, teknisi pencahayaan, asisten yang berperan sebagai pengawal, serta peralatan pencahayaan berkekuatan tinggi. Dengan kebutuhan tersebut, biaya pembuatan dan pengeditan paket dapat mencapai puluhan juta VND.
Dosen Akademi Wanita Vietnam, Hoang Ha, menilai tren ini mencerminkan kebutuhan kehidupan modern yang menyesuaikan diri dengan selera digital. Pemilihan ruang publik seperti pusat perbelanjaan atau hotel besar, menurutnya, dimaksudkan untuk memanfaatkan efek keramaian. Peserta tidak hanya ingin mengunggah video, tetapi juga merasakan sensasi diperhatikan secara langsung.
“Bagi banyak anak muda, kekayaan bukan lagi tujuan yang jauh, tetapi telah menjadi model yang dapat mereka coba dan tiru,” kata Ha. Ia menilai hal itu menunjukkan berkembangnya ekonomi pengalaman, ketika nilai-nilai tak berwujud seperti emosi dan cerita ikut “dijual” bersama produk. Semakin unik dan personal pengalaman yang ditawarkan, semakin tinggi pula harga yang bersedia dibayar.
Meski begitu, Ha mengingatkan adanya dampak dua arah dari pengeluaran berlebihan demi membangun citra. Menurutnya, kebiasaan mensimulasikan kehidupan yang tidak mencerminkan realitas keuangan menuntut peserta untuk membedakan dengan jelas antara hiburan dan kehidupan nyata, agar tidak terjebak pengeluaran berlebihan atau tekanan psikologis akibat ekspektasi yang tidak realistis.

