Memasuki pertengahan 2026, pergeseran budaya mulai terasa di kalangan masyarakat urban Indonesia. Setelah beberapa tahun terakhir diwarnai obsesi terhadap data dari smartwatch dan aplikasi produktivitas, kini muncul arus balik yang dikenal sebagai Over-Optimization Backlash. Fenomena ini ramai diperbincangkan seiring meningkatnya keluhan profesional muda yang merasa lelah dengan tuntutan untuk selalu tampil optimal di setiap aspek kehidupan.
Over-optimization merujuk pada kondisi ketika seseorang terjebak dalam kebiasaan mengukur terlalu banyak hal secara berlebihan. Aktivitas sehari-hari seperti jumlah langkah kaki, asupan kalori, hingga kualitas tidur dituntut mencapai skor tertentu di aplikasi. Perangkat yang awalnya dirancang untuk membantu menjaga kesehatan, dalam praktiknya justru dapat memunculkan kecemasan baru ketika target digital itu tidak terpenuhi.
Pakar gaya hidup sehat Dr. Andi Wijaya menilai situasi ini sebagai gejala yang perlu dicermati. Ia mengingatkan bahwa manusia bukan perangkat lunak yang dapat terus diperbarui tanpa batas. Menurutnya, banyak orang mulai kehilangan esensi dari aktivitas itu sendiri—berjalan kaki bukan lagi untuk menikmati udara pagi, melainkan demi mengejar angka sepuluh ribu langkah di layar. Tekanan untuk selalu berada pada indikator “hijau” di aplikasi kesehatan, kata dia, kerap memicu stres kronis yang justru kontraproduktif bagi kesehatan mental.
Salah satu pemicu munculnya kejenuhan terhadap tren ini adalah hilangnya spontanitas. Ketika setiap jam dalam sehari disusun ketat oleh algoritma produktivitas, ruang untuk kreativitas dan kegembiraan yang muncul secara mendadak ikut menyempit. Di saat yang sama, muncul pula kecemasan performa: perasaan kurang produktif atau kurang sehat hanya karena data pribadi terlihat di bawah rata-rata orang lain, terutama ketika perbandingan itu berlangsung di media sosial.
Gerakan Backlash kemudian mendorong masyarakat untuk kembali pada konsep kemanusiaan yang lebih jujur dan tidak selalu rapi. Salah satu pendekatan yang mulai populer adalah Intuitive Living, yakni pola hidup yang lebih mengandalkan sinyal alami tubuh dibandingkan notifikasi aplikasi. Ketika merasa lapar, seseorang dianjurkan makan tanpa harus sibuk menghitung setiap gram nutrisi di depan layar.
Selain itu, gerakan ini juga menekankan pentingnya menghargai waktu untuk tidak melakukan apa pun tanpa rasa bersalah. Di tengah tuntutan efisiensi maksimal, keberanian untuk berhenti sejenak dan menikmati keheningan disebut sebagai kemewahan baru. Nilai interaksi sosial pun ikut ditekankan, dengan percakapan tatap muka yang mendalam dinilai lebih bermakna dibanding sekadar menambah koneksi di platform profesional yang sering terasa hambar.
Pada akhirnya, pesan yang mengemuka dari fenomena ini adalah penegasan bahwa teknologi dan optimasi semestinya menjadi pelayan bagi kehidupan, bukan majikan yang mengatur segalanya. Mengambil jeda di akhir pekan dengan mematikan notifikasi pelacak aktivitas dapat menjadi langkah awal untuk memulihkan kesehatan mental. Bagi sebagian orang, kualitas hidup justru terasa meningkat ketika mereka berhenti mencoba memperbaiki semuanya setiap waktu dan mulai menjalani hari dengan lebih apa adanya.

