Sejumlah warganet membagikan video mukbang mentega dan margarin tanpa diolah. Dalam beberapa unggahan, keduanya juga dipadukan dengan krim cokelat.
Menanggapi tren tersebut, pakar gizi dari IPB University, Prof Sri Anna Marliyati, mengimbau masyarakat tidak asal mengikuti tren tanpa memahami risikonya. Ia menekankan, mentega dan margarin merupakan sumber lemak yang padat energi sehingga bukan termasuk pangan yang perlu dikonsumsi secara langsung dalam jumlah banyak.
“Margarin merupakan sumber lemak yang sangat padat energi. Satu gram lemak menghasilkan sekitar 9 Kkal, sehingga konsumsi langsung dalam jumlah banyak dapat dengan cepat meningkatkan asupan energi,” kata Prof Sri dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (9/10/2026).
Prof Sri menjelaskan, margarin tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai pangan yang buruk. Namun, yang perlu diperhatikan adalah komposisi asam lemak, jumlah konsumsi, serta pola makan secara keseluruhan.
Menurut dia, margarin lunak—terutama yang dibuat dari minyak nabati—umumnya memiliki proporsi lemak tak jenuh lebih tinggi dibandingkan mentega yang mengandung lebih banyak lemak jenuh. Meski demikian, kandungan asam lemak trans tetap perlu menjadi perhatian dalam memilih produk.
Ia menyarankan margarin digunakan secukupnya, misalnya sebagai olesan roti atau untuk menumis sayuran. Penggunaan margarin dalam jumlah berlebihan pada makanan seperti martabak manis juga perlu dicermati karena dapat meningkatkan asupan lemak dan energi.