Pernikahan kerap dianggap sebagai salah satu tujuan hidup penting. Namun, tidak sedikit orang—terutama anak muda—mengaku cemas bahkan takut untuk melangkah ke jenjang tersebut. Di media sosial, keresahan itu belakangan ramai diperbincangkan lewat tagar “marriage is scary” atau “pernikahan itu menakutkan”, yang banyak muncul setelah beredar berbagai kabar tentang keretakan rumah tangga.
Maria (24), perempuan asal Pontianak, menilai fenomena itu bukan hal yang mengejutkan. Menurutnya, ketakutan terhadap pernikahan sudah umum di kalangan generasi muda. Ia menyebut salah satu pemicunya adalah maraknya konten media sosial yang menggambarkan kehidupan rumah tangga tidak bahagia hingga berujung perceraian, termasuk cerita kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan pengalaman buruk lain yang kerap viral.
“Sekarang kita tahu media sosial mudah diakses. Orang-orang yang menikah berbagi pengalaman terkait nggak enaknya kehidupan setelah menikah,” ujar Maria.
Selain faktor emosional, Maria juga menyinggung kekhawatiran finansial. Baginya, biaya hidup yang berpotensi meningkat setelah menikah menjadi beban pikiran tersendiri. “Jujur aku pernah kepikiran untuk nggak menikah, bisa dibilang aku salah satu yang kena doktrin ini,” katanya.
Psikolog Klinis Farraas A. Muhdiar, M.Sc., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa ketakutan menikah tidak hanya dipengaruhi informasi negatif di media sosial, tetapi juga berkelindan dengan faktor psikologis dan sosial. Ia menyebut, kecemasan bisa muncul dari pengalaman pribadi, tekanan finansial, hingga ekspektasi sosial yang membebani.
Menurut Farraas, pengalaman traumatis menjadi salah satu penyebab utama. Misalnya, seseorang dibesarkan dalam keluarga dengan relasi pernikahan yang tidak sehat—baik karena orang tua bercerai maupun tetap bersama tetapi tidak bahagia. “Mungkin memang pengalaman traumatis, mungkin dibesarkan oleh orang tua yang hubungan pernikahannya tidak baik, entah bercerai atau justru kenapa nggak cerai-cerai padahal tidak bahagia,” kata Farraas dalam Webinar bertajuk Marriage Is Scary yang dilaksanakan oleh Rumah Cahaya, belum lama ini.
Dari pengalaman semacam itu, menurutnya, bisa muncul keyakinan bahwa menikah hanya akan membawa penderitaan. “Ada perasaan yang muncul, ‘Ya kalau gitu, nggak usah nikah daripada nikah itu menderita,’” ujarnya.
Farraas menambahkan, tuntutan finansial juga menjadi faktor yang membuat banyak orang ragu melangkah ke pernikahan, terlebih di tengah biaya hidup yang kian mahal. Di sisi lain, ekspektasi sosial turut memperkuat beban psikologis. “Masyarakat seringkali menuntut standar pernikahan yang sempurna, baik secara sosial maupun material,” katanya.
Ia juga menyoroti kondisi ketika seseorang merasa belum siap secara psikologis karena masih memiliki “pekerjaan rumah” yang perlu diselesaikan dalam diri. “Kalau sudah banyak belajar tentang kesehatan mental mungkin ini yang dirasakan,” tuturnya.
Terkait cara menghadapi ketakutan menikah, Farraas menyarankan langkah awal berupa upaya mengenal diri sendiri. Ia menekankan pentingnya proses memahami siapa diri kita, apa yang diinginkan, dan apa yang bisa ditawarkan dalam sebuah hubungan, meskipun manusia pada dasarnya tidak pernah benar-benar “selesai” dengan dirinya.
Langkah berikutnya adalah memilih pasangan yang tepat. Farraas menilai, jika seseorang belum beres dengan dirinya sendiri, ia berisiko kesulitan menentukan pasangan yang sesuai. “Kalau kita nggak selesai dengan diri kita, bisa jadi kita ketemu pasangan yang tidak tepat,” ujarnya.
Komunikasi sehat juga disebut sebagai fondasi penting. Farraas mendorong komunikasi asertif, yakni kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan tanpa menyakiti pasangan. Ia mengingatkan adanya dua pola ekstrem yang perlu dihindari: agresif dan pasif. “Yang nggak sehat itu antara dua titik ekstrim antara agresif jadi orang yang komunikasinya agresif tuh nggak peduli sama perasaan orang lain,” katanya. Menurutnya, sikap pasif pun dapat merusak hubungan karena membuat seseorang tidak berani mengungkapkan perasaan sama sekali.
Farraas juga menilai kecemasan sering dipicu oleh gambaran pernikahan yang sempurna, padahal kenyataannya pernikahan tidak mungkin tanpa masalah. Ia menyarankan agar orang lebih realistis dan menilai apakah ketakutan yang muncul berbasis fakta atau sekadar imajinasi. “Faktanya pernikahan memang nggak mungkin sempurna tapi harusnya pernikahan itu bisa memberikan rasa aman, rasa nyaman dan ketenangan,” ujarnya.
Jika merasa belum siap menikah, Farraas mengingatkan agar kesimpulannya bukan serta-merta menutup pintu pernikahan. Ia mendorong persiapan diri agar siap bertemu pasangan yang tepat dan membangun relasi yang sehat. “Tapi kesimpulannya ya ayo siapin diri. Supaya nanti siap ketemu orang yang tepat dan akhirnya bisa bahagia dengan pernikahannya,” katanya.
Dalam pandangannya, pernikahan yang sehat justru dapat membawa dampak positif bagi kehidupan, termasuk dari sisi psikologis, fisik, dan finansial. Ia menyebut riset menunjukkan bahwa bagi laki-laki, pernikahan kerap dikaitkan dengan kondisi yang lebih sehat, tujuan hidup lebih jelas, dan kebahagiaan yang lebih baik. Sementara bagi perempuan, manfaat pernikahan menurutnya bergantung pada kualitas hubungan itu sendiri—terutama jika ada komunikasi yang baik dan saling mendukung.
Farraas juga menyinggung pernikahan sebagai kesempatan membangun support system baru, terutama bagi mereka yang merasa kurang mendapatkan dukungan dari keluarga. Dari sisi keuangan, ia menilai pernikahan dapat mendorong pasangan memiliki tujuan finansial bersama, meski pengeluaran setelah menikah—terutama ketika sudah memiliki anak—cenderung meningkat.
Selain itu, pernikahan yang sehat dinilai dapat mendorong perkembangan pribadi, membantu pasangan belajar berkompromi, dan menghadapi tantangan bersama. Dalam perspektif agama, Farraas menyebut pernikahan juga memiliki makna mendalam; dalam Islam, misalnya, pernikahan dipandang sebagai ibadah terbesar.