JAKARTA — Tren “velocity” ramai digandrungi warganet dalam sebulan terakhir. Meski kerap disebut sebagai tren generasi Z, praktiknya diikuti lintas usia dan meluas ke berbagai platform media sosial setelah sebelumnya populer di TikTok.
Sejumlah kreator konten memanfaatkan tren ini untuk membuat video dengan transisi gerakan yang tampak lebih dinamis. Efek perubahan kecepatan membuat visual terlihat dramatis dan sinematik, sehingga kerap digunakan untuk video tarian, transisi, atau menyoroti momen tertentu.
Tren tersebut juga terlihat diikuti kalangan figur publik. Presiden Prabowo Subianto diketahui sempat belajar gerakan velocity setelah diajak awak media saat open house Idulfitri beberapa waktu lalu. Menteri Keuangan Sri Mulyani juga disebut ikut melakukan joget velocity saat Lebaran bersama keluarga besar di Semarang.
Istilah “velocity” berasal dari bahasa Inggris yang berarti “kecepatan”. Dalam konteks TikTok, velocity merujuk pada teknik penyuntingan video dengan memanfaatkan efek bawaan aplikasi bernama Velocity untuk mengatur cepat-lambatnya cuplikan. Durasi video velocity di TikTok beragam, namun umumnya berkisar 10–14 detik. Pengaturan gerakan dan pemilihan lagu menjadi elemen penting dalam tren ini.
Sebelum velocity, TikTok kerap melahirkan tren kreatif lain yang juga diikuti luas, mulai dari dance challenge, video tutorial, hingga tren seperti “we listen, we don't judge” dan “Aku Bisa Yura”. Dalam periode Ramadan hingga Lebaran, tren velocity bahkan sering muncul dalam momen buka bersama maupun silaturahmi.
Menurut sejumlah sumber, tren ini awalnya digandrungi pengguna media sosial di Indonesia, lalu belakangan turut diikuti sejumlah idol Korea Selatan. Popularitas idol Korea Selatan di Indonesia turut membuat tren velocity semakin meluas.
Dosen Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Fadjri Kirana Anggrani, SPsi MA, menjelaskan kecenderungan mengikuti tren viral dikenal sebagai Bandwagon Effect. Fenomena psikologi ini menggambarkan kondisi ketika seseorang terdorong mengikuti tren—mulai dari gaya hidup, perilaku, cara berpakaian, cara berbicara, hingga konten media sosial—karena pengaruh orang lain atau kelompok.
“Bandwagon Effect merupakan salah satu bentuk bias kognitif karena adanya pengaruh dari orang lain maupun kelompok,” kata Fadjri, dikutip dari laman resmi kampus.
Fadjri menyebut tren yang viral biasanya terjadi di media sosial seperti TikTok karena memiliki paparan (exposure) tinggi. Paparan ini dapat memunculkan rasa penasaran dan mendorong orang untuk ikut mencoba, sehingga perilaku ikut-ikutan menjadi semakin kuat.
Ia menguraikan beberapa faktor yang membuat paparan tinggi memengaruhi keputusan seseorang mengikuti tren. Pertama, konformitas, yakni dorongan untuk menyesuaikan diri dengan sosok atau kelompok yang tampil dalam paparan tersebut. Kedua, pengaruh interpersonal, ketika seseorang mengikuti tren karena bujukan orang terdekat meski tren itu muncul dari media sosial. Ketiga, fear of missing out (FOMO) atau rasa takut ketinggalan jika tidak ikut hal yang sedang ramai. Keempat, curiosity atau rasa penasaran yang muncul karena tren terus terlihat di linimasa.
Fadjri mengingatkan masyarakat agar bijak menyikapi tren yang sedang viral. Mengikuti tren, menurutnya, sah-sah saja, namun perlu dipertimbangkan secara matang terkait kebutuhan serta dampaknya bagi diri sendiri. Dengan begitu, keputusan yang diambil didasarkan pada rasionalitas, bukan semata dorongan ikut-ikutan.

