Tren gaya hidup sehat kian digemari masyarakat perkotaan, termasuk di Surabaya. Melihat kebutuhan tersebut, pelaku UMKM kreatif Okgi Tiara merintis usaha kuliner sehat bernama Dapur Ning Wati yang menawarkan makanan praktis untuk konsumen urban.
Kisah usaha ini disampaikan Tiara dalam sesi dialog interaktif program Obrolan UMKM Pro 4 RRI Surabaya edisi Sabtu, 27 Juni 2026. Ia menjelaskan, Dapur Ning Wati mulai dibangun sejak Oktober 2025, berangkat dari pengamatan terhadap permintaan hidangan yang tidak hanya lezat, tetapi juga bergizi.
Dapur Ning Wati menyediakan beragam menu, mulai dari sandwich, salad, hingga kuliner khas Asia modern seperti vietnam rice paper roll. Tiara menekankan, salah satu pembeda utama produknya dibandingkan yang lain adalah komitmen pada kualitas dan kesegaran bahan baku.
Menurut Tiara, seluruh olahan Dapur Ning Wati tidak menggunakan daging ayam beku atau frozen food. Ia mengolah ayam pada hari yang sama setelah dibeli untuk menjaga cita rasa dan nilai gizi. “Keistimewaan produk kami terletak pada kesegarannya. Saya tidak menggunakan ayam frozen. Begitu dibeli langsung dari pasar, daging ayam tersebut langsung saya olah hari itu juga untuk menjaga cita rasa dan nilai gizinya tetap optimal,” ujarnya saat mengudara di Pro 4 RRI Surabaya.
Untuk menjangkau pelanggan, Tiara aktif berjualan secara luring melalui stan di dua lokasi di Surabaya. Setiap Senin hingga Sabtu, Dapur Ning Wati melayani pembeli di kawasan GOR 10 November pada pukul 06.00–09.00 WIB. Sementara pada hari Minggu, stan dapat ditemui di area Car Free Day (CFD) Taman Bungkul.
Seiring waktu, segmen konsumennya juga berkembang. Jika awalnya menyasar pekerja kantoran dan pencinta olahraga, belakangan Tiara melihat munculnya pasar baru dari kalangan lebih muda. “Market usaha saya awalnya pekerja yang suka makanan sehat yang praktis dan olahragawan. Tapi akhir-akhir ini saya mendapatkan target market baru, yaitu konsumen anak SD karena mereka mulai sadar pentingnya konsumsi makanan sehat,” katanya.
Menu yang ditawarkan Dapur Ning Wati dibanderol pada kisaran Rp15.000 hingga Rp20.000 per porsi. Tiara menyebut penyesuaian harga bergantung pada jenis roti atau variasi menu yang dipilih konsumen.

