BERITA TERKINI
TP PKK Dorong Kelor NTT Jadi Komoditas Unggulan Bernilai Gizi dan Ekonomi

TP PKK Dorong Kelor NTT Jadi Komoditas Unggulan Bernilai Gizi dan Ekonomi

Staf Ahli Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Bidang Penguatan Ketahanan Pangan Keluarga, Yane Ardian Bima Arya, menyatakan dukungannya agar kelor asal Nusa Tenggara Timur (NTT) dikembangkan sebagai komoditas unggulan yang bernilai gizi tinggi sekaligus mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan Yane saat memberikan sambutan pada Pelatihan Pengolahan Pangan Berbasis Kelor dalam Mendukung Gerakan Keluarga Cerdas Gizi di Gedung Wanita Betelalenok, Kabupaten Belu, NTT, Kamis (25/6/2026).

Ia mengajak peserta pelatihan untuk terus mendorong pemanfaatan kelor sebagai salah satu komoditas unggulan NTT, sekaligus berkontribusi dalam upaya mewujudkan keluarga yang sehat, kuat, dan bebas stunting melalui konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman.

Yane menjelaskan, kelor NTT dinilai memiliki kandungan gizi yang lebih padat dibandingkan kelor dari daerah lain karena tumbuh di wilayah bertanah kering dan beriklim ekstrem. Karena itu, TP PKK Pusat memberikan pelatihan kepada para ibu agar pemanfaatan kelor dapat dioptimalkan.

Menurutnya, kelor juga mudah dibudidayakan di NTT serta mengandung vitamin, mineral, dan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan. Namun, ia mengingatkan bahwa kelor bukan satu-satunya sumber gizi. Konsumsi kelor tetap perlu diimbangi dengan protein hewani seperti ikan, telur, dan susu.

Yane menilai protein hewani penting karena mengandung asam amino esensial, zat besi, seng, dan vitamin B12 yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Ia menambahkan, pelatihan ini tidak hanya membahas budidaya dan pengolahan kelor menjadi produk bernilai tambah, tetapi juga memperkuat pemahaman tentang pentingnya gizi seimbang bagi keluarga.

Ia menilai kelor NTT berpotensi memperkuat ketahanan pangan keluarga, meningkatkan kualitas gizi masyarakat, sekaligus menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi. Potensi tersebut, kata dia, perlu didukung melalui budidaya yang berkelanjutan dan pengolahan menjadi berbagai produk bernilai tambah.

Yane berharap pelatihan dapat berjalan lancar, memberi manfaat bagi peserta, serta menjadi langkah nyata dalam pengembangan potensi kelor di Nusa Tenggara Timur.