Rasa takut merupakan respons alami yang berperan penting dalam melindungi manusia dan hewan dari bahaya. Namun, dalam kondisi tertentu, reaksi ini bisa muncul berlebihan meski tidak ada ancaman nyata. Penelitian terbaru pada tikus kini memberi gambaran baru tentang bagaimana otak mengatur rasa takut sekaligus mempelajari cara menekannya.
Penelitian yang melibatkan tim ilmuwan ini berfokus pada upaya memahami bagaimana otak dapat belajar mengendalikan respons takut. Sara Mederos, ahli saraf dari Sainsbury Wellcome Center, University College London, menjelaskan bahwa studi tersebut bertujuan menelusuri mekanisme otak ketika proses penekanan rasa takut terjadi.
Para peneliti menganalisis aktivitas di ventrolateral geniculate nucleus (vLGN), bagian otak yang memproses informasi visual untuk mendukung respons pertahanan yang cepat. Hasilnya menunjukkan tikus yang semula panik saat melihat bayangan melintas di atasnya dapat belajar mengabaikan stimulus tersebut setelah berulang kali menyadari situasinya aman.
Dalam laporan studi, para peneliti menuliskan bahwa hewan mampu menyesuaikan perilaku dan menekan reaksi naluriah, tetapi jalur saraf yang mengatur proses pembelajaran itu sebelumnya belum sepenuhnya dipahami.
Untuk mengurai peran sirkuit saraf terkait, ilmuwan menggunakan optogenetika, yakni teknik yang memungkinkan neuron tertentu diaktifkan atau dinonaktifkan dengan cahaya. Melalui pendekatan ini, mereka menemukan bahwa ketika sesuatu yang semula dianggap ancaman ternyata tidak berbahaya, korteks visual—bagian otak yang memproses penglihatan—mulai melepaskan kendali terhadap respons takut.
Temuan tersebut menggambarkan bagaimana otak dapat memblokir reaksi refleks setelah mempelajari bahwa ancaman tidak nyata. Para peneliti menilai pemahaman ini berpotensi membantu pengembangan penanganan gangguan kecemasan, yang disebut memengaruhi lebih dari 40 juta orang dewasa di Amerika Serikat.
Studi itu juga menyoroti peran korteks visual pada tahap awal pembelajaran. Pada fase ini, korteks visual penting untuk menafsirkan ancaman. Tikus yang tidak dapat menggunakan bagian otak tersebut tetap melarikan diri dari bayangan yang muncul, meski kondisi sebenarnya aman.
Namun setelah tikus memahami bahwa bayangan itu tidak berbahaya, mereka tidak lagi bergantung pada korteks visual. Sebagai gantinya, vLGN disebut mengambil alih dan menyimpan respons yang lebih tenang. Penelitian juga mencatat adanya sinyal endokannabinoid di vLGN yang membantu menyesuaikan komunikasi antar-neuron, sehingga otak dapat mengubah reaksi panik menjadi lebih terkendali.
Felicity Nelson, jurnalis sains, menilai riset tersebut memberi pemahaman berharga mengenai cara otak mengendalikan rasa takut. Meski demikian, para ilmuwan menekankan masih diperlukan penelitian lebih lanjut sebelum temuan ini dapat diterapkan pada manusia, termasuk untuk mendukung terapi gangguan kecemasan dan PTSD (post-traumatic stress disorder).
Ke depan, para peneliti disebut tengah mengembangkan metode seperti ultrasound terfokus untuk menstimulasi atau menekan aktivitas otak tanpa operasi. Mederos menyatakan, apabila efek serupa dapat dicapai pada manusia, hal itu dapat menjadi langkah awal menuju pengembangan terapi klinis untuk menekan respons ketakutan yang berlebihan.
Penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Science.