Tren sleepmaxxing tengah ramai dibicarakan di media sosial. Beragam cara dilakukan demi mengejar tidur yang dianggap “sempurna”, mulai dari membuat kamar lebih gelap, menyusun rutinitas sebelum tidur, hingga memakai perangkat pelacak tidur. Namun, tidak semua trik yang viral memiliki dasar bukti ilmiah yang kuat.
Istilah sleepmaxxing merujuk pada upaya “memaksimalkan” kualitas tidur melalui kebiasaan tertentu dan pengaturan lingkungan sebelum tidur. Sebagian sarannya sejalan dengan prinsip sleep hygiene yang sudah lama direkomendasikan, tetapi ada pula praktik yang popularitasnya lebih didorong tren ketimbang dukungan riset yang memadai.
Sejumlah langkah yang kerap dikaitkan dengan sleepmaxxing dinilai masuk akal karena beririsan dengan kebiasaan dasar untuk tidur lebih baik. Di antaranya menjaga jadwal tidur yang konsisten, mengurangi paparan cahaya pada malam hari, membatasi konsumsi kafein, serta memastikan kamar tidur tenang dan sejuk. Kebiasaan-kebiasaan ini kerap ditekankan dokter tidur sebagai fondasi penting dalam memperbaiki kualitas istirahat.
Karena itu, upaya meningkatkan kualitas tidur tidak selalu menuntut pembelian banyak gawai atau menjalani ritual panjang. Perubahan sederhana pada rutinitas dan lingkungan tidur dapat menjadi langkah awal yang relevan.
Di sisi lain, penggunaan sleep tracker seperti jam pintar dan aplikasi kesehatan juga menjadi bagian dari tren ini. Perangkat tersebut dapat membantu pengguna melihat pola tidur, tetapi data dari perangkat konsumen tidak selalu setara akurasinya dengan pemeriksaan tidur klinis. Selain itu, Harvard Health mengingatkan bahwa terlalu berfokus mengejar angka tidur yang “sempurna” berpotensi memicu kecemasan, bahkan ketika kualitas tidur sebenarnya sudah cukup baik. Dalam konteks ini, data sebaiknya dipahami sebagai alat bantu, bukan target yang harus dicapai setiap malam.
Salah satu praktik sleepmaxxing yang banyak menuai perbincangan adalah mouth taping, yakni menempelkan selotip pada mulut saat tidur agar seseorang bernapas melalui hidung. Namun, bukti ilmiah terkait praktik ini masih terbatas. Tinjauan penelitian yang diterbitkan pada 2025 menyebutkan bahwa riset mengenai mouth taping masih sedikit dan hasilnya belum cukup kuat untuk mendukung berbagai klaim yang beredar di media sosial.
Para ahli juga mengingatkan bahwa menutup mulut bukan solusi untuk mendengkur atau gangguan tidur yang mendasarinya. Dalam kondisi tertentu, praktik tersebut justru dapat menimbulkan risiko, sehingga tidak disarankan dilakukan hanya karena mengikuti tren.
Lalu, apakah perlu ikut sleepmaxxing? Sejumlah kebiasaan yang aman dan masuk akal dapat dipertimbangkan, seperti membuat kamar lebih nyaman, mengurangi kafein menjelang malam, menjaga jadwal tidur, serta membatasi paparan cahaya sebelum tidur. Yang perlu dihindari adalah anggapan bahwa tidur harus selalu “sempurna” dan semakin banyak trik berarti semakin sehat.
Intinya, sleepmaxxing tidak harus berarti menjalankan semua metode yang sedang viral. Jika suatu kebiasaan membantu tidur lebih teratur dan nyaman tanpa menimbulkan risiko, kebiasaan itu dapat dipilih secara selektif. Sementara itu, untuk praktik yang belum memiliki bukti kuat—terutama yang berpotensi mengganggu pernapasan—lebih baik tidak dilakukan terburu-buru.
Jika masalah tidur terus berlanjut, sering mendengkur keras, atau tetap merasa tidak segar setelah tidur, persoalannya mungkin bukan sekadar kurangnya sleep hacks. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menemukan penyebab yang mendasari.