Oleh Denny JA
Suatu malam, di sebuah ruang rapat yang sunyi, dua pemimpin duduk berhadapan. Keduanya cerdas. Keduanya berpengalaman. Keduanya memimpin ribuan orang.
Namun mereka tidak saling percaya.
Satu berbicara dengan data.
Yang lain menjawab dengan nada defensif. Kalimat demi kalimat bukan lagi jembatan, tetapi tembok.
Di luar ruangan itu, organisasi mulai retak. Keputusan tertunda. Tim terpecah. Energi habis bukan untuk bekerja, tetapi untuk saling curiga.
Lalu suatu hari, dalam kelelahan yang jujur, salah satu dari mereka berkata pelan, “Saya mungkin salah. Maafkan saya.”
Ruangan itu berubah. Bukan karena strategi baru, tetapi karena satu kata yang membuka pintu yang lama terkunci.
Sejak saat itu, mereka mulai berbicara sebagai manusia.
Dan organisasi itu perlahan pulih.
Dari sana kita belajar satu hal sederhana. Yang menyelamatkan sebuah bangsa atau perusahaan sering kali bukan kebijakan besar, melainkan hubungan yang dipulihkan.
Karena pada akhirnya, setiap sistem berdiri di atas fondasi yang tak terlihat. Kepercayaan. Trust. Hubungan personal yang hangat.
-000-
Tahun 1948, Indonesia belum benar-benar tenang. Kemerdekaan baru saja diproklamasikan, tetapi konflik justru tumbuh di dalam.
Elite politik saling berseberangan.
Perbedaan ideologi tidak lagi menjadi diskusi, tetapi menjadi jurang.
Presiden Soekarno menghadapi kenyataan pahit. Bangsa ini bisa runtuh bukan karena penjajah, tetapi karena sesama anak bangsa tidak lagi saling percaya.
Apalagi terjadi pemberontakan Madiun 1948. Ini adalah konflik berdarah saat kelompok komunis mencoba merebut kekuasaan dari Republik Indonesia, memicu krisis nasional, perpecahan elite, dan ancaman serius terhadap stabilitas negara muda.
Di tengah kebuntuan itu, seorang ulama, KH Wahab Chasbullah, datang dengan gagasan sederhana namun jernih.
Bukan rapat. Bukan debat.
Tetapi pertemuan untuk saling memaafkan.
Ia menyebutnya halal bihalal.
Sebuah ruang di mana ego ditanggalkan.Di mana orang tidak datang untuk menang, tetapi untuk berdamai.
Para pemimpin berkumpul. Mereka berjabat tangan. Mereka saling memaafkan.
Dan sesuatu yang tak terlihat terjadi.
Ketegangan mereda. Dialog kembali mungkin.
Dari situlah lahir tradisi yang terus hidup hingga hari ini.
Halal bihalal bukan sekadar budaya.
Ia adalah teknologi sosial yang halus namun menentukan.
Ia bekerja tanpa regulasi, tanpa paksaan. Namun mampu meredakan konflik yang tidak bisa diselesaikan oleh pertemuan formal semata.
Keakraban bukan pelengkap kepemimpinan. Ia adalah fondasi dari setiap keputusan yang ingin bertahan.
-000-
Pelajaran itu tidak berhenti pada negara. Ia hidup di dunia korporasi.
Di Fremont, California, berdiri sebuah pabrik milik General Motors. Pabrik itu besar, mempekerjakan ribuan orang, dan memproduksi ratusan ribu mobil setiap tahun.
Namun di balik angka itu, ada keretakan yang dalam.
Manajemen tidak percaya pekerja.
Pekerja tidak percaya manajemen.
Konflik menjadi budaya. Absensi tinggi. Bahkan sabotase terjadi.
Tahun 1982, pabrik itu ditutup.
Bukan karena mesin rusak, tetapi karena hubungan manusia runtuh.
Dua tahun kemudian, pabrik yang sama dibuka kembali melalui kerja sama dengan Toyota. Namanya berubah menjadi NUMMI.
Yang berubah bukan gedungnya.
Bukan pula sebagian besar pekerjanya.
Namun hasilnya berbeda total.
Produktivitas melonjak. Kualitas meningkat drastis.
Apa yang berubah?
Bukan teknologi.
Tetapi relasi.
Toyota membawa budaya baru.
Pekerja dihormati. Kesalahan tidak dihukum, tetapi dipelajari. Setiap orang punya suara.
Kepercayaan menjadi sistem kerja.
Riset Harvard Business School mencatat transformasi ini sebagai salah satu studi paling penting dalam manajemen modern.
Kesimpulannya sederhana.
Pekerja yang sama, pabrik yang sama, hasil yang berbeda.
Yang berubah hanya satu hal.
Cara manusia memperlakukan manusia.
Di situlah rahasia yang sering diabaikan. Perusahaan hebat bukan hanya dibangun oleh strategi terbaik, tetapi oleh relasi yang sehat.
-000-
Dalam Bowling Alone, Robert Putnam menulis dengan nada yang hampir seperti elegi. Ia menggambarkan masyarakat modern yang semakin terhubung secara teknologi, tetapi semakin terputus secara sosial.
Orang-orang tetap bekerja, tetap beraktivitas, tetapi melakukannya sendiri. Komunitas masih ada, tetapi kehilangan jiwa kebersamaannya.
Putnam menyebutnya sebagai menurunnya social capital.
Ia bukan uang.
Ia bukan aset fisik.
Ia adalah kepercayaan, jaringan, dan norma yang membuat orang mau bekerja sama.
Ketika social capital melemah, banyak hal ikut runtuh. Kualitas demokrasi menurun. Kesehatan masyarakat memburuk. Ekonomi melambat.
Sebaliknya, ketika social capital kuat, masyarakat menjadi lebih aman, lebih sehat, dan lebih produktif.
Di titik ini, kita memahami sesuatu yang sunyi namun menentukan. Hubungan manusia bukan sekadar aspek sosial. Ia adalah infrastruktur peradaban.
Tanpanya, stabilitas hanyalah ilusi.
-000-
Dalam The Toyota Way, Jeffrey Liker mengungkap hal yang sering disalahpahami. Keunggulan Toyota bukan semata pada teknologi atau efisiensi produksi.
Intinya lebih sederhana dan lebih manusiawi.
Toyota membangun sistem yang berakar pada rasa hormat terhadap manusia. Setiap pekerja dianggap mitra. Setiap masalah adalah peluang belajar.
Simbolnya adalah andon cord.
Setiap pekerja boleh menghentikan lini produksi jika menemukan masalah.
Dalam banyak organisasi, ini dianggap ancaman.
Di Toyota, ini adalah bentuk kepercayaan.
Kepercayaan menciptakan rasa aman. Orang berani mengakui kesalahan. Orang berani memperbaiki.
Dari sana lahir kualitas.
Dari sana lahir inovasi.
Keunggulan operasional ternyata bukan titik awal. Ia adalah hasil dari relasi yang sehat.
-000-
Sejak lama, agama dan peradaban telah memahami kebenaran ini.
Dalam Al-Qur’an, manusia diperintahkan menjaga silaturahmi.
Dalam Injil, tertulis untuk mengasihi sesama.Dalam ajaran Buddha, harmoni sosial menjadi jalan menuju keseimbangan.
Semua tradisi besar berbicara tentang hal yang sama.
Bahwa manusia tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Bahwa hubungan adalah jalan menuju keselamatan.
Halal bihalal, dalam konteks ini, adalah bentuk lokal dari kebijaksanaan universal.
Ia mengingatkan kita bahwa memaafkan bukan hanya tindakan moral. Ia adalah investasi sosial.
-000-
Kita hidup di zaman yang membangun kecerdasan buatan, tetapi sering melupakan kepercayaan manusia.
Kita menciptakan sistem yang semakin canggih, tetapi hubungan yang semakin rapuh.
Di era digital, kita mudah terhubung tetapi mudah curiga.
Kepercayaan menjadi tipis di balik layar.
Di sinilah tantangan kita.
Social capital hadir dalam dua wajah. Bonding yang menguatkan ke dalam. Bridging yang menjembatani ke luar.
Halal bihalal bekerja ketika keduanya seimbang.
Karena pada akhirnya, masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih sistem yang kita bangun, tetapi oleh seberapa kuat kita menjaga satu hal yang paling sederhana dan paling rapuh. Kepercayaan. Trust. Kehangatan hubungan personal.
Peradaban tidak runtuh hanya ketika kita kehabisan sumber daya. Ia runtuh ketika kita kehabisan kepercayaan.
-000-
Di dunia energi, kepercayaan itu hadir di sumur, rig, kantor, dan rapat-rapat kecil. Di sana keselamatan, produksi, dan integritas ditentukan bukan hanya oleh keahlian, tetapi oleh kehangatan hubungan personal.
Mesin dan teknologi adalah raga. Tapi yang benar-benar menghidupkan semuanya adalah kepercayaan. Kehangatan hubungan personal.
Namun kepercayaan bukan berarti tanpa batas. Ia bukan sekadar rasa percaya, tetapi juga keberanian untuk saling mengingatkan.
Tanpa kontrol, kepercayaan bisa berubah menjadi kelengahan.
Tanpa check and balance, niat baik pun bisa menyimpang.
Karena itu, kepercayaan yang sehat selalu berjalan bersama tanggung jawab. Kita saling percaya, tapi juga saling menjaga. Saling mendukung, tapi juga saling mengoreksi.
Di situlah kekuatan sesungguhnya lahir. Bukan dari sistem yang sempurna, tetapi dari manusia yang berani jujur satu sama lain.
Karena pada akhirnya, kepercayaan yang kuat bukan yang tanpa pengawasan, melainkan yang tumbuh dalam keseimbangan antara saling percaya dan saling menjaga.***
Jakarta, 8 April 2026
(Perluasan sambutan Denny JA sebagai Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi dalam acara doa bersama dan tasyakuran setelah lebaran di lingkungan PHE dan grup)
-000-
REFERENSI
1. Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community, Robert D. Putnam, Simon and Schuster, 2000
2. The Toyota Way, Jeffrey K. Liker, McGraw Hill, 2004
Rubrik Khusus
HALAL BIHALAL, SOCIAL CAPITAL, DARI NEGARA HINGGA KORPORASI
08 Apr 2026
-
Sumber Foto: DennyJAWorld

