Oleh Penerbit CBI
Perahu kayu itu terlalu kecil untuk menampung harapan. Di tengah Laut Cina Selatan, Nguyen memeluk putrinya yang mulai kehausan.
Sementara istrinya menatap cakrawala tanpa tahu apakah matahari berikutnya akan menjadi awal kehidupan baru atau akhir segalanya. Ketika ombak menelan nama demi nama, dunia hanya menghitung angka korban.
Sastra, apalagi puisi esai, melakukan sesuatu yang berbeda. Ia memanggil kembali wajah mereka, air mata mereka, dan harapan terakhir yang tenggelam bersama laut.
Kisah inilah yang menjadi salah satu denyut terdalam buku karya Denny JA: Yang Menggigil dalam Arus Sejarah.
-000-
Lima belas puisi esai dalam buku ini mengajak pembaca melintasi Perang Dunia Pertama, Flu Spanyol, Revolusi Rusia, Hiroshima, Nanking, Revolusi Prancis, Bastille, perbudakan di Amerika, Holocaust, Ghetto Warsawa, kelaparan di bawah Mao Zedong, Revolusi Kebudayaan Tiongkok, hingga tragedi pengungsi Vietnam.
Bukan sejarah para penguasa, melainkan sejarah manusia biasa yang ikut hancur oleh pusaran zaman.
Ada banyak buku sejarah yang mengajarkan apa yang terjadi. Namun sangat sedikit buku yang membuat pembacanya merasakan bagaimana rasanya hidup di dalam peristiwa itu.
Di situlah letak kekuatan Yang Menggigil dalam Arus Sejarah. Buku ini tidak hanya menyajikan fakta. Ia mengubah fakta menjadi pengalaman batin.
Catatan kaki menjaga akurasi sejarah, sementara puisi menghidupkan jiwa para korbannya.
Sejarah tidak lagi hadir sebagai kronologi kemenangan dan kekalahan, melainkan sebagai kesaksian tentang harga kemanusiaan yang harus dibayar oleh mereka yang tidak pernah memilih perang.
Selama berabad-abad, sejarah lebih banyak ditulis dari sudut pandang para pemenang. Nama para jenderal memenuhi buku pelajaran. Nama para raja memenuhi monumen.
Tetapi di mana nama seorang ibu yang kehilangan anaknya akibat bom Hiroshima? Di mana nama seorang bocah Yahudi yang tidak pernah kembali dari Auschwitz? Di mana nama seorang gadis Vietnam yang karam beberapa mil sebelum pantai harapan?
Buku ini mencoba mengisi ruang kosong itu. Ia mengembalikan sejarah kepada pemiliknya yang sesungguhnya, manusia.
-000-
Momentum penting datang ketika Denny JA menerima BRICS Award 2025 untuk Inovasi Sastra. Dalam forum penghargaan itu, muncul gagasan agar karya puisi esainya diterjemahkan setidaknya ke bahasa negara-negara anggota BRICS.
Dari gagasan tersebut lahirlah langkah yang jauh lebih besar. Penerbit CBI bersama berbagai mitra memutuskan menerjemahkan satu buku pilihan ke dalam tiga puluh lima bahasa, menjangkau lima benua.
Keberhasilan ini tidak luput dari kritik, mengingat format puisi esai yang menggabungkan catatan kaki faktual dengan imajinasi puitis sering kali memicu perdebatan epistemologis di kalangan akademisi.
Namun, justru dalam tegangan kreatif itulah buku ini menemukan keunikannya. Ia menolak menjadi sekadar dokumentasi yang dingin sekaligus enggan menjadi fiksi yang kehilangan jangkar realitasnya.
Ia menciptakan hibriditas genre baru yang memprovokasi cara kita mengonsumsi sejarah.
Mengapa yang dipilih justru Yang Menggigil dalam Arus Sejarah?
Karena dari delapan buku puisi esai Denny JA yang telah tersedia dalam bahasa Inggris, buku inilah yang memiliki tema paling universal.
Ia tidak berbicara tentang satu bangsa, satu agama, atau satu ideologi. Ia berbicara tentang penderitaan manusia sebagai pengalaman bersama umat manusia.
Tangisan seorang ibu di Hiroshima dapat dipahami di Brasil. Ketakutan seorang anak Yahudi dapat dirasakan di Mesir. Harapan seorang pengungsi Vietnam dapat dimengerti di Afrika Selatan.
Inilah buku yang paling mudah melintasi batas bahasa karena bahasa utamanya adalah kemanusiaan.
-000-
Penerbit CBI telah lama percaya bahwa sastra memiliki tugas yang berbeda dari sejarah. Sejarah mengingatkan. Sastra membuat kita tidak sanggup melupakan.
Ketika pertama kali membaca kembali kisah keluarga Nguyen dalam puisi Melawan Ombak atau Mati?, penerbit CBI berhenti cukup lama pada adegan ketika seorang ayah berkata kepada putrinya agar memejamkan mata dan membayangkan negeri yang ramah.
Kalimat itu sederhana. Namun justru karena kesederhanaannya, ia terasa begitu menghancurkan. Seorang ayah tidak lagi mampu menjanjikan keselamatan. Ia hanya mampu menjaga agar harapan anaknya tidak mati lebih dahulu daripada tubuhnya.
Kami menyadari bahwa hampir setiap tragedi besar selalu meninggalkan statistik yang menggetarkan, tetapi statistik tidak pernah mampu membuat kita menangis.
Empat ratus ribu pengungsi Vietnam yang hilang di laut adalah angka yang luar biasa besar. Namun satu anak kecil bernama Mai yang bertanya kepada ayahnya, “Apakah kita akan mati?”, jauh lebih sulit dilupakan daripada seluruh angka itu.
Barangkali memang demikianlah cara sastra bekerja. Ia mengecilkan skala agar memperbesar empati.
Ia mengubah jutaan korban menjadi satu wajah yang terus menghantui ingatan kita.
Dan ketika pembaca menutup buku ini, yang tersisa bukan lagi data sejarah, melainkan perasaan bahwa manusia sesungguhnya terlalu sering saling melukai hanya karena berbeda bendera, berbeda keyakinan, atau berbeda ideologi.
Perlu kami akui secara terbuka: esai ini ditulis oleh penerbit yang juga menerbitkan buku tersebut. Posisi ini tidak kami sembunyikan.
Justru dari posisi inilah kami merasa bertanggung jawab untuk tidak sekadar memuji, melainkan menempatkan buku ini dalam percakapan sastra dunia yang lebih besar, dengan segala risiko, keterbatasan, dan pertanyaan moral yang menyertainya.
-000-
Di tengah perjalanan buku ini menuju tiga puluh lima bahasa, saya semakin yakin bahwa penerjemahan bukan sekadar pekerjaan linguistik. Penerjemahan adalah pekerjaan peradaban.
Sebuah buku yang hanya hidup dalam satu bahasa akan memiliki pembaca yang terbatas. Tetapi sebuah buku yang hidup dalam puluhan bahasa memperoleh kehidupan baru setiap kali dibaca oleh kebudayaan yang berbeda.
Ketika seorang pembaca Rusia membaca kisah Hiroshima, ia sedang belajar merasakan penderitaan bangsa lain.
Ketika seorang pembaca Arab membaca tragedi Holocaust, ia sedang belajar melihat luka yang mungkin tidak diwariskan oleh sejarah bangsanya.
Ketika seorang pembaca Amerika Latin membaca kisah boat people Vietnam, ia sedang menemukan bahwa rasa takut kehilangan rumah ternyata memiliki bahasa yang sama di seluruh dunia.
Di titik itulah sastra berubah menjadi diplomasi kemanusiaan.Ia tidak membawa tentara. Ia tidak membawa senjata. Ia hanya membawa kemampuan manusia untuk memahami penderitaan manusia lain.
Dan sering kali, kemampuan itulah yang paling langka di dunia modern.
-000-
Mengapa buku ini penting diterjemahkan ke dalam tiga puluh lima bahasa?
Pertama, karena penderitaan manusia tidak pernah memiliki kewarganegaraan.
Sejarah memang lahir di tempat tertentu, tetapi luka selalu melampaui batas negara. Hiroshima adalah tragedi Jepang, namun radiasinya menjadi peringatan bagi seluruh umat manusia.
Holocaust terjadi di Eropa, tetapi pertanyaan moral yang ditinggalkannya menjadi milik setiap generasi. Boat people Vietnam lahir dari perang di Asia Tenggara, tetapi air mata seorang anak yang kehilangan tanah air dapat dipahami oleh siapa pun, di mana pun.
Ketika buku ini diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa, yang berpindah bukan hanya kata-kata. Yang berpindah adalah kemampuan manusia untuk ikut merasakan penderitaan manusia lain.
Di zaman yang semakin terhubung secara digital tetapi sering terpecah secara emosional, empati justru menjadi bahasa internasional yang paling dibutuhkan.
Dalam Poetic Justice, Martha C. Nussbaum menunjukkan bahwa sastra melatih “imajinasi naratif”, kemampuan memasuki hidup orang lain tanpa merampas keunikan mereka.
Pembaca tidak lagi melihat korban sebagai angka, kategori, atau berita yang segera berlalu, melainkan sebagai manusia dengan ketakutan, kasih, dan harapan. Di situlah puisi esai memperoleh dasar teorinya.
Ia tidak menggantikan sejarah, tetapi memperdalam akibat moral sejarah di dalam batin pembaca. Ketika kisah Mai diterjemahkan ke banyak bahasa, yang diperluas bukan hanya jangkauan sebuah buku, melainkan lingkaran belas kasih manusia.
Sastra menjadi latihan agar peradaban tidak kehilangan hati ketika mengingat luka dunia yang paling sunyi dan paling mudah dilupakan.
-000-
Kedua, karena sastra mampu menjembatani jurang yang sering gagal dijembatani politik.
Diplomasi negara dibatasi kepentingan nasional. Sejarah sering diperdebatkan karena setiap bangsa memiliki versinya sendiri. Tetapi puisi bergerak ke wilayah yang lebih dalam.
Ia tidak bertanya siapa yang menang. Ia bertanya siapa yang menangis. Ia tidak sibuk membela ideologi. Ia sibuk menjaga kemanusiaan. Itulah sebabnya karya sastra besar mampu bertahan jauh lebih lama daripada manifesto politik.
Ketika buku ini dibaca dalam bahasa Rusia, Mandarin, Arab, Spanyol, Prancis, Inggris, dan puluhan bahasa lain, ia tidak sedang memperluas pengaruh seorang penulis. Ia sedang memperluas ruang percakapan tentang martabat manusia yang sering hilang di tengah pertarungan kekuasaan.
-000-
Ketiga, karena dunia memerlukan lebih banyak kisah yang menyatukan daripada narasi yang memecah.
Abad ke-21 ditandai oleh ledakan informasi. Ironisnya, semakin banyak informasi, semakin mudah manusia terperangkap dalam ruang gema yang hanya menguatkan keyakinannya sendiri.
Sastra bekerja dengan cara sebaliknya. Ia mengajak pembaca keluar dari dirinya sendiri dan tinggal sejenak di dalam kehidupan orang lain.
Ketika seseorang membaca kisah seorang ibu Yahudi, seorang petani Tiongkok, seorang tentara muda, atau seorang pengungsi Vietnam, ia sedang belajar bahwa penderitaan tidak mengenal agama, ras, ataupun ideologi. Kesadaran semacam inilah yang menjadi fondasi perdamaian yang lebih kokoh daripada sekadar kesepakatan politik.
-000-
Sejarah dunia memberikan banyak contoh bahwa karya sastra yang melintasi bahasa sering kali ikut mengubah peradaban.
William Shakespeare adalah salah satu penulis yang karyanya diterjemahkan ke lebih dari seratus bahasa.
Drama-dramanya terus dipentaskan di hampir seluruh dunia karena berbicara mengenai cinta, kekuasaan, pengkhianatan, ambisi, dan penyesalan. Tema-tema itu tidak pernah menjadi milik Inggris semata. Ia menjadi milik manusia.
Leo Tolstoy, terutama melalui War and Peace dan Anna Karenina, juga diterjemahkan ke puluhan bahkan ratusan bahasa.
Tolstoy menunjukkan bahwa novel besar mampu menjelaskan perang justru melalui kehidupan keluarga biasa. Sejarah menjadi hidup karena hadir melalui manusia, bukan sekadar peristiwa.
Antoine de Saint-Exupéry, melalui The Little Prince, bahkan menjadi salah satu penulis paling banyak diterjemahkan di dunia. Buku yang tampak sederhana itu telah hadir dalam lebih dari lima ratus bahasa dan dialek.
Keberhasilannya membuktikan bahwa semakin universal sebuah gagasan tentang manusia, semakin luas pula kemampuannya menembus batas budaya.
Ketiga contoh tersebut menunjukkan satu kenyataan penting. Bahasa boleh berbeda. Hati manusia tetap sama.
-000-
Tentu, ambisi ini tidak bebas dari keraguan. Menerjemahkan penderitaan ke tiga puluh lima bahasa berisiko mengubah luka menjadi komoditas, dan empati menjadi estetika yang nyaman dikonsumsi.
Puisi esai pun bukan bentuk yang sudah selesai. Ia masih diuji, masih diperdebatkan, masih mencari bentuk terbaiknya di antara jurnalisme, sejarah, dan sastra.
Justru karena itu proyek ini penting. Ia bukan monumen yang berdiri megah, melainkan percakapan yang sengaja dibuka. Setiap terjemahan adalah undangan untuk membantah, memperbaiki, atau memperdalam.
Sastra besar tidak lahir dari kepastian. Ia lahir dari keberanian untuk terus meragu di hadapan luka dunia.
Pada akhirnya, Yang Menggigil dalam Arus Sejarah bukan sekadar buku puisi esai.
Ia adalah undangan untuk memasuki ruang batin manusia yang selama ini hanya hadir sebagai catatan kaki sejarah. Ia mengingatkan bahwa peradaban tidak diukur hanya dari kemajuan teknologi, kekuatan ekonomi, atau kemenangan militer, melainkan dari kemampuan sebuah masyarakat untuk tetap mengingat mereka yang pernah dilupakan.
Itulah sebabnya perjalanan buku ini menuju tiga puluh lima bahasa bukan semata perjalanan sastra. Ia adalah perjalanan nurani yang melintasi lima benua, membawa satu pesan yang sama, bahwa setiap manusia berhak dikenang, apa pun bangsa, agama, atau sejarahnya.
Sejarah mengabadikan para pemenang, tetapi sastralah yang menyelamatkan jiwa mereka yang nyaris dihapus dari ingatan dunia.
Sejarah menyimpan memori bangsa.
Sastra, termasuk puisi esai, menyimpan memori nurani.***
Jakarta, 13 Mei 2026
REFERENSI
Buku Puisi Esai Denny JA yang akan diterjemahkan ke dalam 35 bahasa, edisi bahasa Inggrisnya dapat diakses di Google Book:
Shivering in History’s Current (2026), terjemahan dari Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025) — tragedi besar dunia dalam perspektif kemanusiaan.
Google Books: https://play.google.com/store/books/details/Shivering_in_History_s_Current_Fifteen_Dramas_of_W?id=g4PuEQAAQBAJ&hl=en_GB
Rubrik Khusus
BUKU PUISI ESAI DENNY JA DITERJEMAHKAN DALAM TIGA PULUH LIMA BAHASA
13 Jul 2026
-
Sumber Foto: DennyJAWorld

