Di tengah linimasa yang bergerak cepat, sebuah unggahan tentang label kerupuk justru menahan orang untuk berhenti sejenak.
Nama Yulius Iskandar, pria asal Bandung, mendadak ramai dibicarakan setelah ia memamerkan ratusan label kerupuk lawas yang dikumpulkannya lebih dari 20 tahun.
Yang biasanya dianggap sampah, pada dirinya berubah menjadi arsip. Potongan kertas kecil itu menjadi pintu masuk ke cerita kuliner Indonesia yang pelan-pelan memudar.
Unggahan di Threads dari akun @juliuzickboy memantik rasa ingin tahu. “Sebagian koleksi label kerupuk. Ada kalian yg ngoleksi juga?” tulisnya pada 2 Agustus.
Publik merespons bukan hanya karena unik. Banyak orang seperti menemukan kembali masa kecil, dapur rumah, dan warung langganan, lewat tipografi dan warna yang sederhana.
-000-
Isu yang Membuatnya Menjadi Tren
Ada sesuatu yang ganjil sekaligus mengharukan ketika benda remeh menjadi berita. Kerupuk adalah keseharian, tetapi labelnya jarang dipikirkan sebagai bagian dari sejarah.
Justru di situlah daya tariknya. Tren ini lahir dari pertanyaan: mengapa kita baru peduli ketika sesuatu hampir hilang?
Alasan pertama, nostalgia bekerja seperti magnet. Label kerupuk jadul menghadirkan ingatan kolektif tentang masa ketika kemasan tidak didominasi desain seragam dan warna mencolok.
Alasan kedua, kisahnya menentang logika konsumsi modern. Yulius menolak budaya “pakai buang” dengan menyimpan yang biasanya berakhir di tong sampah.
Alasan ketiga, ada rasa kagum pada ketekunan. Mengumpulkan sekitar 450 label selama puluhan tahun memperlihatkan disiplin yang jarang terlihat di era serba instan.
Tren ini juga dipicu oleh format media sosial yang menonjolkan visual. Label kerupuk adalah gambar, dan gambar mudah menyalakan percakapan lintas generasi.
-000-
Yulius dan Cara Baru Membaca Kemasan
Yulius tidak memulai dari ambisi besar. Ketertarikannya, dikutip dari Instagram @Ussfeeds pada 3 Agustus, bermula sejak kelas 3 SMP pada 1999.
Ia sudah terbiasa menyimpan benda-benda kecil: stiker, poster acara musik, flyer, pick gitar, majalah, kaset, hingga tag pakaian.
Kebiasaan itu membentuk cara pandang. Ia melihat benda sebagai penanda zaman, bukan semata barang.
Saat mulai memperhatikan kemasan kerupuk, ia menemukan karakter grafis yang berbeda dibanding kemasan modern. Ia menyukai kesederhanaan, nuansa vintage, dan warna yang tidak berlebihan.
Bagi Yulius, setiap gambar dan pilihan warna menyimpan cerita. Label adalah bahasa visual yang menghubungkan produsen, pasar, dan selera masyarakat pada masanya.
Koleksinya kini sekitar 450 label. Banyak berasal dari merek kerupuk khas Jawa Barat, dikumpulkan dari berbagai sumber, dan terus bertambah karena ia masih berburu.
Ia berencana mengabadikan koleksi itu menjadi buku untuk dipamerkan. Ia juga membuka kesempatan kontribusi publik melalui DM Instagramnya.
-000-
Label Kerupuk sebagai Arsip Budaya yang Tak Diakui
Di Indonesia, arsip sering dibayangkan sebagai dokumen negara, foto resmi, atau naskah tua. Padahal, arsip juga hidup dalam benda-benda pasar.
Label kerupuk memuat jejak estetika, cara berjualan, dan identitas daerah. Ia merekam bagaimana produsen kecil menegaskan diri di tengah persaingan.
Kerupuk sendiri bukan sekadar pelengkap makan. Ia hadir pada momen keluarga, hajatan, warung sekolah, hingga meja restoran.
Ketika labelnya berubah, kita sedang menyaksikan perubahan cara masyarakat memandang makanan. Dari lokal yang akrab, menuju standar industri yang lebih seragam.
Dalam kacamata kebudayaan, benda seperti label adalah “memori material”. Ia menyimpan cerita tanpa perlu banyak kata.
Riset tentang memori dan benda sehari-hari kerap menekankan bahwa artefak kecil dapat menjadi jangkar ingatan kolektif. Ia membantu masyarakat merawat kesinambungan identitas.
Di titik ini, hobi Yulius tampak seperti kerja kuratorial. Ia mengumpulkan bukan untuk menimbun, melainkan untuk menyelamatkan fragmen yang tercecer.
-000-
Keterkaitan dengan Isu Besar Indonesia
Fenomena ini bertaut dengan isu besar: pelestarian budaya di tengah modernisasi. Indonesia kaya ragam kuliner, tetapi dokumentasinya sering tertinggal.
Ketika pasar berubah cepat, banyak merek kecil menghilang. Bersamaan dengan itu, identitas visualnya lenyap, meninggalkan kekosongan dalam sejarah kuliner lokal.
Isu ini juga menyentuh ekonomi kreatif. Desain label adalah bagian dari kerja kreatif, meski sering tidak diakui sebagai karya yang layak disimpan.
Lebih jauh, ia berkaitan dengan literasi arsip. Kita terbiasa merawat yang dianggap “resmi”, tetapi abai pada keseharian yang justru membentuk pengalaman orang banyak.
Di saat yang sama, cerita ini menyentuh soal lingkungan. Budaya kemasan sekali pakai membuat kita sulit melihat nilai setelah fungsi selesai.
Tanpa menambah klaim, kita bisa membaca pesan moralnya. Ada ajakan halus untuk menilai ulang hubungan kita dengan barang, memori, dan sampah.
-000-
Mengapa Desain Jadul Terasa Lebih “Jujur”
Yulius menyebut label lama sederhana dan tidak terlalu banyak warna. Pernyataan itu memantik pertanyaan estetika yang lebih luas.
Desain kemasan modern sering mengejar perhatian dalam hitungan detik. Ia bersaing di rak, di layar, dan di iklan yang tak pernah tidur.
Label lawas bekerja dengan cara berbeda. Ia tidak selalu “berteriak”, tetapi mengundang orang mendekat, membaca, dan mengingat.
Kesederhanaan itu juga bisa dibaca sebagai keterbatasan teknologi cetak pada masanya. Namun, keterbatasan sering melahirkan karakter yang khas.
Di sinilah publik merasakan kehangatan. Bukan karena masa lalu selalu lebih baik, tetapi karena masa lalu menyimpan tekstur yang kini jarang ditemui.
Label menjadi semacam potret: bagaimana produsen daerah memadukan nama, gambar, dan warna untuk menegaskan kebanggaan pada produknya.
-000-
Riset yang Relevan untuk Membaca Fenomena Ini
Dalam kajian budaya material, benda sehari-hari dipahami sebagai pembawa makna sosial. Barang kecil dapat mengungkap pola hidup, selera, dan relasi ekonomi.
Kajian tentang nostalgia dalam psikologi juga menunjukkan bahwa nostalgia sering muncul saat orang menghadapi perubahan cepat. Ia menjadi mekanisme untuk mencari rasa stabil.
Di ranah pemasaran, penelitian tentang kemasan menegaskan bahwa kemasan bukan hanya pelindung produk. Ia adalah identitas merek, komunikasi nilai, dan penentu persepsi kualitas.
Jika ketiganya disatukan, label kerupuk menjadi simpul yang menarik. Ia berada di pertemuan antara memori, identitas, dan ekonomi.
Karena itu, koleksi Yulius dapat dibaca sebagai “data budaya”. Ia memperlihatkan bagaimana selera visual dan strategi dagang lokal berkembang dari waktu ke waktu.
Tanpa perlu membesar-besarkan, jelas ada nilai pengetahuan di sana. Apalagi ketika banyak arsip informal tidak pernah masuk museum atau perpustakaan.
-000-
Rujukan Kasus Serupa di Luar Negeri
Di banyak negara, benda kemasan lama juga menjadi objek koleksi. Orang mengarsipkan label makanan, poster iklan, hingga kemasan kaleng sebagai jejak budaya populer.
Fenomena kolektor ephemera, istilah untuk barang cetak sementara seperti label dan brosur, dikenal luas di komunitas arsip dan desain.
Di Jepang, misalnya, budaya mengoleksi kemasan dan desain lama kerap terkait dengan penghargaan pada detail visual dan sejarah merek lokal.
Di Amerika Serikat dan Eropa, label makanan dan iklan jadul sering dipamerkan dalam konteks sejarah desain grafis dan perkembangan konsumsi massal.
Kesamaannya dengan kisah Yulius ada pada satu hal. Benda yang awalnya tidak dimaksudkan untuk bertahan lama justru menjadi penanda zaman.
Perbedaannya, di Indonesia, kerja semacam ini lebih sering lahir dari inisiatif personal, bukan dari sistem arsip yang mapan untuk budaya populer.
-000-
Yang Sebenarnya Dipertaruhkan: Hilangnya Cerita Lokal
Kerupuk khas daerah bukan hanya soal rasa. Ia terkait bahan baku, jaringan pedagang, dan identitas kampung atau kota.
Ketika merek kecil berhenti berproduksi, yang hilang bukan hanya produk. Yang hilang juga cara sebuah komunitas menamai dirinya di pasar.
Label menjadi bukti bahwa pernah ada produsen, pernah ada selera, dan pernah ada kebanggaan yang dicetak di atas kertas sederhana.
Jika label-label itu lenyap, kita kehilangan petunjuk untuk menelusuri sejarah kuliner dari sisi yang jarang ditulis: sisi pedagang kecil dan industri rumahan.
Di sini, koleksi Yulius terasa seperti upaya menyelamatkan cerita yang tidak masuk buku pelajaran.
-000-
Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, publik bisa mengapresiasi tanpa menjadikannya sekadar tontonan sesaat. Jika ada label lawas, simpan dengan baik, catat asal-usulnya, lalu bagikan konteksnya.
Kedua, komunitas desain, kampus, dan pegiat arsip dapat membantu memberi kerangka. Misalnya, mendokumentasikan koleksi dengan tanggal, daerah, dan cerita produsen.
Ketiga, pelaku UMKM bisa melihat pelajaran dari masa lalu. Identitas visual yang kuat tidak selalu berarti ramai, tetapi jelas, konsisten, dan berakar pada cerita produk.
Keempat, ruang publik seperti perpustakaan komunitas dan galeri lokal dapat membuka pameran kecil. Bukan untuk memuja masa lalu, melainkan untuk membaca perubahan.
Kelima, media dapat menjaga nada pemberitaan tetap hormat. Hobi personal seperti ini layak diperlakukan sebagai pengetahuan, bukan semata keunikan yang cepat dilupakan.
-000-
Penutup
Koleksi label kerupuk Yulius Iskandar mengingatkan bahwa sejarah sering bersembunyi di tempat yang tidak kita duga.
Di tangan yang tekun, kertas kecil yang nyaris dibuang berubah menjadi cermin: tentang selera, ekonomi, dan identitas yang bergerak pelan di balik makan siang sederhana.
Barangkali kita tidak perlu menunggu sesuatu punah untuk menghargainya. Kita hanya perlu belajar melihat, lalu merawat, sebelum terlambat.
“Kita menjaga masa lalu bukan untuk tinggal di sana, tetapi agar kita tahu dari mana kita berangkat.”