KEDUNGWUNI, Kabupaten Pekalongan — Upaya pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan kecukupan makanan, tetapi juga kualitas gizi yang diterima anak selama masa pertumbuhan. Karena itu, pengetahuan keluarga dalam memilih bahan pangan hingga cara mengolahnya dinilai penting agar nutrisi tetap terjaga.
Kebutuhan penguatan pemahaman tersebut terlihat dalam pelatihan “Masak Sehat dan Benar” yang digelar di Gedung MWC NU Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Kamis (9/7). Kegiatan ini diikuti 100 ibu dan menjadi bagian dari rangkaian Aksi Bangun Sehat Bersama melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG).
Dalam pelatihan itu, peserta mendapatkan edukasi mengenai pengolahan makanan sehat, gizi seimbang, serta pentingnya pemenuhan nutrisi keluarga sebagai bagian dari pencegahan stunting. Sejak awal kegiatan, peserta juga mengikuti pre-test untuk memetakan pemahaman dasar terkait kebiasaan memasak sehari-hari.
Pertanyaan yang diajukan mencakup hal-hal sederhana, seperti urutan mencuci sayuran—apakah dicuci sebelum dipotong atau sebaliknya—serta pilihan teknik memasak seperti merebus dan mengukus. Dari pre-test, panitia menemukan masih banyak peserta yang belum memahami teknik dasar pengolahan makanan yang dapat membantu mempertahankan kandungan gizi.
Guru Kuliner SMK Negeri 1 Pekalongan, Zuhaidah Wati, mengatakan pre-test dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta sebelum materi diberikan. Menurutnya, banyak peserta kemudian menyadari ada kebiasaan yang selama ini keliru.
Zuhaidah menjelaskan, kesalahan kecil dalam mengolah bahan makanan dapat berdampak pada nutrisi yang diterima keluarga. Ia mencontohkan sayuran sebaiknya dicuci terlebih dahulu sebelum dipotong, agar vitamin yang larut dalam air tidak banyak hilang saat pencucian.
Selain itu, teknik memasak juga perlu diperhatikan. Sayuran bertekstur keras seperti wortel disarankan dimasukkan lebih dahulu dibandingkan sayuran yang lebih lunak. Jika menggunakan metode rebus, air sisa rebusan sebaiknya tidak langsung dibuang karena masih mengandung zat gizi yang larut selama proses memasak.
“Kalau dikukus, zat gizinya umumnya lebih banyak dipertahankan. Kalau direbus, air rebusannya juga sebaiknya ikut dikonsumsi,” kata Zuhaidah.
Pelatihan ini juga menekankan pentingnya pemahaman gizi seimbang sebagai langkah membangun kesadaran keluarga dalam pemenuhan nutrisi anak. Menurut Zuhaidah, ilmu gizi terus berkembang mengikuti penelitian sehingga masyarakat perlu terus memperbarui informasi dan tidak terpaku pada pengetahuan yang sudah berubah. Ia menyinggung salah satu anggapan yang masih berkembang, yakni kentang selalu aman sebagai pengganti nasi bagi penderita diabetes.

