BERITA TERKINI
Puskesmas Entikong: Pola Makan Tidak Sehat Disebut Picu 30 Persen Risiko Kanker

Puskesmas Entikong: Pola Makan Tidak Sehat Disebut Picu 30 Persen Risiko Kanker

ENTIKONG — Ancaman kanker dinilai tidak hanya berkaitan dengan faktor genetik, tetapi juga erat dipengaruhi kebiasaan hidup sehari-hari, terutama pola makan. Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Puskesmas Entikong, Mikael Kurniawan, menyampaikan bahwa kebiasaan makan yang buruk berkontribusi signifikan terhadap munculnya sel kanker dalam tubuh.

Menurut Mikael, penelitian kesehatan terkini menunjukkan sekitar 30 persen risiko kanker secara keseluruhan dipicu oleh pola makan yang tidak sehat. Ia menyoroti kebiasaan mengonsumsi makanan olahan secara berlebihan, kurangnya asupan serat dari sayur dan buah, serta tingginya konsumsi gula dan lemak trans yang dinilai dapat mengganggu metabolisme sel.

“Banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa apa yang mereka letakkan di piring hari ini adalah investasi kesehatan untuk masa depan. Pola makan rendah nutrisi dan tinggi pengawet secara perlahan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan sel kanker,” kata Mikael dalam program Indonesia Sehat, Jumat (23/01/2026).

Ia menjelaskan, beberapa jenis kanker memiliki keterkaitan kuat dengan pola makan tertentu. Salah satunya adalah kanker kolorektal atau kanker usus besar yang disebut berkaitan erat dengan rendahnya asupan serat. Karena itu, masyarakat di wilayah perbatasan, termasuk Entikong, diimbau lebih selektif memilih bahan pangan dan mengurangi ketergantungan pada makanan instan yang praktis, namun berisiko bagi kesehatan jangka panjang.

Selain kandungan gizi, Mikael juga menekankan pentingnya cara pengolahan makanan. Ia mengingatkan bahwa pembakaran pada suhu sangat tinggi atau penggunaan minyak goreng berulang kali dapat menghasilkan zat karsinogenik yang berpotensi memicu kerusakan DNA dan pembelahan sel yang tidak terkendali.

Untuk pencegahan, Puskesmas Entikong terus menggencarkan edukasi pola makan seimbang melalui program promosi kesehatan. Mikael mengajak warga kembali mengutamakan pangan lokal yang segar dan alami sebagai upaya menekan prevalensi penyakit tidak menular, khususnya kanker, di wilayah tersebut.